Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2634256
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1269
1154
5355
2564294
25879
70732
2634256
Your IP: 54.196.5.6
Server Time: 2018-08-15 16:38:22

Majakani Kanza 17 Maret 2016 pukul 7:35

Assalamualaikum wr wb.

Kalau seorang sudah mampu haji Tapi tidak berangkat haji, setelah beberapa lama dia bangkrut dan jatuh miskin. Apakah kewajibannya gugur atau menjadi hutang..?

~~~~~~~

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُللهِوَالصَّلاَةُوَالسَّلاَمُعَلَىرَسُوْلِاللهِوَعَلَىآلِهِوَصَحْبِهِوَمَنْوَالاَهُ

“Orang yang mampu melaksanakan haji namun tidak melaksankannya, apakah kewajiban tersebut masih berlaku atau telah gugur saat ia mengalami bangkrut?”

Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al-Mustarsyidin) juga menjelaskan “(Masalah) Kewajiban haji itu tidak harus segera dilaksanakan apabila tidak khawatir akan lumpuh, mati atau hartanya habis. Maka ketika seseorang menundanya padahal sudah mampu hingga akhirnya lumpuh atau mati maka jelaslah kefasiqannya dari masa keberangkatan kafilah negaranya pada akhir tahun mampunya”.

Imam Abdul Hamid al-Syarwani di dalam kitabnya (Hawasyi al-Syarwani) juga menjelaskan bahwa sisi yang tampak dari pemutlakan pengarang dan yang lain menekankan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan antara ia memiliki pekerjaan atau tidak. Al-Syarwani juga mengutip pernyataan Imam al-Ghazali di dalam kitab “Ihya’” yang menyatakan bahwa barang siapa telah mampu melaksanakan haji namun ia tidak menlaksanakannya hingga ia mengalami pailit, maka tetap atas dirinya keluar guna melaksanakan haji walaupun ia dalam kategori tidak mampu dikarenakan mengalami kebangkrutan. Dan wajib baginya bekerja untuk sekedar mendapat bekal. Jika tidak mampu, maka ia harus meminta zakat dan sedekah kemudian melaksanakan haji. Jika tidak dilaksanakan lalu ia meninggal, maka ia meninggal dalam kedurhakaan (Mughni Zadu al-Nihayah). Dan telah maklum bahwa sesungguhnya kewajiban melaksanakan haji tetap atas keasalannya, karena (kewajiban tersebut) tidak menyempit kecuali adanya sebab yang memperkenankan. Maka yang dikehendaki mereka (ulama’) adalah tetapnya kewajiban (haji) dan maka dari itu yang paling sesuai untuk statement mereka adalah tidak adanya keharusan meminta sedekah dan yang lain juga tidak adanya keharusan bekerja untuk masalah ini selagi tidak menyempitkan, yakni (selagi tidak) ada kehawatiran murka (Allah) atau meninggal.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa orang yang mampu melaksanakan haji namun tidak melaksankannya sedang ia tau tentang adanya kemungkinan meninggal, lumpuh ataupun terjadi pailit kemudian ia mengalaminya (pailit), maka kewajiban melaksakan haji tidak serta merta menjadi gugur, bahkan jika ia meninggal, maka ia meninggal dalam keadaan fasiq. واللهاعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

(مسألة : ب) : يجبالحجعلىالتراخيإنلميخفالعضبأوالموتأوتلفالمال،فمتىأخرهمعالاستطاعةحتىعضبأوماتتبينفسقهمنوقتخروجقافلةبلدهمنآخرسنيالإمكان. بغيةالمسترشدين - (ج 1 / ص 238)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori​:

ظاهرإطلاقالمصنفوغيرهيقتضيأنهلافرقبينأنيكونلهكسبأولاوإنقالالإسنويفيهبعدقالفيالإحياءمناستطاعالحجولميحجحتىأفلسفعليهالخروجإلىالحجوإنعجزللإفلاسفعليهأنيكتسبقدرالزادفإنعجزفعليهأنيسألالزكاةوالصدقةويحجفإنلميفعلوماتماتعاصيامغنيزادالنهايةومعلومأنالنسكباقعلىأصلهإذلايتضيقإلابوجودمسوغذلكفمرادهمبذلكاستقرارلوجوبأخذاممايأتيوحينئذفالأوفقلكلامهمفيالدينعدموجوبسؤالالصدقةونحوهاوعدموجوبالكسبعليهلأجلهمالميتضيقاهأيبأنخافالعضبأوالموتعش. حواشيالشرواني - (ج 4 / ص 20)

Daftar Pustaka:

1.      Hawasyi al-Syarwani. IV/ 20

2.      Bughyah al-Mustarsyidin. I/ 238

=========

MUSYAWIRIN: Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Abdulloh Salam

8.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik