DOC_1308. Hukum Meminjam Uang Masjid

Muhammad Faiz 25 Februari 2017 pukul 7:02

assalamualaikum wrwb mttm. Apakah diperbolehkan meminjam uang masjid untuk pribadi

?

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bolehkah meminjam uang Masjid untuk kepentingan pribadi?” (Post edit)

Imam Syihabuddin; Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qalyubi di dalam kitabnya (Hasyiyah Qalyubi) menjelaskan bahwa diperbolehkan bagi pengelola (Nadhir) meminjamkan harta waqaf sebagaimana harta anak yatim dan ia juga boleh melakukan peminjaman atas harta waqaf walaupun dari hartanya sendiri ketika dibutuhkan.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra) juga menyatakan bahwa beliau pernah ditanya tentang sebuah permasalahan ketika terdapat sebuah Masjid yang tidak membutuhkan perbaikan sedang didekatnya terdapat Masjid lain yang membutuhkan perbaikan, apakah diperbolehkan bagi pengelola menghutanginya dengan uang Masjid (yang tidak membutuhkan renofasi). Beliau menjawab: “Para ilmuan menuturkan bahwa sesungguhnya peminjaman harta waqaf adalah sebagaimana harta anak kecil dan mereka menyatakan boleh bagi Qadli atau instansi terkait meminjamkan harta anak kecil walaupun tidak dalam kondisi darurat, berbeda dengan bapak, maka hal tersebut tidak boleh baginya kecuali dalam kondisi darurat”. Pointnya, sesungguhnya harta Masjid adalah sebagaimana harta anak kecil. Maka menghutangkannya untuk renofasi Masjid adalah diperbolehkan sebagaimana kebolehan berhutang untuk memperbaiki barang waqaf dan itu lebih utama. Imam Rafi’i menyatakan bahwa titik tekannya adalah kebolehan bagi Imam atau Qadli berhutang demi memperbaiki barang waqaf dan beliau menjelaskan bahwa (hal ini) tidak boleh bagi pihak pengelola (Nadhir) tanpa ada rekomendasi Imam atau instansi terkait. Imam Ibnu Shalah berfatwa “Sesungguhnya hal tersebut boleh bagi Nadhir walaupun tanpa rekomendasi dari Imam, karena Nadhir juga memiliki wewenang”.

Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (Raudlah al-Thalibin Wa ‘Umdah al-Muftin) juga menjelaskan bahwa pengelola tidak boleh mengambil harta waqaf (dan seterusnya). Adapun hukum menghutangkan harta waqaf adalah sebagaimana hukum menghutangkan harta anak kecil.

Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abi al-Abbas; Ahmad bin Hamzah; Syihabuddin al-Ramli di dalam kitabnya (Nihayah al-Muhtaj) juga menjelaskan bahwa dilarang bagi selain Qadli menghutangkan harta anak kecil atau orang gila tanpa adanya darurat dari semisal perampasan atau kebakaran atau adanya kekhawatiran dalam perjalanan. Sedang bagi Qadli sendiri hal itu diperbolehkan secara mutlak karena kesibukannya, namun ia tidak boleh menghutangkan kecuali pada orang kaya terpercaya dan boleh menjadikan sebagai jaminan hutang jika diasumsikan adanya maslahat. Jika tidak, maka ia harus meninggalkannya (tidak boleh dilakukan) juga tidak boleh menitipkan pada orang yang terpercaya kecuali tidak adanya kemungkinan menghutangkannya.

Di dalam literatur Fiqh kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah) juga dijelaskan bahwa peminjaman harta anak kecil oleh pengelola tidak lepas dari berhutang untuk dirinya sendiri atau menghutangkan pada orang lain:

A. Peminjaman harta anak kecil oleh pengelola untuk dirinya sendiri.

Terkait hal ini para pakar Fiqh berbeda pendapat sebagai berikut:

· Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali menyatakan bahwa pengelola tidak boleh berhutang harta anak kecil karena dapat memicu kecurigaan.

· Imam Muhammad bin al-Hasan dan sebuah pendapat dari kalangan madzhab Maliki menyatakan kebolehan pihak pengelola berhutang harta anak yatim ketika ia memiliki harta untuk melunasinya.

