Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2056639
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
610
1553
10627
1976011
33213
73193
2056639
Your IP: 54.167.44.32
Server Time: 2017-12-15 08:07:25

Rohmat Al Lil'alamin • 12 Januari pukul 13:34

Assalamu alaikum...

Mohon maf ustad/ustazah mengganggu... Saya mau nanyak... giman caranya kl sholat tu biar husuk

. Soal nya saya kl lg sholat fikiran sll kacau

Ap lg kl ad yg rame"tambah kacau fikiran saya... Trima kasih ustad/ustazah

~~~~~~~~~

 

JAWABAN:

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

 

“Bagaimanakah kiat menuju husyu’ dalam pelaksanaan shalat?” (Post edit)

 

Imam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di dalam kitabnya yang spektakuler (Ihya’ Ulum al-Din) menyatakan “Akan tetapi, orang yang “lemah”, tentu (penglihatan dan pendengarannya) itu yang membuat pikirannya tidak fokus. Jalan keluarnya ialah melepaskan diri dari segala bentuk penyebab tidak fokusnya. Misal dengan cara menundukkan penglihatan, sembahyang di tempat gelap, menyingkirkan sesuatu di hadapan kita yang dapat menganggu pikiran, mengambil posisi sembahyang yang dekat dengan dinding agar jarak pandang terbatas. Ia perlu menghindari posisi sembahyang di tempat yang dekat dengan jalan, di tempat yang terdapat ukiran atau lukisan, dan di atas tikar yang dicelup (diwarnai)”.

Imam Ahmad bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Malibary di dalam kitabnya (Fathu al-Mu’in) dalam sebuah cabang menjelaskan bahwa disunahkan masuk ke dalam shalat dengan sigap karena Allah mencela orang yang meninggalkannya dengan firmannya “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. al-Nisa’: 142). Dan mengosongkan hati dari urusan-urusan karena hal itu lebih mendekatkan pada kehusyu’an. Dan disunahkan husyu’ dengan hati dalam shalat secara keseluruhan dengan tidak menghadirkan sesuatu yang lain (selain yang berkaitan dengan shalat) walaupun berkenaan dengan ahirat, dan husyu’ dengan anggota tubuh dengan tidak bermain-main (dalam gerakan) dan seterusnya. Dan diantara kiat yang dapat menghasilkan kehusyu’an adalah mengahadirkan (dalam hati) bahwa ia sedang berada di hadapan sang penguasa kerajaan dunia yang mengetahui segala rahasia dan yang tersembunyi dengan sepenuh hati. Sayyid al-Qutbi al-‘Arif billah; Muhammad al-Bakri radliyallahu ‘anhu berkata “Sesunnguhnya diantara hal yang dapat mendatangkan husyu’ adalah memperpanjang durasi ruku’ dan sujud”, juga memikirkan dzikir dengan dianalogikan atas bacaan. Dan disunahkan selalu melihat tempat sujud karena lebih mendekatkan pada husyu’ walaupun buta atau berada disekitar ka’bah atau dalam kondisi gelap atau dalam pelaksanaan shalat janazah.

Setali tiga uang, hal senada juga dipaparkan di dalam sebuah literatur Fiqh Kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah). Imam Ibnu Abidin berkata “Ketahuilah, sesungguhnya menghadirkan hati adalah upaya pengosongan dari selain yang dilaksanakan”. Adapun dasar penekanan husyu’ adalah firman Allah “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya”. (QS; al-Mukminun:1-2). Sahabat Ali radliyallahu ‘anhu menginterpretasikan husyu’ adalah kelunakan hati dan mencegah anggota tubuh (dari bermain-main dalam gerakan)

Imam Zainuddin bin Tajul Arifin bin Ali bin Zainal Abidin al-Haddadi di dalam kitabnya (Faidu al-Qadir) dalam menginterpretasikan ayat tersebut menyatakan bahwa orang-orang yang husyu’ adalah mereka yang takut kepada Allah dan merendahkan diri serta memfokuskan pandangan pada tempat sujudnya dan hal itu ditandai dengan tidak menoleh kekiri dan kanan serta tidak melampaui tempat sujud.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kiat-kiat menuju husyu’ dalam pelaksanaan shalat adalah sebagai berikut:

·         Menundukkan penglihatan

·         Melaksanakan ditempat yang sunyi dan gelap

