Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2782518
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
777
1629
5500
2712337
37454
45614
2782518
Your IP: 54.162.118.107
Server Time: 2018-10-17 09:15:34

Achmad Sultoni @ 12 Januari pukul 10:54 

Assalamualikum warahmah.....mohon di bahaskan hukum jual beli pada foto di bawah ini....jika sudah ada doc. mohon di sundulkan  Atas jawabannya saya ucapkan terimakasih..... 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Di dalam gambar terlihat seorang anak kecil meletakkan sejumlah uang dan mengambil minuman yang dikeluarkan oleh mesin. 

“Bagaimanakah hukum jual beli melalui mesin?” 

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Majmu’ Syarh al Muhaddzab) menyatakan bahwa sekelompok sahabat-sahabat kami (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) memilih kebolehan menjual dengan system serah terima (mu’athah) dalam hal yang masih dikategorikan penjualan. al Nawawi juga mengutip pernyataan Imam Malik yang menyatakan bahwa setiap sesuatu yang dianggap oleh masyarakat sebagai system jual beli, maka hal itu adalah jual beli. Dan diantara sahabat kami yang memilih bahwa system serah terima dalam hal yang dianggap jual beli itu sah, dan sesuatu yang dianggap oleh masyarakat sebagai jual beli itu merupakan jual beli adalah penulis kitab “al Syamil”, Imam al Mutawali, Imam al Baghawi, dan Imam al Rauyani. Bahkan Imam al Mutawali mengklaim bahwa ini merupakan pendapat yang dipilih untuk fatwa, demikian juga klaim Ulama’ yang lain, karena sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli, dan ungkapan yang tidak ditetapkan di dalam syara’ untuk sebuah transaksi jual beli, maka harus dikembalikan pada adat kebiasaan. 

Ketika sesuatu dianggap oleh kalangan masyarakat sebagai jual beli, maka hal itu adalah jual beli. Dan hadits-hadits Nabi pada eranya, serta para sahabat setelah era Nabi yang berkenaan dengan jual beli yang telah populer, kebanyakan menyaratkan adanya ijab qabul. al-Nawawi juga menyatakan bahwa yang terbaik dalam masalah ini adalah pemaparan Imam al Mutawali yang menyatakan bahwa system serah terima yang berlaku dikalangan masyarakat, yakni dengan menghitung sejumlah uang lalu mengambil barang tanpa ijab dan qabul bukan merupakan jual beli, mengacu pada pendapat yang paling populer dari kalangan madzhab Syafi’i. Sedang Imam Ibnu Sarij berkata “Setiap sesuatu yang berlaku dikalangan masyarakat dengan system serah terima dan dianggap jual beli, maka hal itu adalah jual beli, sedang yang tidak berlaku dikalangan masyarakat dengan system serah terima seperti hewan ternak, dan pekarangan, bukanlah jual beli”. Pendapat ini merupakan pendapat terpilih untuk fatwa yang juga merupakan pendapat Imam Malik. Namun Imam Abu Hanifah berkata “System serah terima adalah termasuk kategori jual beli dalam perkara yang kecil dan tidak berharga, sedang dalam perkara yang berharga tinggi, harus adanya ijab dan qabul”.  

Imam Ibnu Qasim al-Ghazi di dalam kitabnya (al Bajuri) juga menjelaskan bahwa tidak sah jual beli dengan system serah terima, dan ia harus mengembalikan yang masih ada, dan harus mengganti jika rusak, maka tidak akan ada tuntutan kelak di akhirat. Namun Imam Nawawi dan sekelompok ilmuan menyatakan keafsahan jual beli dengan system semacam itu dalam setiap hal yang dianggap oleh kalangan masyarakat sebagai jual beli, karena dalam kontek jual beli berporos atas kerelaan dua orang yang melakukan transaksi, dan tidak disyaratkan harus dengan ucapan, maka dikembalikan pada kebiasaannya. Sebagian ilmuan yang lein menspesialkan kebolehan tersebut dalam hal/barang yang tidak berharga tinggi, seperti roti dan lain sebagaimnya, maka seyogyanya mengikuti pendapat yang memperbolehkan demi menghindari dosa, karena hal ini sering terjadi. 

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hukum jual beli melalui mesin sebagaimana yang berlaku disebagian Negara adalah hilaf sebagaimana berikut: 

• Sebagian pendapat menyatakan tidak sah karena tidak adanya ijab dan qabul.

• Sebagian pendapat yang lain menyatakan sah jika memang telah berlaku dikalangan masyarakat dan barang yang diperjual belikan bukan barang berharga. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori: 

وَاخْتَارَ جَمَاعَاتٌ مِنْ أَصْحَابِنَا جَوَازَ الْبَيْعِ بالمعاطاة فيما يعد بيعا وقال مالك كلما عَدَّهُ النَّاسُ بَيْعًا فَهُوَ بَيْعٌ وَمِمَّنْ اخْتَارَ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّ الْمُعَاطَاةَ فِيمَا يُعَدُّ بَيْعًا صَحِيحَةٌ وَأَنَّ مَا عَدَّهُ النَّاسُ بَيْعًا فَهُوَ بَيْعٌ صَاحِبُ الشَّامِلِ وَالْمُتَوَلِّي وَالْبَغَوِيُّ وَالرُّويَانِيُّ وَكَانَ الرويانى يُفْتِي بِهِ وَقَالَ الْمُتَوَلِّي وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَارُ لِلْفَتْوَى وَكَذَا قَالَهُ آخَرُونَ وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَارُ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَحَلَّ الْبَيْعَ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي الشَّرْعِ لَفْظٌ لَهُ فَوَجَبَ الرُّجُوعُ إلَى العرف فكلما عَدَّهُ النَّاسُ بَيْعًا كَانَ بَيْعًا كَمَا فِي الْقَبْضِ وَالْحِرْزِ وَإِحْيَاءِ الْمَوَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْأَلْفَاظِ الْمُطْلَقَةِ فَإِنَّهَا كُلَّهَا تُحْمَلُ عَلَى الْعُرْفِ وَلَفْظَةُ الْبَيْعِ مَشْهُورَةٌ وَقَدْ اشْتَهَرَتْ الْأَحَادِيثُ بِالْبَيْعِ من النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي زَمَنِهِ وَبَعْدَهُ وَلَمْ يَثْبُتْ في شئ مِنْهَا مَعَ كَثْرَتِهَا اشْتِرَاطُ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ وَاَللَّهُ أعلم

* وأحسن من هَذِهِ الْمَسْأَلَةَ وَأَوْضَحَهَا الْمُتَوَلِّي فَقَالَ الْمُعَاطَاةُ الَّتِي جَرَتْ بِهَا الْعَادَةُ بِأَنْ يَزِنَ النَّقْدَ وَيَأْخُذَ الْمَتَاعَ مِنْ غَيْرِ إيجَابٍ وَلَا قَبُولٍ لَيْسَتْ بَيْعًا عَلَى الْمَشْهُورِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَالَ ابْنُ سُرَيْجٍ كُلُّ مَا جَرَتْ الْعَادَةُ فِيهِ بِالْمُعَاطَاةِ وَعَدَّهُ بَيْعًا فَهُوَ بَيْعٌ وَمَا لَمْ تَجْرِ فِيهِ الْعَادَةُ بِالْمُعَاطَاةِ كَالْجَوَارِي وَالدَّوَابِّ وَالْعَقَارِ لَا يَكُونُ بَيْعًا قَالَ وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَارُ لِلْفَتْوَى

* وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ المعاطاة بيع في المحقرات فاما النفيس فلابد فِيهِ مِنْ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ المجموع شرح المهذب (9/ 162(

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan: 

(قوله ولا بد في البيع الى اخره)........ الى ان قال – فلا يصح البيع بالمعاطاة ويرد كل ما اخذه ان بقي او بدله ان تلف فلا مطالبة به في الاخرة لطيب النفس به واختار النووي وجماعة صحة البيع بها في كل ما يعد الناس بيعا لان المدار فيه على رضا المتعاقدين ولم يثبت اشتراط لفظ فيرجع فيه اى العرف وخصص بعضهم جوازه بالمحقرات كرغيف عيش ونحوه فينبغي تقليد القائل بالجواز للخروج من الإثم فإنه مما ابتلي به كثيرا اه الباجوري – 1 – 341

 

Daftar Pustaka:

1. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. IX/ 162

2. Al Bajuri. I/ 341

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Chaniago

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik

 

EDITOR: 

Al-Ustadzah Naumy Syarif

 

Link Diskusi: Klik Disini