Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2583786
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
668
2760
13868
2495457
46141
71649
2583786
Your IP: 54.224.216.155
Server Time: 2018-07-19 09:29:08

All Aziz 27 Januari 2017 pukul 2:51 • Kota Cirebon, Jawa Barat

Assalamu'alaikum wr.wb.titipan dr sblh uztd

Alkisah,pd suatu hari kang Paimun pingin memakan ikan,lalu dia memancing di kali

/sungai belakang rumah dg harapan mendapat ikan yg banyak n besar2.

Tanpa di duga n tanpa di sangka2 dia mendapat ikan paus yg cukup besar...(ikan apaan..!! paus kok di kali xixi...).

Lalu kang Paimaun membawa pulang ikan trsbt utk di masak,dia bgt kaget saat membelah perut ikan trsbt,krn ternyata di dalamnya ada bgt banyak ikan2 kecil yg mungkin santapan ikan paus trsbt.

Pertanyaanya : Ikan yg ada di dlm perut ikan paus trsbt apakah boleh/halal jk di makan?

Monggo berbagi ilmu sambil ngopi...!!

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum mengkonsumsi ikan yang berada di dalam perut ikan yang lain?” (Post edit)

Imam Muahammad al-Khatib al-Syarbini di dalam kitabnya (Mughni al-Muhtaj) menjelaskan bahwa termuat dalam kehalalan bangkai ikan adalah jika ditemukan bangkai ikan di dalam perut ikan yang lain, maka hukumnya juga halal sebagaimana ikan yang mati secara wajar (seperti tenggelam), kecuali jika berubah walaupun tidak terpotong sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam al-Adzra’i, sebab ketika kondisinya telah berubah, maka seperti kotoran dan muntah.

Imam Abu al-Hasan al-Mawardi di dalam kitabnya (al-Hawi al-Kabir) juga menjelaskan bahwa jika ditemukan ikan di dalam perut ikan yang lain, maka halal mengkonsumsinya secara bersamaan selagi belum terpisah. Jika terpisah hingga terputus dan berubah warna dagingnya, maka dalam kehalalan mengkonsumsinya ada dua pendapat:

1. Pendapat pertama menyatakan halal sebagaimana kehalalan jika terputus tanpa diburu dan berubah.

2. Pendapat kedua menyatakan haram, karena sehukum dengan kotoran dan muntah.

Demikian juga hukum mengkonsumsi suatu makanan yang berada dalam perut ikan.

Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab) juga menegaskan bahwa jika ditemukan ikan di dalam perut ikan yang lain, maka keduanya halal sebagaimana ikan yang mati wajar, berbeda jika ikan tersebut menelan burung atau yang lain kemudian ditemukan di dalam perutnya dalam keadaan mati, maka haram tanpa ada pro dan kontra. Dan jika ikan yang berada di dalam perut ikan tersebut terpotong-potong dan warna dagingnya berubah, maka tidak halal dengan mengacu pada pendapat yang lebih autentik.

Dari beragam pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum mengkonsumsi ikan yang berada di dalam perut ikan yang lain adalah boleh selagi warna dagingnya tidak berubah. Jika berubah, maka hilaf sebagaimana uraian tersebut di atas. والله اعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

تنبيه شمل حل ميتة السمك ما لو وجدت سمكة ميتة في جوف أخرى فتحل كما لو ماتت حتف أنفها إلا

أن تكون متغيرة وإن لم تتقطع كما قاله الأذرعي لأنها صارت كالروث والقيء. مغني المحتاج - (ج 4 / ص 267)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

وَلَوْ وَجَدَ سَمَكَةً فِي جَوْفِ سَمَكَةٍ حَلَّ أَكْلُهُمَا مَعًا ، مَا لَمْ تَنْفَصِلِ الدَّاخِلَةُ ، فَإِنِ انْفَصَلَتْ حَتَّى تَقَطَّعَتْ وَتَغَيَّرَ لَوْنُ لَحْمِهَا ، فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهَا وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا : يَحِلُّ أَكْلُهَا كَمَا يَحِلُّ لَوْ تَقَطَّعَتْ بِغَيْرِ صَيْدِهَا وَتَغَيَّرَتْ .

وَالْوَجْهُ الثَّانِي : يَحْرُمُ أَكْلُهَا : لِأَنَّهَا قَدْ صَارَتْ فِي حُكْمِ الرَّجِيعِ وَالْقَيْءِ ، وَهَكَذَا أَكْلُ مَا فِي بُطُونِ السَّمَكِ مِنْ غِذَائِهِ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ . الحاوى الكبير ـ الماوردى - (ج 15 / ص 139

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

ولو وجدت سمكة في جوف سمكة فهما حلال كما لو ماتت حتف أنفها بخلاف ما لوا ابتلعت عصفورا أو غيره فوجد في جوفها ميتا فانه حرام بلا خلاف ولو تقطعت سمكة في جوف سمكة وتغير لونها لم تحل على أصح الوجهين لانها كالروث والقئ. المجموع شرح المهذب - (ج 9 / ص 73)

Daftar Pustaka:

1. Mughni al-Muhtaj. IV/ 267

2. Al-Hawi al-Kabir. XV/ 139

3. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. IX/ 73

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. S.P.d I