Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2518004
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1655
2473
6075
2437012
52008
71119
2518004
Your IP: 54.144.16.135
Server Time: 2018-06-19 21:56:44

Ardy Gio Nata @ 31 Maret 2016 pukul 10:36

Assalamu'alaikum.

1.Bagaimana hukumnya jual beli borong hasil pertanian seperti kacang tanah ,singkong, ubi, dan umbi umbian lainnya sebelum masa panen....??

2..apakah boleh kita membeli hasil pertanian dimana buahnya atau isinya masih berada di dalam tanah. Minta penjelasanya ustad/ustadzah trima kasih

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum jual beli hasil pertanian seperti kacang tanah, singkong, dan lain sebagainya yang masih berada di dalam tanah?”

Sayyid Abdullah bin Husain bin Thahir di dalam kitabnya (Sullam al Taufiq) menyatakan bahwa juga haram menjual sesuatu yang tidak terlihat sebelum transaksi, karena terdapat kekhawatiran adanya tipu daya berdasar Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menyatakn bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan sesuatu yang tidak terang rupa dan sifatnya (al gharar), yakni penjualan yang mengandung unsur tipu daya di dalam barang yang dijual. Sayyid Abdullah juga mengutip pernyataan Imam al Hisni yang menyatakan bahwa dalam keafsahan penjualan semacam itu ada dua pendapat, pendapat yang pertama menyatakan keafsahannya, pendapat ini juga telah dikemukakan oleh 3 ilmuan terkemuka dan sekelompok Imam dari kalangan kita, diantaranya Imam al Bagahwi, Imam al Rauyani juga pendapat terdahulu Imam Syafi’i (al Jadid). Pendapat yang lebih tepat (al adhar) menyatakan ketidak afashannya, karena mengandung unsur tipu daya.

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Majmu’ Syarah al Muhaddzab) dalam sebauh cabang hukum juga menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menjaual ubi, bawang putih, bawang merah, buah lobak, juga sejenis ubi sayur, karena sesuatu yang dimaksud tertutupi. Dan diperbolehkan menjual daun-daunnya yang tampak jelas, juga sejenis sayuran di dalam bumi karena kejelasannya. Juga dalam sebuah cabang hukum, al Nawawi juga menjelaskan bahwa dalam madzhab mereka tetang penjualan ubi, bawang putih, bawang timur, buah lobak, madzhab kami (Syafi’i) yang populer menyatakan kebatalan penjualannya karena terdapat unsur tipu daya. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Mundzir dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Mundzir juga menyatakan bahwa Imam Malik, Imam al Auza’i, dan Imam Ishaq menyatakan kebolehannya.

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al Muasuah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) juga dijelaskan bahwa ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i, dan madzhab Hambali memilih ketidak bolehan menjual sesuatu yang tersembunyi di dalam bumi sebelum dicabut seperti bawang merah, bawang putih, buah lobak, ubi dan lain sebagainya, karena tidak diketahui, tidak terlihat dan tidak dapat disifati, dan hal itu termasuk dalam kategori tipu daya yang terlarang di dalam Hadits tentang larangan penjualannya. Sedang ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi dan Maliki memilih kebolehan menjualnya. Ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi menetapkan kebolehan bagi pembeli untuk memilih (antara melanjutkan dan menggagalkan transaksi) ketika dicabut. Ilmuan dari kalangan madzhab Maliki membatasi keafsahannya dengan ketentuan 3 syarat:

1. Melihat sisi lahirnya 2. Mencabut dan melihat sebagiannya 3. Diprediksi secara global

Dan ketika syarat-sayarat tersebut telah dipastikan, maka sesuatu yang dijual tidak termasuk dalam kategori “majhul” (tidak diketahui), karena itulah cara untuk mengetahuinya. Dari pemaparan tersebut di atas, secara eksplisit dapat diketahui bahwa hukum jual beli hasil pertanian seperti kacang tanah, singkong, dan lain sebagainya yang masih berada di dalam tanah adalah hilaf:

