Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2056636
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
607
1553
10624
1976011
33210
73193
2056636
Your IP: 54.167.44.32
Server Time: 2017-12-15 08:07:11

Pak Sirin​ • 25 Desember 2016 pukul 22:30

Assalamualaikum.

Hukum suami melihat farji istri.

.? Syukron. Ustadz.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bolehkah melihat kemaluan istri?”

Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami di dalam kitabnya (Tuhfah al-Muhtaj Fi Syarh al-Minhaj) menyatakan bahwa boleh bagi suami dan tuan pada saat hidup melihat setiap bagian tubuhnya, yakni istri dan budak yang dimiliki yang halal dan demikian juga sebaliknya walaupun ia (istri) dilarang (oleh suami) sebagaimana yang ditekankan oleh pemutlakan para ilmuan. Dan walaupun Imam al-Zarkasyi membahas pelarangannya katika ia dilarang walaupun vagina namun disertai makruh walaupun pada saat berhubungan intim.

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah) juga dijelaskan bahwa ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali memilih kebolehan melihatnya pasangan suami dan istri pada kemaluan pasangannya secara mutlak, hal ini berdasar Hadits yang diriwayatkan oleh Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata: Aku berkata “Wahai utusan Allah, tentang aurat kita, mana yang kami datangkan (perlihatkan) dan mana yang hindari? Rasulullah menjawab “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki”.” karena kemaluan adalah tempat kenikmatan, maka boleh melihatnya sebagaimana anggota tubuh yang lain, namun ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi dan Hambali menjelaskan bahwa yang lebih utama tidak melihat kemaluan berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ketika diantara kalian mendatangi istrinya, maka tutuplah dan jangan telanjang sebagaimana dua ekor keledai”. (Dan seterusnya). Sedang ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i memilih makruh melihatnya setiap pasangan terhadap kemaluan pasangannya dan kemaluannya sendiri tanpa ada kebutuhan mendesak (hajat) berdasar Haditsnya A’isyah, terlebih (lebih makruh) melihat bagian dalam. Dan mereka berkata “Sesungguhnya tidak makruh melihat pada saat berhubungan intim, bahkan diperbolehkan”.

Syaikh Ibrahim al Bajuri di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Bajuri) juga menegaskan bahwa pendapat yang menyatakan haram melihat kemaluan adalah pendapat yang lemah dan yang lebih autentik (ashah) adalah pendapat yang menyatakan boleh melihatnya namun makruh.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum melihat kemaluan istri adalah hilaf sebagaimana tersebut di atas dan mengacu pada pendapat mayoritas dari kalangan madzhab Syafi’i, maka hukum melihatnya adalah makruh kecuali ada kebutuhan mendesak. والله اعلم.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadzah Ummu Salamah:

 

( وَلِلزَّوْجِ ) وَالسَّيِّدِ فِي حَالِ الْحَيَاةِ ( النَّظَرُ إلَى كُلِّ بَدَنِهَا ) أَيْ الزَّوْجَةِ وَالْمَمْلُوكَةِ الَّتِي تَحِلُّ وَعَكْسُهُ ، وَإِنْ مَنَعَهَا كَمَا اقْتَضَاهُ إطْلَاقُهُمْ ، وَإِنْ بَحَثَ الزَّرْكَشِيُّ مَنْعَهَا إذَا مَنَعَهَا وَلَوْ الْفَرْجَ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ وَلَوْ حَالَةَ الْجِمَاعِ

تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 29 / ص 281)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

 

ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى

جَوَازِ نَظَرِ كُلٍّ مِنَ الزَّوْجَيْنِ إِلَى فَرْجِ الآْخَرِ مُطْلَقًا ، لِمَا رَوَى بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَال : قُلْتُ : يَا رَسُول اللَّهِ عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ ، قَال : احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ (1) ، وَلأَِنَّ الْفَرْجَ مَحَل الاِسْتِمْتَاعِ ، فَجَازَ النَّظَرُ إِلَيْهِ كَبَقِيَّةِ الْبَدَنِ (2) .

لَكِنْ صَرَّحَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِأَنَّ الأَْوْلَى أَدَبًا تَرْكُ النَّظَرِ إِلَى الْفَرْجِ ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيَسْتَتِرْ وَلاَ يَتَجَرَّدْ تَجَرُّدَ الْعَيْرَيْنِ .........الى ان قال

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى كَرَاهَةِ نَظَرِ كُلٍّ مِنَ الزَّوْجَيْنِ الْفَرْجَ مِنَ الآْخَرِ وَمِنْ نَفْسِهِ بِلاَ حَاجَةٍ ، لِحَدِيثِ عَائِشَةَ ، وَتَشْتَدُّ الْكَرَاهَةُ بِالنَّظَرِ إِلَى بَاطِنِ الْفَرْجِ ، وَقَالُوا : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّظَرُ فِي حَالَةِ الْجِمَاعِ بَل يَجُوزُ (1) .

الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 32 / ص 89)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Affan Fadlulloh:

 

اما الفرج فيحرم نظره وهذا وجه ضعيف والاصح جواز النظر الى الفرج لكن مع الكراهة

حاشية الباجورى -2 - 98

 

Daftar Pustaka:

1.      Tuhfah al-Muhtaj Fi Syarh al-Minhaj. XXIX/ 281

2.      Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. I/ 5966

3.      Hasyiyah al-Bajuri. II/ 98

4.       

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Abdulloh Salam

8.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik SP. d I