Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2779346
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
864
1464
2328
2712337
34282
45614
2779346
Your IP: 54.198.212.30
Server Time: 2018-10-15 10:42:42

Moehieb Mengkal @ 19 September 2016 pukul 2:05

Assalamu`alaikum syekh. mau bertanya nih? apakah ada perbedaan antara syetan dengan jin dan ap yg di maksud dengang jin dan syetan, mohon penjalasannya,terimakasih summasssalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Apakah yang dimaksud Syetan dan Jin dan apa pula perbedaan antara keduanya?”

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa Jin adalah jisim dari unsur api yang mampu menjelma. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “...dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al-Hijr 15:27). Al-Baidlawi mengungkapkan bahwa Jin adalah mahluk berakal yang tidak kasat mata dan didominasi unsur api atau unsur udara. Imam Abu Ali bin Sina menyatakan bahwa Jin adalah hewan yang mampu menjelma dalam beberapa wujud yang berbeda (dan seterusnya). Kalimat “syayatin” merupakan bentuk jama’ dari suku kata “syaitan” dari akar “syatana” yang berarti jauh dari kebajikan (sesat) atau dari tali panjang, seakan-akan jauh dalam keburukan. Ini menurut ilmuan yang menjadikan huruf “nun” sebagai huruf asal (bukan tambahan). Ada yang menyatakan “al-syaitan” dari akar “syaata, yasyiitu” yang berarti hancur dan terbakar. Ini menurut ilmuan yang menjadikan “nun” sebagai huruf tambahan (bukan asal). Imam al-Azhari mengklaim bahwa (definisi) yang pertama adalah yang mayoritas. Beliau juga menjelaskan bahwa secara umum Syetan adalah para pendurhaka dan pembangkang yang penuh dengan keburukan dan tipu daya, atau penarik kelaliman yang berujung kedurhakaan. Setiap pembangkang yang durhaka dari kalangan Jin, Manusia dan hewan adalah Syetan.

Imam Abu al-Fida’: Isma’il bin Amr bin Katsir di dalam kitabnya (Tafsir Ibnu Katsir) juga menjelaskan bahwa secara etimologi Arab “syetan” dari kata dasar “syatana” yang berarti jauh. Yaitu jauh dari tabiat kemanusiaan serta jauh dengan kejelekannya (fasiq) dari segala kebaikan. Sebagian menyatakan bahwa “syetan” dari akar “syaata”, karena tercipta dari unsur api. Sebagian ilmuan yang lain menyatakan keduanya benar, namun yang pertama lebih ashah (dan seterusnya). Ibnu Katsir juga mengutip pernyataan Imam Sibawih yang menyatakan bahwa kalangan Arab berkata “seseorang menjadi syetan (tasyaitana) ketika ia berprilaku seperti syetan. Dan jika dari akar “syaata”, maka mereka meredaksikannya dengan “tasyaita”. Syetan diadopsi dari kalimat yang berarti jauh dari kebenaran. Maka dari itu, setiap kedurhakaan dari golongan Jin, Manusia dan hewan mereka namakan Syetan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “...dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An’am: 112) Imam Abu Abdillah; Muhammad bin Amr bin al-Hasan bin al-Husain al-Razi di dalam kitabnya (Tafsir al-Razi) juga mengungkapkan bahwa Ulama’ berbeda pandangan tentang Jin. Sebagian menyatakan bahwa Jin adalah jenis selain Syetan. Pendapat ashah menyatakan bahwa Syetan adalah bagian dari Jin, yang mukmin tidak dinamakan Syetan dan yang kafir dinamai dengan nama ini (Syetan). Dalil keafsahan hal tersebut sesungguhnya kalimat “jin” dari akar kata yang berarti tertutup (tidak terlihat), maka setiap yang tidak terlihat adalah bagian dari Jin. Dari pemaparan tersebut di atas, dapat ditarik sebuah kesimpualan bahwa Jin adalah mahluk halus, tidak kasat mata, bisa menjelma menjadi beberapa bentuk atau memiliki bentuk yang beragam dan terbuat dari api. Syetan adalah setiap pendurhaka, pembuat onar dan kekacauan, pembangkang, pengganggu dan penuh keburukan. Mengenai keduanya Ulama’ berbeda pandangan apakah keduanya itu berbeda atau tidak?, namun menurut mayoritas Ulama’ dan shahih, keduanya satu golongan. Hanya saja jika mahluk halus tersebut kafir, maka disebut dengan Syetan, dan jika mukmin, maka disebut Jin. Selanjutnya, perbedaan antara Jin dan Syetan hanya dari aspek cakupan makna, yakni setiap Syetan adalah Jin, namun tidak setiap Jin adalah Syetan, karena hanya yang kafir yang disebut Syetan. Dan bahwasanya Syetan memiliki arti umum dan luas cakupannya (sebagaiman tersebut di atas) yang meliputi golongan dari Manusia, Jin dan hewan. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

. وَالْجِنُّ : أَجْسَامٌ نَارِيَّةٌ لَهَا قُوَّةُ التَّشَكُّل . قَال اللَّهُ تَعَالَى : { وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْل مِنْ نَارِ السَّمُومِ } (1) : . قَال الْبَيْضَاوِيُّ : الْجِنُّ أَجْسَامٌ عَاقِلَةٌ خَفِيَّةٌ تَغْلِبُ عَلَيْهِمُ النَّارِيَّةُ أَوِ الْهَوَائِيَّةُ . وَقَال أَبُو عَلِيِّ بْنُ سِينَا : الْجِنُّ حَيَوَانٌ هَوَائِيٌّ يَتَشَكَّل بِأَشْكَالٍ مُخْتَلِفَةٍ ......الى ان قال الشَّيَاطِينُ جَمْعُ شَيْطَانٍ وَصِيغَتُهُ ( فَيْعَال ) مِنْ شَطَنَ إِذَا بَعُدَ أَيْ : بَعُدَ عَنِ الْخَيْرِ ، أَوْ مِنَ الْحَبْل الطَّوِيل كَأَنَّهُ طَال فِي الشَّرِّ . وَهَذَا فِيمَنْ جَعَل النُّونَ أَصْلاً ، وَقِيل : الشَّيْطَانُ فَعْلاَنٌ مِنْ شَاطَ يَشِيطُ إِذَا هَلَكَ وَاحْتَرَقَ ، وَهَذَا فِيمَنْ جَعَل النُّونَ زَائِدَةً . قَال الأَْزْهَرِيُّ : الأَْوَّل أَكْثَرُ . وَهُوَ مِنْ حَيْثُ الْعُمُومُ : الْعَصِيُّ الأَْبِيُّ الْمُمْتَلِئُ شَرًّا وَمَكْرًا ، أَوِ الْمُتَمَادِي فِي الطُّغْيَانِ الْمُمْتَدِّ إِلَى الْعِصْيَانِ . وَكُل عَاتٍ مُتَمَرِّدٍ مِنَ الْجِنِّ وَالإِْنْسِ وَالدَّوَابِّ شَيْطَانٌ فَبَيْنَ الْجِنِّ وَالشَّيْطَانِ عُمُومٌ وَخُصُوصٌ وَجْهِيٌّ الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 16 / ص 89(

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

والشيطان فِي لُغَةِ الْعَرَبِ مُشْتَقٌّ مِنْ شَطَن إِذَا بَعُدَ، فَهُوَ بَعِيدٌ بِطَبْعِهِ عَنْ طِبَاعِ الْبَشَرِ، وَبَعِيدٌ بِفِسْقِهِ عَنْ كُلِّ خَيْرٍ، وَقِيلَ: مُشْتَقٌّ مِنْ شَاطَ لِأَنَّهُ مَخْلُوقٌ مِنْ نَارٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: كِلَاهُمَا صَحِيحٌ فِي الْمَعْنَى، وَلَكِنَّ الْأَوَّلَ أَصَحُّ................الى ان قال. وَقَالَ سِيبَوَيْهِ: الْعَرَبُ تَقُولُ: تَشَيْطَنَ فُلَانٌ إِذَا فَعَل فِعْل الشَّيْطَانِ وَلَوْ كَانَ مِنْ شَاطَ لَقَالُوا: تَشَيَّطَ] (4) . وَالشَّيْطَانُ (5) مُشْتَقٌّ مِنَ الْبُعْدِ عَلَى (6) الصَّحِيحِ؛ وَلِهَذَا يُسَمُّونَ كُلَّ مَا (7) تَمَرَّدَ مِنْ جِنِّيٍّ وَإِنْسِيٍّ وَحَيَوَانٍ شَيْطَانًا، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا}. تفسير ابن كثير ت سلامة (1/ 115)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

وَاخْتَلَفُوا فِي الْجِنِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّهُمْ جِنْسٌ غَيْرُ الشَّيَاطِينِ وَالْأَصَحُّ أَنَّ الشَّيَاطِينَ قِسْمٌ مِنَ الْجِنِّ، فَكُلُّ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ مُؤْمِنًا فَإِنَّهُ لَا يُسَمَّى بِالشَّيْطَانِ، وَكُلُّ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا يُسَمَّى بِهَذَا الِاسِمِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى صِحَّةِ ذَلِكَ أَنَّ لَفْظَ الْجِنِّ مُشْتَقٌّ مِنَ الِاسْتِتَارِ، فَكُلُّ مَنْ كَانَ كَذَلِكَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ. تفسير الرازي = مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير (19/ 138)

 

Daftar Pustaka:

1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. IV/ 250

2. Tafsir Ibnu Katsir. I/ 115 3. Tafsir al-Razi. XIX/ 138

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I