·         Menyingkirkan sesuatu yang dapat mengganggu fikiran

·         Mengambil posisi dekat dinding

·         Menghindari tempat yang terdapat ukiran, gambar dan lukisan

·         Mengkosongkan hati dari hal-hal yang tidak terkait dengan shalat

·         Tidak melakukan gerakan-gerakan yang tidak berkaitan dengan shalat

·         Merasa sedang berhadapan dengan Allah

·         Memperpanjang durasi ruku' dan sujud

·         Merenungi seluruh bacaan dalam shalat

·         Selalu melihat tempat sujud

·         Tidak menoleh ke kiri dan kanan. والله اعلم

 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Zafi AL Dimass:

 

ولكن الضعيف لا بد وأن يتفرق به فكره

وعلاجه قطع هذه الأسباب بأن يغض بصره أو يصلى في بيت مظلم أو لا يترك بين يديه ما يشغل حسه ويقرب من حائط عند صلاته حتى لا تتسع مسافة بصره ويحترز من الصلاة على الشوارع وفي المواضع المنقوشة المصنوعة وعلى الفرش المصبوغة. إحياء علوم الدين - (ج 1 / ص 163)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

( فرع ) ( سن دخول صلاة

بنشاط ) لأنه تعالى ذم تاركيه بقوله { وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى } والكسل الفتور والتواني

( وفراغ قلب ) من الشواغل لأنه أقرب إلى الخشوع

( و ) سن ( فيها ) أي في صلاته كلها ( خشوع بقلبه ) بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة

( وبجوارحه ) بأن لا يعبث بأحدها ............... الى ان قال

ومما يحصل الخشوع استحضاره أنه بين يدي ملك الملوك الذي يعلم السر وأخفى

يناجيه وأنه ربما تجلى عليه بالقهر لعدم القيام بحق ربوبيته فرد عليه صلاته

وقال سيدي القطب العارف بالله محمد البكري رضي الله عنه إن مما يورث الخشوع إطالة الركوع والسجود ( وتدبر قراءة ) أي تأمل معانيها

قال تعالى { أفلا يتدبرون القرآن } ولأن به يكمل مقصود الخشوع

( و ) تدبر ( ذكر ) قياسا على القراءة ( و ) سن ( إدامة نظر محل سجوده ) لأن ذلك أقرب إلى الخشوع ولو أعمى وإن كان عند الكعبة أو في الظلمة أو في صلاة الجنازة

فتح المعين - (ج 1 / ص 180)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

وَعَلَيْهِ فَيُسَنُّ لِلْمُصَلِّي أَنْ يَخْشَعَ فِي كُل صَلاَتِهِ بِقَلْبِهِ وَبِجَوَارِحِهِ وَذَلِكَ بِمُرَاعَاةِ مَا يَلِي :

أ - أَنْ لاَ يُحْضِرَ فِيهِ غَيْرَ مَا هُوَ فِيهِ مِنَ الصَّلاَةِ .

ب - وَأَنْ يَخْشَعَ بِجَوَارِحِهِ بِأَنْ لاَ يَعْبَثَ بِشَيْءٍ مِنْ جَسَدِهِ كَلِحْيَتِهِ أَوْ مِنْ غَيْرِ جَسَدِهِ ، كَتَسْوِيَةِ رِدَائِهِ أَوْ عِمَامَتِهِ ، بِحَيْثُ يَتَّصِفُ ظَاهِرُهُ وَبَاطِنُهُ بِالْخُشُوعِ ، وَيَسْتَحْضِرُ أَنَّهُ وَاقِفٌ بَيْنَ يَدَيْ مَلَكِ الْمُلُوكِ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى يُنَاجِيهِ . وَأَنَّ صَلاَتَهُ مَعْرُوضَةٌ عَلَيْهِ

ج - أَنْ يَتَدَبَّرَ الْقِرَاءَةَ لأَِنَّهُ بِذَلِكَ يُكْمِل مَقْصُودَ الْخُشُوعِ .

د - أَنْ يُفْرِغَ قَلْبَهُ عَنِ الشَّوَاغِل الأُْخْرَى ؛ لأَِنَّ هَذَا أَعْوَنُ عَلَى الْخُشُوعِ ، وَلاَ يَسْتَرْسِل مَعَ حَدِيثِ النَّفْسِ .

قَال ابْنُ عَابِدِينَ : وَاعْلَمْ أَنَّ حُضُورَ الْقَلْبِ فَرَاغُهُ مِنْ غَيْرِ مَا هُوَ مُلاَبِسٌ لَهُ .

وَالأَْصْل فِي طَلَبِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلاَةِ قَوْله تَعَالَى : { قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ } (1) .

فَسَّرَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْخُشُوعَ فِي الآْيَةِ : بِلِينِ الْقَلْبِ وَكَفِّ الْجَوَارِحِ .

الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 19 / ص 117)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

وقد شهد القرآن بفلاح الخاشعين * (قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون) * (المؤمنون : 2) أي خائفون من الله متذللون يلزمون أبصارهم مساجدهم.

وعلامة ذلك أن لا يلتفت يمينا ولا شمالا ولا يجاوز بصره محل سجوده.

فيض القدير - (ج 1 / ص 498)

 

Daftar Pustaka:

1.      Ihya’ Ulum al-Din. I/ 163

2.      Fathu al-Mu’in. I/ 180

3.      Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XIX/ 117

4.      Faidu al-Qadir. I/ 498

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Abdulloh Salam

8.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I