B. Peminjaman harta anak kecil oleh pengelola untuk orang lain.

Terkait hal ini para pakar Fiqh juga berbeda pandangan sebagai berikut:

· Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan tidak boleh kecuali dalam kondisi darurat.

· Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan tidak boleh kecuali adanya kebutuhan yang mendesak (hajat).

· Ulama’ dari kalangan madzhab Hambali menyatakan tidak boleh kecuali adanya kebutuhan mendesak atau adanya maslahat. Jika dikhawatirkan adanya perampasan, atau kebakaran, atau tenggelam, atau adanya kekhawatiran dalam perjalanan, maka diperbolehkan bagi pihak pengelola untuk berhutang, namun tidak boleh menghutangkannya kecuali pada orang terpercaya dan kaya. Jika tidak terpercaya, akan timbul pengingkaran. Dan jika tidak kaya, maka tidak ada yang dapat diambil sebagai pengganti (dan seterusnya).

· Ulama’ dari kalangan madzhab Malik yang merupakan riwayat dari Imam Ahmad menyatakan bahwa pengelola tidak boleh menyodorkan harta anak yatim kepada seseorang walaupun dengan jaminan, karena hal tersebut tidak memberikan maslahat bagi anak yatim.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum berhutang uang Masjid untuk kepentingan pribadi adalah hilaf sebagaimana pemaparan tersebut di atas. Demikian juga menghutangkan terhadap orang lain yang juga bersifat pribadi (bukan lembaga waqaf). Sedang hukum menghutangkannya untuk menopang kebutuhan lembaga waqaf yang lain adalah boleh. والله اعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ahmad Basri Haris:

وله إقراض مال الوقف , كما في مال اليتيم وله الاقتراض على الوقف ولو من ماله عند الحاجة

حاشية قليوبي - (ج 3 / ص 110)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Abdulloh Salam:

وَسُئِلَ عَمَّا إذَا اسْتَغْنَى مَسْجِدٌ عن الْعِمَارَةِ وَبِقُرْبِهِ مَسْجِدٌ آخَرُ يَحْتَاجُ إلَيْهَا فَهَلْ يَجُوزُ لِلنَّاظِرِ أَنْ يَقْتَرِضَ لها من مَالِ الْمَسْجِدِ الْغَنِيِّ عنها فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ ذَكَرُوا أَنَّ إقْرَاضَ مَالِ الْوَقْفِ كَمَالِ الطِّفْلِ وَذَكَرُوا أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَيْ وَمَنْ في مَعْنَاهُ إقْرَاض مَال الطِّفْلِ وَإِنْ لم يَكُنْ ضَرُورَةً بِخِلَافِ نَحْو الْأَبِ فَلَا يَجُوزُ له ذلك إلَّا لِضَرُورَةٍ وَقَضِيَّةِ ذلك أَنَّ مَالَ الْمَسْجِدِ كَمَالِ الطِّفْلِ فَالِاقْتِرَاض لِعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ جَائِزَةٌ لِذَلِكَ كَالِاقْتِرَاضِ لِعِمَارَةِ الْوَقْفِ بَلْ أَوْلَى وقد ذَكَرَ الرَّافِعِيُّ ما مُقْتَضَاهُ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْإِمَامِ أَيْ أو الْقَاضِي أَنْ يَقْتَرِضَ لِعِمَارَةِ الْوَقْفِ وَصَرَّحَ بِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ ذلك لِلنَّاظِرِ بِغَيْرِ إذْنِ الْإِمَامِ أَيْ وَمَنْ في مَعْنَاهُ وَأَفْتَى ابن الصَّلَاحِ بِأَنَّهُ يَجُوزُ ذلك لِلنَّاظِرِ وَإِنْ لم يُؤْذَنْ له فيه لِأَنَّ النَّظَرَ وِلَايَةٌ تَقْبَلُ مِثْلَ هذا وَعَلَيْهِ فَيَلْحَقُ بِهِ الصُّورَةُ الْمَسْئُولُ عنها إلْحَاقًا لِعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ بِإِصْلَاحِ ضِيَاعِ الطِّفْلِ

الفتاوى الفقهية الكبرى - (ج 3 / ص 259)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

فرع

ليس للمتولي أن يأخذ من مال الوقف شيئا على أن يضمنه، ولو فعل ضمن، ولا يجوز ضم الضمان إلى مال الوقف، وإقراض مال الوقف، حكمه حكم إقراض مال الصبي.

