Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2878122
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1175
1306
2481
2809480
16385
48266
2878122
Your IP: 34.228.41.66
Server Time: 2018-12-10 16:21:00

Rita Luthfiyah @ 13 Februari 2016

Assalamu'alaikum wr wb, Ada pertanyaan dri sdr, dia hampir melahirkan dan sdh pembukaan 1 dan sdh 3 hari ini ngluarin darah,, yg ditanyakan darah tsb dihukumi darah apa ? Trims.. Wassalam

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Dihukumi darah apakah darah yang keluar sebelum melahirkan?”

Imam Abdurrahman al Jaziri di dalam kitabnya (al Fiqh ‘Ala Madzahib al Arba’ah) menjelaskan dengan mengutip pernyataan dari beberapa ilmuan lintas madzhab sebagaimana berikut:

  • Ilmuan dari kalangan madzhab Maliki menyatakan bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan adalah darah haidl.
  • Ilmuan dari kalangan madzhab Hambali menyatakan bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan dua atau tiga hari dan darah yang keluar saat kelahiran adalah di kategorikan darah nifas.
  • Ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa disyaratkan dalam kepastian darah nifas, darah tersebut keluar setelah kosongnya rahim dari anak setelah keluar semuanya. Jika yang keluar sebagian anak, atau sebagian besarnya (belum keluar semuanya), maka darah yang keluar bukanlah darah nifas. Arti dari kalimat “setelah melahirkan” adalah antara melahirkan dan keluarnya darah tidak tidak terpaut waktu 15 hari atau lebih. Jika keluar darah setelah 15 hari pasca melahirkan, maka darah yang keluar adalah darah haidl (dengan ketentuannya). Adapun darah yang keluar bersamaan dan sebelum keluarnya anak bukan darah nifas, melainkan darah haidl jika ia sedang mengalami haidl, karena terkadang wanita hamil juga mengalami haidl. Jika ia tidak sedang haidl, maka dikategorikan darah rusak (istihadlah).
  • Ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan bahwa darah yang sebelum sempurnanya kelahiran atau sebelumnya adalah darah rusak.

Imam Abu al Hasan al Mawardi di dalam kitabnya (al Hawi al Kabir) juga menjelaskan bahwa jika perempuan melihat darah dalam masa kelahiran, maka ada dua macam; pertama darah yang keluar bersamaan dengan proses kelahiran. Kedua darah yang keluar sebelum proses kelahiran. Dan jika darah tersebut keluar sejak sebelum proses kelahiran, maka tidak akan lepas dari dua kemungkinan, yaitu antara berkesinambungan dengan darah pasca melahirkan dan tidak. Jika darah tersebut tidak berkesinambungan dengan darah pasca melahirkan dan terputus sebelumnya, maka tidak dikategorikan darah nifas. Sahabat-sahabat kami tidak berbeda pendangan dalam masalah ini. Darah semacam itu adalah sebagaimana darah atas kehamilannya, apakah itu darah haidl atau bukan? Dalam hal ini ada dua pendapat; pendapat terdahulu (qaul qadim) Imam Syafi’i yang juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa darah semacam itu adalah darah rusak, bukan darah haidl. Pendapat kedua adalah pendapat terbaru (qaul jadid) Imam Syafi’i yang juga merupakan pendapat Imam Malik menyatakan bahwa darah semcam itu adalah darah haidl (dengan ketentuannya), dan kami akan memberikan pengarahan tentang dua pendapat tersebut dalam “Kitab al ‘Idad”. Dan jika darah tersebut berkesinambungan dengan darah pasca melahirkan, maka sahabat-sahabat kami berbeda pandangan. Pendapat pertama adalah pendapat Imam Abu Thayyib bin Salmah yang menyatakan bahwa darah tersebut dikategorikan darah nifas. Pendapat kedua adalah pendapat Imam Abu Ishaq al Marwazi yang menyatakan bahwa darah sebelum melahirkan bukan darah nifas, karena nifas dimulai setelah melahirkan, maka tidak boleh mendahuluinya. Mengacu pada dua pendapat ini, jika perempuan melahirkan dua anak sedang ia mengeluarkan darah sejak anak pertama dan berkesinambungan dengan anak kedua, maka pendapat pertama menyatakan bahwa ia mengalami nifas sejak keluarnya darah beserta anak pertama. Pendapat kedua menyatakan ia mengalami nifas pasca melahirkan anak kedua.

