Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2380239
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2159
7386
16720
2293792
65698
80405
2380239
Your IP: 54.224.99.70
Server Time: 2018-04-26 15:26:42

Maria Fauzi 12 Mei 2016 pukul 3:48

Assalamu'alaikum wr. Wb seblumnya izinkan saya meceritakan kronologinya. begini, atap rumah saya itu di tinggali induk kucing yg kebetulan melahirkan beberapa anaknya. otomatis kencing dan kotoran juga ada di atap rumah. terus turun hujan yg menyebabkan kebocoran. pertanyaannya... bagaimana hukum air dari kebocoran yg tentu saja melalui atap yg ada kencing dan kotoran kucing?

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum air dari kebocoran atap yang terdapat najis sebagaimana dalam deskripsi masalah tersebut di atas?”

Syaikh Nidham dan sekelompok ilmuan dari India di dalam kitabnya (al-Fatawa al-Hindi) menjelaskan bahwa jika di atas atap rumah terdapat kotoran, kemudian terkena hujan, lalu saluran air mengalami bocor, jika najis berada disekitar saluran dan air mengenahi kotoran tersebut, maka hukumnya najis, jika tidak, maka suci. Dan jika kotoran di atas atap tersebut berada ditempat yang terpisah dan tidak berada dipucuk saluran, maka tidak najis dan hukumnya adalah sebagaimana air mengalir, sebagaimana yang diuraikan di dalam kitab “Siraju al-Wahhaj”. Dalam sebagian fatwanya, guru-guru kami menyatakan bahwa hujan selama masih berlangsung, maka hukumnya sama dengan air mengalir, bahkan jika mengenahi kotoran yang berada di atas atap lalu mengenahi pakaian, maka tidak menajiskan kecuali mengalami perubahan. Air hujan ketika mengenahi atap yang terdapat najis, kemudian menetes dan mengenahi pakaian, pendapat shahih menyatakan jika hujan tidak terputus (belum reda), maka yang mengalir dari atap adalah suci. Demikian uraian yang terdapat di dalam kitab “al-Muhith”, sedang di dalam kitab “al-‘Attabiyah” ditambahkan jika tidak mengalami perubahan.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum air dari kebocoran atap yang terdapat najis adalah diperinci sebagai berikut: • Apabila semua air bertemu dengan najis yang berada di atas atap, maka air yang mengalir (darinya) adalah najis. • Apabila najis berada ditempat yang terpisah, maka air yang mengalir (darinya) tidak najis selagi tidak mengalami perubahan dalam sifatnya, dan hukumnya seperti air mengalir. • Apabila disebagian atap ada najis dan hujan terus mengguyur, maka air yang mengalir adalah suci. • Apabila hujan berhenti dan air terus mengalir dari atap yang terdapat najis, maka air yang mengalir tersebut adalah najis. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

وَلَوْ كان على السَّطْحِ عَذِرَةٌ فَوَقَعَ عليه الْمَطَرُ فَسَالَ الْمِيزَابُ أن كانت النَّجَاسَةُ عِنْدَ الْمِيزَابِ وكان الْمَاءُ كُلُّهُ يُلَاقِي الْعَذِرَةَ أو أَكَثْرُهُ أو نِصْفُهُ فَهُوَ نَجَسٌ وَإِلَّا فَهُوَ طَاهِرٌ وأن كانت الْعَذِرَةُ على السَّطْحِ في مَوَاضِعَ مُتَفَرِّقَةٍ ولم تَكُنْ على رَأْسِ الْمِيزَابِ لَا يَكُونُ نَجَسًا وَحُكْمُهُ حُكْمُ الْمَاءِ الْجَارِي كَذَا في السِّرَاجِ الْوَهَّاجِ وفي بَعْضِ الفتاوي قال مَشَايِخُنَا الْمَطَرُ ما دَامَ يُمْطِرُ فَلَهُ حُكْمُ الْجَرَيَانِ حتى لو أَصَابَ الْعَذِرَاتِ على السَّطْحِ ثُمَّ أَصَابَ ثَوْبًا لَا يَتَنَجَّسُ إلَّا أَنْ يَتَغَيَّرَ الْمَطَرُ إذَا أَصَابَ السَّقْفَ وفي السَّقْفِ نَجَاسَةٌ فَوَكَفَ وَأَصَابَ الْمَاءُ ثَوْبًا فَالصَّحِيحُ انه إذَا كان الْمَطَرُ لم يَنْقَطِعْ بَعْدُ فما سَالَ من السَّقْفِ طَاهِرٌ هَكَذَا في الْمُحِيطِ وفي الْعَتَّابِيَّةِ إذَا لم يَكُنْ مُتَغَيِّرًا كَذَا في التتار خانية. الفتاوى الهندية - (ج 1 / ص 17)

Daftar Pustaka:

1. al-Fatawa al-Hindi. I/ 17

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I