روضة الطالبين وعمدة المفتين (5/ 349)

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

ويمتنع على غير القاضي من الأولياء إقراض شيء من مال صبي أو مجنون بلا ضرورة من نحو نهب أو حريق أو إرادة سفر يخاف عليه فيه. أما القاضي فله ذلك مطلقا لكثرة أشغاله. ولا يقرضه إلا لمليء أمين ويأخذ عليه رهنا إن رأى ذلك مصلحة

وإلا تركه ولا يودعه أمينا إلا عند عدم التمكن من إقراضه. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (4/ 377)

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

إِقْرَاضُ الْوَصِيِّ مَال الصَّغِيرِ لاَ يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَسْتَقْرِضَ الْوَصِيُّ لِنَفْسِهِ مِنْ مَال الصَّغِيرِ وَإِمَّا أَنْ يُقْرِضَهُ لِلْغَيْرِ.

أ - اقْتِرَاضُ الْوَصِيِّ لِنَفْسِهِ مَال الصَّغِيرِ:

53 - اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي اقْتِرَاضِ الْوَصِيِّ لِنَفْسِهِ مِنْ مَال الصَّغِيرِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لِلْوَصِيِّ أَنْ يَقْتَرِضَ لِنَفْسِهِ شَيْئًا مِنْ مَال الصَّغِيرِ لِلتُّهْمَةِ (2) . وَقَال مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ وَالْمَالِكِيَّةُ فِي قَوْلٍ بِجَوَازِ اقْتِرَاضِ الْوَصِيِّ لِنَفْسِهِ مِنْ مَال الْيَتِيمِ إِذَا كَانَ لَهُ مَالٌ فِيهِ وَفَاءٌ. (3)

ب ـ إِقْرَاضُ الْوَصِيِّ مَال الصَّغِيرِ لِلْغَيْرِ:

54 - اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي مِلْكِيَّةِ الْوَصِيِّ إِقْرَاضَ مَال الصَّغِيرِ: فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ، وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لَيْسَ لِلْوَصِيِّ إِقْرَاضُ مَال الصَّغِيرِ إِلاَّ لِضَرُورَةٍ عِنْدِ الْحَنَفِيَّةِ وَلِحَاجَةٍ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَلِحَاجَةٍ أَوْ مَصْلَحَةٍ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ. (1) فَإِنْ خَافَ مِنْ نَهْبٍ أَوْ حَرِيقٍ أَوْ غَرَقٍ، أَوْ أَرَادَ سَفَرًا وَخَافَ عَلَيْهِ جَازَ لَهُ الإِْقْرَاضُ، وَلاَ يُقْرِضُهُ إِلاَّ ثِقَةً مَلِيئًا، لأَِنَّ غَيْرَ الثِّقَةِ يَجْحَدُ وَغَيْرَ الْمَلِيءِ لاَ يُمْكِنُ أَخْذُ الْبَدَل مِنْهُ،............ الى ان قال

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ إِلَى

أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لِلْوَصِيِّ تَسْلِيفُ مَال الْيَتِيمِ لأَِحَدٍ عَلَى وَجْهِ الْمَعْرُوفِ وَلَوْ أَخَذَ رَهْنًا، إِذْ لاَ مَصْلَحَةَ لِلْيَتِيمِ فِي ذَلِكَ.

الموسوعة الفقهية الكويتية (43/ 202)

Daftar Pustaka:

1. Hasyiyah Qalyubi. III/ 110

2. Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra. III/ 259

3. Raudlah al-Thalibin Wa ‘Umdah al-Muftin. V/ 349

4. Nihayah al-Muhtaj. IV/ 377

5. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XLIII/ 202

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. S.P. d. I

 

 

Cari Artikel

Statistik

3840805
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2692
2367
20508
3743389
20508
124801
3840805
Your IP: 3.234.214.113
Server Time: 2019-12-06 18:50:38