Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2517317
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
968
2473
5388
2437012
51321
71119
2517317
Your IP: 54.80.247.119
Server Time: 2018-06-19 12:46:48

Leni Dita Bung @ 10 Maret 2016 pukul 13:13 • Poerworedjo, Indonesia 

Assalamualaikum...  Bolehkah wanita haid duduk atau bermain rebana di teras masjid seperti gambar berikut... Mohon penjelasanya. Makasih.. 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Di dalam gambar terlihat teras sebuah Masjid. 

“Bagaimanakah hukum wanita yang sedang haidl duduk di teras Masjid?” 

Imam Muhammad al-Sharbini al-Khatib di dalam kitabnya (al Iqna’ Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’) menjelaskan bahwa yang no. 5 (dari hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang sedang mengalami menstruasi) adalah masuk ke dalam Masjid, baik berdiam atau mondar-mandir (dan seterusnya). Dikecualikan dengan kalimat “berdiam dan mondar-mandir” adalah lewat di Masjid jika tidak ada kehawatiran mengotorinya. Dan dikecualikan dari “Masjid” adalah madrasah, pondok, mushalla, dan lain sebagianya. 

Imam Taqiyuddin; Abu Bakar bin Muhammad al Hisni al Syafi’i di dalam kitabnya (Kifayah al Akhyar) juga menegaskan bahwa diantara hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang sedang mengalami haidl adalah masuknya ke dalam Masjid dengan duduk, berdiam walaupun berdiri atau mondar-mandir, karena hal itu juga diharamkan bagi orang junub, dan tidak diragukan lagi bahwa hadats wanita yang sedang haidl lebih kuat dari padanya. Jika ia masuk ke dalam Masjid dengan berjalan, maka pendapat shahih menyatakan boleh sebagaimana orang junub, dan letak pro dan kontra adalah ketika ia aman dari mengotori Masjid dengan memakai pembalut dan melakukan pencawatan. Jika khawatir mengotorinya, maka haram tanpa adanya pro dan kontra. Syaikh Muhammad Ali bin Husain al Makki al Maliki di dalam kitabnya (Inarah al Duja) juga menambahkan bahwa termasuk dalam Masjid adalah bagian udaranya dan hal-hal yang berkaitan dengan Masjid, dan semisal atap, dahan pohon yang pangkalnya diluar, dan tidak sebaliknya juga halaman atau serambi Masjid.

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Majmu’ Syarh al Muhaddzab) juga menjelaskan dalam sebuah cabang hukum dengan menyatakan “Kami telah menuturkan bahwa menara yang berada di halaman Masjid, maka diperbolehkan bagi orang yang adzan atau yang lain untuk menaikinya, dan hal itu tidak menyebabkan batalnya i’tikaf, hal ini juga diulas oleh Imam Syafi’i dan disepakati oleh sahabat-sahabat kami. Dan suatu hal yang penting adalah menjelaskan hakikat teras atau halaman Masjid. Pengarang kitab “al Syamil” dan “al Bayan” menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teras adalah sesuatu yang disandarkan pada Masjid, keduanya menyatakan bahwa teras adalah bagian dari Masjid. Pengarang kitab “al Bayan” dan yang lain berkata ‘Imam Syafi’i menyatakan keafsahan i’tikaf di teras’. Imam al Qadli; Abu Thayyib di dalam kitab “al Mujarrad” berkata bahwa Imam Syafi’i menyatakan bahwa sah melaksanakan i’tikaf di serambi-serambi Masjid, karena termasuk dalam bagiannya.

Dari pemaparan tersebut di atas, secara eksplisit dapat diketahui bahwa wanita yang sedang haidl haram duduk di teras Masjid, karena teras termasuk dalam bagian Masjid. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

(و) الخامس (دخول المسجد) بمكث أو تردد .....الى ان قال وخرج بالمكث والتردد العبور للآية المذكورة إذا لم تخف الحائض تلويثه، وخرج بالمسجد المدارس والربط ومصلى العيد ونحو ذلك،الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع - (ج 1 / ص 92)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

( ودخول المسجد )  دخولها المسجد إن حصل معه جلوس أو لبث ولو قائمة أو ترددت حرم عليها ذلك لأن الجنب يحرم عليه ذلك ولا شك أن حدثها أشد من الجنابة وإن دخلت مارة فالصحيح الجواز كالجنب ومحل الخلاف إذا أمنت تلويث المسجد بأن تلجمت واستثفرت فإن خافت التلويث حرم بلا خلاف . كفاية الأخيار - (ج 1 / ص 78)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

قوله ( ومكث ) أي ولو حكما بدليل قوله ولو مترددا  قال حج وهل ضابطه كما في الاعتكاف بالزيادة أو ما هنا بأدنى طمأنينة لأنه أغلظ كل محتمل والثاني أقرب . حاشية البجيرمي - (ج 1 / ص 92)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

ثانيها عن (الإقامة) اي المكث (في مسجد) ومثله التردد –الى ان قال- ودخل في المسجد هواؤه وما اتصل به (و) من نحو روشن وغصن شجرة اصلها خارج لا عكسه ورحبته . انارة الدجى على تنوير الحجا ص 66 مكتبة اوسها كلواركا سماراع

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

{ فرع } قد ذكرنا أن المنارة التي في رحبة المسجد يجوز للمؤذن وغيره صعودها ولا يبطل الاعتكاف بذلك نص عليه الشافعي واتفق الاصحاب عليه ومن المهم بيان حقيقة هذه الرحبة قال صاحب الشامل والبيان المراد بالرحبة ما كان مضافا إلى المسجد محجرا عليه قالا والرجبة من المسجد قال صاحب البيان وغيره وقد نص الشافعي علي صحه الاعتكاف في الرحبة قال القاضي أبو الطيب في المجرد قال الشافعي يصح الاعتكاف في رحاب المسجد لانها من المسجد . المجموع شرح المهذب - (ج 6 / ص 507)

  

Daftar Pustaka:

1. Al Iqna’ Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’. I/ 92

2. Kifayah al Akhyar. I/ 78

3. Hasyiyah al Bujairami. I/ 92

4. Inarah al Duja. 66

5. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. VI/ 507

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I

 

Link Diskusi: Disini