AnNuren Saefullah 21 September 2016 pukul 18:17

 assalamu alaikum...

jika suami mengucapkan :" silahkan kamu menikah " pada istrinya... lalu setelah sekitar

satu tahun ditanyakan kepada suami : apa ia bermaksud mentalaq istrinya. lalu suami menjawab : betul ucapan itu dimaksud talak..
pertanyaannya


1.apakah itu terjadi talak
2.kapan terjadinya talak itu..apa ketika ucapan kinayah ? atau ketika ditanyakan ?
3.dari kapan mulai hitungan iddah ?

~~~~~~~~~

 

JAWABAN:

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

 

 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

 

“Jika seorang suami berkata kepada istrinya “Silahkan kamu menikah”. Apakah jatuh talak dan sejak kapan terjadinya talak?”

 

Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i; Abu Abdillah di dalam kitabnya (al-Um) menjelaskan bahwa Jika seorang suami berkata kepada istrinya “Pergilah dan menikahlah” atau “Menikahlah dengan laki-laki yang engkau kehendaki”, maka hal itu bukan cerai hingga ia menghendakinya (cerai), dan demikian juga ucapan “Pergilah dan beriddahlah”. Dan jika seorang suami berkata kepada istrinya “Kamu haram bagiku”, maka hal itu bukanlah cerai hingga ia menghendakinya. Jika ia menghendakinya, maka itu adalah cerai.


Imam Muhammad Khatib al-Syarbini di dalam kitabnya (Mughni al-Muhtaj) juga menjelaskan bahwa syarat (dalam) niat kiasan (kinayah) adalah bersamaan dengan setiap ucapan, sebagaimana uraian yang terdapat di dalam kitab “al-Muharrar” dan mendapat legitimasi dari Imam al-Bulqini. Jika niat bersamaan pada awal (ucapan cerai kinayah) dan lenyap sebelum selesai, maka tidak jatuh talak. Sebagian pendapat menyatakan cukup dengan bersamaannya niat pada awal (ucapan) saja dan terbawa pada kalimat setelahnya. Pendapat ini diunggulkan oleh Imam al-Rafi’i di dalam kitab “al-Syarh al-Shaghir”. Di dalam kitab “al-Kabir” beliau mengutip pengunggulan dari Imam Haramain al-Juwainy (
الإمام) dan yang lain dan dilegitimasi oleh Imam al-Zarkasyi. Sedang pendapat yang diunggulkan oleh Imam Ibnu al-Muqry dan ini yang terpercaya adalah cukup dengan bersamaannya niat dengan sebagian lafadz, baik di awal, tengah atau ahir.


Imam Sulaiman bin Muhammad bin Amr al-Bujairami di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Bujairami) juga mengutip pernyataan Imam al-Ramli yang menyatakan bahwa intinya dianggap cukup dengan niat sebelum selesainya ucapan cerai (kinayah). Inilah yang terpercaya (mu’tamad).
Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa ucapan suami kepada istrinya “Silahkan kamu menikah” adalah kategori cerai kinayah yang jatuh atau tidaknya talak, tergantung niat. Sedang talak telah jatuh sejak suami mengucapkan kalimat tersebut dengan disertai niat (cerai) bahkan walaupun ia belum selesai mengucapkannya. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

وَلَوْ قال لها اذْهَبِي وَتَزَوَّجِي او تَزَوَّجِي من شِئْت لم يَكُنْ طَلَاقًا حتى يَقُولَ أَرَدْت بِهِ الطَّلَاقَ وَهَكَذَا إنْ قال اذْهَبِي فَاعْتَدِّي وَلَوْ قال الرَّجُلُ لِامْرَأَتِهِ أَنْتِ عَلَيَّ حَرَامٌ لم يَقَعْ بِهِ طَلَاقٌ حتى يُرِيدَ الطَّلَاقَ فإذا أَرَادَ بِهِ الطَّلَاقَ فَهُوَ طَلَاقٌالأم - (ج 5 / ص 262)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

( وشرط نية الكناية اقترانها بكل اللفظ ) كما في المحرر وجرى عليه البلقيني فلو قارنت أوله وعزبت قبل آخره لم يقع طلاق 
(
وقيل يكفي ) اقترانها ( بأوله ) فقط وينسحب ما بعده عليه ورجحه الرافعي في الشرح الصغير ونقل في الكبير ترجيحه عن الإمام وغيره وصوبه الزركشي والذي رجحه ابن المقري وهو المعتمد أنه يكفي اقترانها ببعض اللفظ سواء أكان من أوله أو وسطه أو آخره لأن اليمين إنما تعتبر بتمامها. مغني المحتاج - (ج 3 / ص 284)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

قَالَ الرَّمْلِيُّ : فَالْحَاصِلُ الِاكْتِفَاءُ بِهَا قَبْلَ فَرَاغِ لَفْظِهَا وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ. حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 10 / ص 476)

 

 

Daftar Pustaka:
1. Al-Um. V/ 262
2. Mughni al-Muhtaj. III/ 284
3. Hasyiyah al-Bujairami. X/ 476

 

=========

 

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
3. Al-Ustadz 
Abdul Malik
4. Al-Ustadz Rofie
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz 
Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 
Al-Ustadz 
Ibnu Malik. SP. d I