Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2637628
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1556
1468
8727
2564294
29251
70732
2637628
Your IP: 54.198.41.76
Server Time: 2018-08-17 22:36:23

Joko Tingkir @ 31 Agustus 2015 pukul 22:40 

Assalamu'alaikum.

Pertanyaan : 1. bagaimanakah hukum jual beli di area pemakaman ?? 2. Bagaimanakah hukum mngotori area pemakaman ??  Terimakasih .... 

=========

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

1. Bagaimanakah hukum jual beli diarea pemakaman? 2. Bagaimanakah hukum mengotori area pemakaman? 

Dalam menanggapi pertanyaan yang telah disampaikan oleh sahabat fillah Joko Tingkir tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut: 

I. Imam Ibnu Ziyad didalam kitabnya (Ghayah Talkhishil Murad) menyatakan bahwa tanah yang diwaqafkan atau diwasiatkan untuk area pemakaman, maka tidak diperbolehkan bagi siapapun (termasuk pewakaf) memanfa’atkannya untuk selain pemakaman, dan orang yang memanfa’atkannya (untuk selain pemakaman) wajib membayar ongkos standar yang kemudian dialokasikan untuk kemaslahatan pemakaman seperti untuk membeli kain kafan dan lain sebagainya oleh imam (pemerintah atau instansi terkait). Sedang orang yang berwasiat, maka diperbolehkan baginya memanfa’atkan tanah tersebut selama ia masih hidup, karena tanah (yang telah diwasiatkan) tersebut masih dibawah kepemilikannya sebagaimana yang telah diketahui. 

Berdasar pemaparan tersebut diatas, jika yang dimaksud oleh penanya adalah hukum berjualan di tanah yang dialokasikan untuk area pemakaman, maka hukumnya adalah haram dan orang yang memanfa’atkannya untuk selain pemakaman wajib membayar ongkos standar. Sedang hukum transaksi jual beli yang dilaksanakan adalah sah dengan ketentuan-ketentuannya. 

II. Imam al Mala Ali al Qari’ menyebutkan sebuah hadits dari A’isyah yang menyatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Mematahkan tulang mayat adalah seperti mematahkannya semasa hidup.” (Hadits Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah). Al Qari’ menyatakan bahwa yang maksud adalah dosanya, sebagaimana uraian dalam sebuah riwayat. Al Qari’ juga mengutip pernyataan imam al Thaibi yang menyatakan bahwa hadits tersebut berindikasi sebuah pelarangan untuk merendahkan dan menghinakan mayat sebagaimana pelarangan untuk merendahkan dan menghinakan semasa hidup. Ibnu Malik berkata “Mayat juga merasa sakit”. Imam Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan “Menyakiti orang mu’min yang telah meninggal adalah sama dengan menyakitinya semasa hidup.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hal senada juga dituturkan oleh imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi didalam kitabnya (Bughyah al Mustarsyidin). 

Mengacu pada uraian tersebut, jika kehormatan mayat adalah tidak terbatas dengan masa hidupnya, maka menghinanya dalam kondisi telah menjadi mayat adalah tidak boleh dan dilarang. Dan mengotori area pemakaman adalah merupakan penghinaan terhadap mayat selaku tempat persemayamannya, sebagaimana mengotori rumahnya semasa masih hidup, dan itu juga dilarang. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

(مسألة): الأرض الموقوفة أو الموصى بها للدفن فيها لا يجوز لأحد ولو الواقف الانتفاع بما لم يقبر فيها، ويلزم المنتفع بها أجرة المثل، يصرفها الإمام في مصالح المقبرة، أي مصالح الأحياء والأموات، كشراء الأكفان ونحوها، أما الموصي بها قبل موت الموصى فله منافعها لأنها ملكه كما علم. غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد 

(Link Kitab: http://www.aleman.com/…/%D8%A7%D9%84%D9…/i696&d1006528&c&p1)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وعن عائشة أن رسول الله قال كسر عظم الميت ككسره حيا يعني في الإثم كما في رواية قال الطيبي إشارة إلى أنه لا يهان ميتا كما لا يهان حيا قال ابن الملك وإلى أن الميت يتألم قال ابن حجر ومن لازمه أنه يستلذ به الحي اه وقد أخرج ابن أبي شيبة عن ابن مسعود قال أذى المؤمن في موته كأذاه في حياته رواه مالك وأبو داود قال ميرك وسكت عليه وابن ماجه قال ميرك ورواه ابن حبان في صحيحه اه وقال ابن القطان سنده حسن . مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - (ج 5 / ص 460)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

في الحديث القدسي، لأن الميت يتأذى مما يتأذى منه الحي، وأما جعل العجور يعني علف المواشي والطعام في المقبرة وشغل شيء منها فحرام مطلقاً إذ هي موقوفة للدفن، فتجب على فاعل ذلك أجرة المحل الذي شغله من أرضها قياساً على إشغال بقعة من المسجد، نعم إن كانت ملكاً استأذن مالكها. بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 198)

 

Referensi:

1. Ghayah Talkhishil Murad.

2. Mirqatul Mafatih Syarch Misykatul Mashabih. V/ 460

3. Bughyah al Mustarsyidin. I/ 198 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi 

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan 

3. Al-Ustadz Abdul Malik 

4. Al-Ustadz Ro Fie 

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin 

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori 

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS Dan EDITOR: 

I. Al-Ustadz Ibnu Malik  Hafidzahullah

II. Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1657901244423429/)