Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2781816
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
75
1629
4798
2712337
36752
45614
2781816
Your IP: 54.156.39.245
Server Time: 2018-10-17 00:36:29

Arik Artha @ 3 Februari 2016 pukul 11:25 

Assalamualaikum wr wb

Sebelum sholat kita di wajibkan ambil air wudhu dulu.. Mskipun air gak ada kita di wajibkan tayammum...Yang mau aku tanyain apakah wajib bagi orang yg lumpuh sedangkan anggota tubuh ny tidak bisa bergerak..apakah ada cara tersendiri bagi orang yg lumpuh it untuk ber wudhu?di tnggu jwban nya.dan maaf kalo prtnyaannya agak ribet. 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

 

“Adakah cara tersendiri bagi orang yang mengalami lumpuh untuk melaksanakan wudlu’?” 

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al Muasu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i dan Hambali memilih bahwa sesungguhnya diantara kesunahan wudlu’ adalah tidak meminta bantuan (orang lain). Ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi menilai bahwa hal itu merupakan salah satu etika dalam wudlu’. Ilmuan dari kalangan madzhab Hambali menyatakan bahwa diantara kesunahan wudlu’ adalah melaksanakannya sendiri tanpa meminta bantuan, hal ini mengacu pada haditsnya Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mewakilkan bersuci juga sedekahnya kepada seorangpun, beliau melaksanakan dan mengurusnya sendiri. Dan orang yang melaksanakan wudlu’ diperbolehkan meminta bantuan (kepada orang lain) seperti mendekatkan air, atau menyiramkan air atas dirinya, karena sesungguhnya sahabat Mughirah bin Syu’bah radliyallahu ‘anhu berkata “Aku merampungkan atas Nabi dari wudlu’nya”. Dan dari sahabat Safwan bin ‘Asal radliyallahu ‘anhu, beliau berkata “Aku menuangkan air atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wudlu’nya saat dalam perjalanan juga di kediaman beliau”. Namun tidak meminta bantuan adalah lebih utama. Ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i menambahkan bahwa diantara kesunahan wudlu’ adalah tidak meminta bantuan kepada orang lain untuk menuangkan air atas dirinya tanpa ada udzur, karena Nabi lebih sering melakukannya sendiri, dan karena meminta bantuan termasuk dalam kategori bersenang-senang dan bentuk kesombongan, hal itu tidak layak bagi orang yang beribadah, sedang pahala adalah berdasar kadar jeri payahnya, dan hal itu (meminta bantuan) menyalahi kode etik. Sebagian ilmuan menyatakan makruh. Dan meminta bantuan untuk membasuh anggota wudlu’ bukan menuangkan air adalah makruh. Sedang meminta bantuan untuk mendekatkan air adalah diperbolehkan. Jika hal itu dikarenakan sebuah udzur seperti sakit, maka hal itu tidak menyalahi kode etik dan tidak makruh demi mengantisipasi sebuah kesulitan (masyaqat), bahkan hal itu menjadi wajib jika tidak mungkin melaksanakannya tanpa meminta bantuan (orang lain) walaupun dengan upah sekalipun. 

Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani di dalam kitab karyanya (Kasyifah al Saja) menjelaskan tentang macam-macam permintaan bantuan dan hukum-hukumnya dalam sebuah pasal tertentu. Beliau menjelaskan bahwa permintaan batuan/pertolongan terbagi menjadi 4 bagian bahkan lebih (dan seterusnya), dan yang wajib adalah bagi orang yang mengalami sakit dan tidak mampu, maka wajib memberikan pertolongan atas orang yang tidak mampu walaupun dengan upah yang melebihi kadar dalam zakat fitrah. Jika tidak, maka ia (orang sakit) wajib melaksanakan shalat dengan tayamum serta wajib mengulang (pada saat telah sembuh), demikian juga orang yang tidak mampu berdiri dalam shalat kecuali dengan (penyanggah) tertentu. 

Dengan demikian, tidak ada cara husus tentang cara wudlu' orang yang mengalami kelumpuhan (stroke), dan meminta tolong kepada orang lain dalam pelaksaannya merupakan solusi baginya. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ مِنْ سُنَنِ الْوُضُوءِ عَدَمَ الاِسْتِعَانَةِ ، وَعَدَّ الْحَنَفِيَّةُ ذَلِكَ مِنْ آدَابِ الْوُضُوءِ . قَال الْحَنَابِلَةُ : مِنْ سُنَنِ الْوُضُوءِ أَنْ يَتَوَلَّى الشَّخْصُ وُضُوءَهُ بِنَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ مُعَاوَنَةٍ ؛ لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا : كَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَكِل طَهُورَهُ إِلَى أَحَدٍ ، وَلاَ صَدَقَتَهُ الَّتِي يَتَصَدَّقُ بِهَا إِلَى أَحَدٍ ، يَكُونُ هُوَ الَّذِي يَتَوَلاَّهَا بِنَفْسِهِ (2) ، وَتُبَاحُ مُعَاوَنَةُ الْمُتَوَضِّئِ كَتَقْرِيبِ مَاءِ الْوُضُوءِ أَوْ صَبِّهِ عَلَيْهِ ، لأَِنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : " أَفْرَغَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَضُوئِهِ (3) . وَعَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَال : " صَبَبْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءَ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ فِي الْوُضُوءِ (1) . وَتَرْكُ الْمُعَاوَنَةِ أَفْضَل . وَزَادَ الشَّافِعِيَّةُ فَقَالُوا : مِنْ سُنَنِ الْوُضُوءِ تَرْكُ الاِسْتِعَانَةِ بِالصَّبِّ عَلَيْهِ لِغَيْرِ عُذْرٍ ؛ لأَِنَّهُ الأَْكْثَرُ مِنْ فِعْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلأَِنَّ الاِسْتِعَانَةَ نَوْعٌ مِنَ التَّنَعُّمِ وَالتَّكَبُّرِ ، وَذَلِكَ لاَ يَلِيقُ بِالْمُتَعَبِّدِ ، وَالأَْجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ ، وَهِيَ خِلاَفُ الأَْوْلَى ، وَقِيل : تُكْرَهُ ، وَالاِسْتِعَانَةُ بِغَسْل الأَْعْضَاءِ لاَ بِالصَّبِّ مَكْرُوهَةٌ ، أَمَّا الاِسْتِعَانَةُ بِإِحْضَارِ الْمَاءِ فَهِيَ لاَ بَأْسَ بِهَا ، أَمَّا إِذَا كَانَ ذَلِكَ لِعُذْرٍ كَمَرَضٍ فَلاَ تَكُونُ الاِسْتِعَانَةُ خِلاَفَ الأَْوْلَى وَلاَ مَكْرُوهَةً دَفْعًا لِلْمَشَقَّةِ ، بَل قَدْ تَجِبُ إِذَا لَمْ يُمْكِنْهُ التَّطَهُّرُ إِلاَّ بِهَا وَلَوْ بِبَذْل أُجْرَةٍ مَثَلاً . الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 43 / ص 371)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

فصل فى أنواع الإستعانة وأحكامها (الإستعانات أربع خصال) بل أكثر ----------- (والواجبة هي للمريض عند العجز) أي فيجب الإعانة على العاجز ولو بأجرة مثل إن فضلت عما يعتبر فى زكاة الفطر وإلا صلى بالتيمم وأعاد ومثله من لم يقدر على القيام فى الصلاة إلا بمعين. كاشفة السجا - (ص 106) 

 

Daftar Pustaka:

1. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. XLIII/ 371

2. Kasyifah al Saja. 106

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I