Dari pemaparan tersebut di atas, secara eksplisit dapat diketahui bahwa status darah yang keluar sebelum melahirkan adalah hilaf. Dan jika mengacu pada pendapat ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i, maka diperinci sebagai berikut:

a) Jika darah tersebut tidak berkesinambungan dengan darah pasca melahirkan, maka bukan darah nifas. Pendapat terdahulu Imam Syafi’i menyatakan bahwa darah semacam itu adalah darah rusak (bukan haidl). Sedang dalam pendapat terbarunya, Imam Syafi’i menyatakan darah haidl jika ia sedang haidl, jika tidak, maka dikategorikan darah rusak.

b) Jika darah tersebut berkesinambungan dengan darah pasca melahirkan, maka terjadi pro dan kontra (hilaf):

  • Sebagian ilmuan menyatakan darah tersebut dikategorikan sebagai darah nifas.
  • Sebagian ilmuan menyatakan darah tersebut tidak dikategorikan sebagai darah nifas, karena darah nifas adalah darah yang keluar pasca melahirkan bukan sebelumnya. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

أما الدم الذي يخرج قبل الولادة فهو دم حيض عندهم  الحنابلة قالوا : إن الدم النازل قبل الولادة بيومين أو ثلاثة مع أمارة كالطلق والدم الخارج مع الولادة يعتبر نفاسا كالدم الخارج عند الولادة  الشافعية قالوا : يشترط في تحقق أنه دم نفاس أن يخرج الدم بعد فراغ الرحم من الولد بأن يخرج كله فلو خرج بعض الولد أو أكثره لا يكون دم نفاس ومعنى كونه عقب الولادة أن لا يفصل بينه وبينها خمسة عشر يوما فأكثر وإلا كان دم حيض أما الدم الذي يصاحب الولد وينزل قبل الطلق فليس هو دم نفاس بل هو دم حيض إن كانت حائضا لأن الحامل قد تحيض عندهم كما تقدم وإن لم تكن حائضا فهو دم فاسد الحنفية قالوا : إن الدم الذي يخرج عند خروج أكثر الولد هو دم نفاس كالدم الذي يخرج عقب خروجه أما الدم الذي يخرج بخروج أقل الولد أو قبله فهو فساد  . الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 1 / ص 112)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

فَصْلٌ : وَإِنْ رَأَتْ فِي وِلَادَتِهَا دَمًا فَعَلَى ضَرْبَيْنِ : أَحَدُهُمَا : أَنْ يَبْتَدِئَ بِهَا مَعَ الْوِلَادَةِ . وَالثَّانِي : أَنْ يَبْتَدِئَ بِهَا قَبْلَ الْوِلَادَةِ ، فَإِنْ بَدَأَ بِهَا الدَّمُ قَبْلَ الْوِلَادَةِ للنفساء فَلَا يَخْلُو مِنْ أَنْ يَتَّصِلِ بِدَمِ الْوِلَادَةِ أَمْ لَا ، فَإِنْ لَمْ يَتَّصِلْ إِلَى مَا بَعْدَ الْوِلَادَةِ ، وَانْقَطَعَ قَبْلَهَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ الدمُ نِفَاسًا ، لَا يَخْتَلِفُ أَصْحَابُنَا فِيهِ ، كَانَ كَالَّذِي تَرَاهُ الْمَرْأَةُ مِنَ الدَّمِ عَلَى حَمْلِهَا هَلْ يَكُونُ حَيْضًا أَمْ لَا ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ : أَحَدُهُمَا : قَالَهُ فِي الْقَدِيمِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ يَكُونُ دَمَ فَسَادٍ ، فَلَا يَكُونُ حَيْضًا . وَالْقَوْلُ الثَّانِي : قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ يَكُونُ حَيْضًا وَسَنَذْكُرُ تَوْجِيهَ الْقَوْلَيْنِ فِي مَوْضِعِهِ مِنْ كِتَابِ الْعَدَدِ ، وَإِنِ اتَّصَلَ الدَّمُ بِمَا بَعْدَ الْوِلَادَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا : وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الطِّيِّبِ بْنِ سَلَمَةَ أَنَّهُ دَمُ نِفَاسٍ ، وَإِنَّ أَوَّلَ نِفَاسِهَا مِنْ حِينِ بَدَأَ بِهَا الدَّمُ قَبْلَ الْوِلَادَةِ لِاتِّصَالِهِ بِهَا وَكَوْنِهِ أَحَدَ أَسْبَابِهَا . وَالْوَجْهُ الثَّانِي : وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّ مَا تَقَدَّمَ الْوِلَادَةَ لَيْسَ بِنِفَاسٍ ، وَإِنَّ أَوَّلَ النِّفَاسِ مَا بَعْدَ الْوِلَادَةِ : لِأَنَّ دَمَ النِّفَاسِ مَا بَقِيَ مِنْ غِذَاءِ الْمَوْلُودِ مِنَ الْحَيْضِ ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَقَدَّمَ عَلَيْهِ ، فَعَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ ، لَوْ وَلَدَتْ وَلَدَيْنِ وَرَأَتْ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمَا دَمًا ، وَاتَّصَلَ الجزء الأول < 439 >  بِوِلَادَةِ الثَّانِي فَعَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ يَكُونُ نِفَاسُهَا مِنْ حِينِ رَأَتِ الدَّمَ مَعَ الْأَوَّلِ ، وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي يَكُونُ أَوَّلُهُ بَعْدَ وِلَادَةِ الثَّانِي . . الحاوى الكبير ـ الماوردى - (ج 1 / ص 894)

 

Daftar Pustaka:

  1. Al Fiqh ‘Ala Madzahib al Arba’ah. I/ 122
  2. Al Hawi al Kabir. I/ 894

 

=========

 

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)


MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
  2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik