Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2634032
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1045
1154
5131
2564294
25655
70732
2634032
Your IP: 54.156.85.167
Server Time: 2018-08-15 15:09:24

Abd Muhyi @27 Januari 2016 pukul 7:42 

Assalaamu alaikum wr wb . Minta barokah ilmunya ustzd/ustadah

Bagaimana hukumnya sipenerima aqiqoh menjual aqiqoh tsb tampa mengalir darahnya/di jual hidup" Apa ada mazdhab yg memperbolehkan/tdk Skian terima kch 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

“Bagaimanakah hukum wakil menjual hewan aqiqah yang ia terima?” 

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Majmu’ Syarh al Muhaddzab) menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunah, aqiqah adalah hewan yang disembelih atas nama seorang anak yang dilahirkan, berdasar sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan aqiqah atas nama Hasan dan Husain, dan hal itu tidak wajib berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abi Sa’id dari bapaknya yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya perihal aqiqah, maka beliau menjawab “Aku tidak suka dengan kedurhakaan, barang siapa mendapatkan kelahiran anak dan ingin menyembelih atas nama anak tersebut, maka laksanakanlah.” Kalimat tersebut dikaitkan dengan “keinginan”, dan itu menunjukkan bahwa aqiqah tidak wajib, dan karena aqiqah adalah mengalirkan darah bukan karena sebuah hukuman ataupun nadzar. 

Dalam kesempatan lain, Imam Nawawi juga menjelaskan tentang hukum-hukum terkait dengan aqiqah. Beliau berkata “Sahabat-sahabat kami (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) menyatakan bahwa hukum-hukum dalam mensedekahkannya, memakan, menghadiahkan, kadar yang dimakan, larangan untuk menjualnya, kambing tertentu ketika telah ditentukan sebagai aqiqah, adalah sebagaimana yang telah kami ulas dalam bab kurban, keduanya sama dan tidak ada perbedaan.” Masih di dalam literatur yang sama, Imam Nawawi juga menyatakan bahwa uraian Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya telah disepakati bahwa tidak boleh menjual sesuatu dari hadiah dan aqiqah, baik bersifat sunah atau nadzar (wajib), baik daging, lemak, kulit, tanduk, kulit dan lain sebagainya, juga tidak boleh menjadikan kulit sebagai upah tukang jagal, melainkan harus disedekahkan, atau ia (orang yang berkurban/yang memberikan hadiah) boleh mengambil sesuatu yang bermanfa’at dengan materinya, seperti mengambil kulit sebagai wadah air, timba, sejenis sepatu dan lain sebagainya. 

Imam Nawawi juga mengingatkan bahwa seorang wakil tidak memiliki wewenang untuk mengelola kecuali sebatas yang dituntut oleh orang yang mewakilkan baik dari sisi yang diucapkan, atau convensi (kebiasaan yang berlaku), karena pengelolaannya adalah berdasar izin, maka ia tidak memiliki kecuali sebatas yang diizinkan, sedang izin dapat diketahui dengan ucapan dan kebiasaan. 

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa status penerima hewan aqiqah dalam deskripsi masalah adalah wakil, sehingga ia tidak boleh mengelola kambing tersebut atas kemauannya sendiri, melainkan wewenangnya terpatri atas izin orang yang mewakilkan. Maka seharusnya kambing tersebut disembelih sebagai aqiqah atas nama anak orang yang mewakilkan. Lantas, apabila kambing tersebut tidak disembelih (dengan izin orang yang mewakilkan), melainkan diternak, dijual, dan lain sebagainya, maka nilainya sama dengan sedekah dan bukan sebagai aqiqah. Wallahu a’lam bis shawab. 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

قال المصنف رحمه الله: العقيقة سنة وهو ما يذبح عن المولود لما روي بريدة أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين عليهما السلام ولا يجب ذلك لما روي عبد الرحمن بن أبي سعيد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن العقيقة فقال لا أحب العقوق ومن ولد له ولد فاحب أن ينسك له فليفعل فعلق على المحبة فدل على أنها لا تجب ولانه إراقة دم من غير جناية ولا نذر فلم يجب كالاضحية . المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 426(

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

قال أصحابنا حكم العقيقة في التصدق منها والاكل والهدية والادخار وقدر المأكول وامتناع البيع وتعين الشاة إذا عينت للعقيقة كما ذكرنا في الاضحية سواء لا فرق بينهما . المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 432(

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

واتفقت نصوص الشافعي والاصحاب على انه لا يجوز بيع شئ من الهدي والاضحية نذرا كان أو تطوعا سواء في ذلك اللحم والشحم والجلد والقرن والصوف وغيره ولا يجوز جعل الجلد وغيره اجرة للجزار بل يتصدق به المضحي والمهدي أو يتخذ منه ما ينتفع بعينه كسقاء أو دلو أو خف وغير ذلك . المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 419)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

ولا يملك الوكيل من التصرف إلا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق أو من جهة العرف لان تصرفه بالاذن فلا يملك الا ما يقتضيه الاذن والاذن يعرف بالنطق وبالعرف فان تناول الاذن تصرفين. المجموع شرح المهذب - (ج 14 / ص 109(

  

Daftar Pustaka:

1. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. VIII/ 426

2. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. VIII/ 432

3. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. VIII/ 419

4. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. XIV/ 109

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik SP.d I