Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2736981
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
733
1286
2019
2667770
37531
91073
2736981
Your IP: 54.161.71.87
Server Time: 2018-09-24 11:12:35

Afif Rambu'rabani Oi 5 Januari 2017

Assalamuallaikum.wr.wb

ustad/ustadzah

Mohon beri penjelasan!?

Ketika ada orang mukmin ia sudah dewasa !?ia tekun dalam beribadah tapi ia belum pernah mandi janabah

apakah beribadah itu sia sia!?sedangkan ia orang awan yang tak mengerti tentang hukum mandi janabah! Mohon penjelasanya?

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah shalat orang yang tidak pernah mandi junub?”

Imam Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad; Abu Abdillah; Syamsuddin al-Ghazi di dalam kitabnya (Fathu al-Qarib al-Mujib) menjelaskan bahwa syarat (shalat) yang pertama adalah sucinya anggota tubuh dari hadats, yakni hadats kecil dan besar ketika mampu. Adapun orang yang kehilangan dua alat yang mensucikan (air dan debu), maka shalatnya sah serta wajib mengulang.

Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzab) juga menjelaskan bahwa semua orang muslim sepakat atas keharaman shalat bagi orang yang berhadats dan mereka juga sepakat bahwa shalatnya tidak sah, baik ia mengerti dengan hadatsnya atau tidak, atau lupa. Hanya saja jika ia tidak mengetahuinya atau lupa, maka ia tidak berdosa. Dan jika ia mengerti akan hadats serta mengetahui keharaman melaksanakan shalat dalam kondisi berhadats, maka ia melakukan kemaksiatan yang besar namun tidak menyebabkan kufur menurut kami kecuali ia menganggap halal. Imam Abu Hanifah menyatakan kufur karena kental dengan unsur penghinaan.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa shalat orang yang tidak pernah mandi junub (sedang ia pernah junub) adalah tidak sah dan wajib diulang, namun ia tidak berdosa karena ia tidak mengerti.

“Lantas, apakah ibadahnya sia-sia?”

Imam Nawawi al-Banteni di dalam kitabnya (al-Tsimar al-Yani’ah) menuturkan bahwa jika seseorang lupa bersuci dan ia melaksanakan shalat, maka ia mendapat pahala atas yang dimaksud (niat atau kehendaknya dalam melakukan ibadah), bukan atas pekerjaannya terkecuali amal yang tidak terikat dengan suci seperti dzikir.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa ibadah yang ia lakukan tidak sia-sia, karena Allah maha pengasih dan penyayang dan tidak akan menyia-nyiakan maksud baik hamba-Nya. والله اعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

الشرط الاول (طهارة الاعضاء من الحدث) الأصغر والأكبر عند القدرة أما فاقد الطهورين فصلاته صحيحة مع وجوب الإعادة عليه. فتح القريب المجيب-1-73

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

(السمألة الثالثة) أجمع المسلمون على تحريم الصلاة على المحدت (1) وأجمعوا على أنها لا تصح منه سواء ان كان عالما بحدثه أو جاهلا أو ناسيا لكنه ان صلى جاهلا أو ناسيا فلا اثم عليه وان كان عالما بالحدث وتحريم الصلاة مع الحدث فقد ارتكب معصية عظيمة ولا يكفر عندنا بذلك الا أن يستحله وقال أبو حنيفة يكفر لاستهزائه. المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 67)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

فإن نسي الطهارة وصلى أثيب على قصده لا على فعله إلا ما لا يتوقف على طهر كالذكر. إهــ

الثمار اليانعة في الرياض البديعة ص ٣١ نور الهدى سورابايا

 

Daftar Pustaka:

1. Fathu al-Qarib al-Mujib. I/ 73

2. Al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzab. II/ 67

3. Al-Tsimar al-Yani’ah. 31

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. S.P. d I