• Mayoritas ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i dan Hambali menyatakan tidak sah. • Ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi dan Maliki menyatakan sah dengan ketetapan dan syarat sebagaimana tersebut di atas. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﺑﻴﻊ ﻣﺎﻟﻢ ﻳﺮﻩ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺣﺬﺭﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺮﻭﺭ ﺃﻱ ﺃﻟﺨﻄﺮ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﻣﺴﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺑﻴﻊ ﺍﻟﻐﺮﺭ ﺃﻱ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﺍﻟﻤﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺮﺭ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺒﻴﻊ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺼﻨﻲ ﻭﻓﻰ ﺻﺤﺔ ﺑﻴﻊ ﺫﺍﻟﻚ ﻗﻮﻻﻥ: ﺍﺣﺪﻫﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻳﺼﺢ ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻭﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺘﻨﺎ ﻣﻨﻬﻢ ﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻭﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﺍﻻﻇﻬﺮ ﺃﻧﻪ ﻻﻳﺼﺢ ﻻﻧﻪ ﻏﺮﺭ ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﺳﻠﻢ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺹ ٥٣

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

(فرع)لا يجوز بيع الجزر والثوم والبصل والفجل والسلق في الارض لان المقصود مستور ويجوز بيع أوراقها الظاهرة بشرط القطع ويجوز بيع القنبيط في الارض لظهوره وكذا نوع من الشلجم يكون ظاهرا وهو بالشين المعجمة والجيم - والقنبيط - بضم القاف وفتح النون المشددة - كذا هو في صحاح الجوهرى وغيره وقد سبقت هذه المسألة قريبا... الى ان قال) فرع) في مذاهبهم في بيع الجزر والبصل والثوم والشلجم والفجل وهو غائب في منبته قد ذكرنا أن مذهبنا المشهور بطلان بيعه وحكاه ابن المنذر عن الشافعي وأحمد قال وأجازه مالك والاوزاعي واسحق قال ابن المنذر وببطلانه أقول لانه غرر . المجموع شرح المهذب - (ج 9 / ص 308(

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى عَدَمِ جَوَازِ بَيْعِ مَا يَكْمُنُ فِي الأَْرْضِ قَبْل قَلْعِهِ ، كَالْبَصَل وَالثُّومِ وَالْفُجْل وَالْجَزَرِ وَنَحْوِهَا ؛ لأَِنَّهُ بَيْعٌ مَجْهُولٌ لَمْ يُرَ ، وَلَمْ يُوصَفْ ، فَهُوَ مِنَ الْغَرَرِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ فِي حَدِيثِ النَّهْيِ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ (2) ، فَأَشْبَهَ بَيْعَ الْحَمْل . وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ إِلَى جَوَازِ بَيْعِهِ .أمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَأَثْبَتُوا لِلْمُشْتَرِي الْخِيَارَ عِنْدَ قَلْعِهِ . وَأَمَّا الْمَالِكِيَّةُ فَقَدْ قَيَّدُوا صِحَّةَ الْبَيْعِ بِشُرُوطٍ ثَلاَثَةٍ : أ - أَنْ يَرَى الْمُشْتَرِي ظَاهِرَهُ . ب - أَنْ يُقْلَعَ مِنْهُ شَيْءٌ وَيَرَى . ج - أَنْ يُحْزَرَ إِجْمَالاً ، وَلاَ يَجُوزُ بَيْعُهُ مِنْ غَيْرِ حَزْرٍ بِالْقِيرَاطِ أَوِ الْفَدَّانِ . فَإِذَا تَحَقَّقَتْ هَذِهِ الشُّرُوطُ لاَ يَكُونُ الْمَبِيعُ مَجْهُولاً ؛ لأَِنَّ هَذِهِ طَرِيقُ مَعْرِفَتِهِ . الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 16 / ص 171)

Daftar Pustaka:

1. Sullam al Taufiq. 53 2. Al Majmu’ Syarah al Muhaddzab. IX/ 308 3. Al Muasuah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. XVI/ 171

=========

MUSYAWIRIN: Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I