Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2517988
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1639
2473
6059
2437012
51992
71119
2517988
Your IP: 54.144.16.135
Server Time: 2018-06-19 21:54:34

Ali Yasin Al-manduri 24 September 2014. 

Assalamu alaikum .  Bagaimana hukumnya istri naik haji tampa ditemani suaminya namun sudah dapat izin dari suami, bagaimana menurut pandangan syariat ust? 

========= 

 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bagaimanakah hukum seorang istri berangkat haji tanpa ditemani suaminya?

Maka dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Ali Yasin Al-manduri tersebut diatas, kami segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut: 

Syaikh Zainuddin Ibnu Abdu Al Aziz Al Malibary didalam kitab karyanya Fathu Al Mu’in menyatakan bahwa syarat bagi wanita untuk bepergian guna menunaikan kewajiban haji adalah harus ditemani orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau suami atau wanita lain yang terpercaya walaupun seorang hamba sahaya (budak). Karena diharamkan bagi wanita untuk bepergian seorang diri walaupun dalam jarak tempuh yang dekat. Atau jika ia bersama sejumlah wanita yang terpercaya, maka boleh (tidak wajib) baginya untuk keluar guna menunaikan kewajiban Islam. Namun tidak diperbolehkan bagi wanita untuk keluar guna melaksanakan ibadah sunnah walaupun ia bersama sejumlah wanita yang terpercaya. Dan (walaupun) dalam jarak tempuh yang dekat. Bahkan walaupun ia tidak memiliki paras yang cantik (buruk rupa). 

Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syata Al-Dimyathi menambahkan jika tidak ada orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram), juga tidak adanya wanita lain yang terpercaya yang dapat menemaninya dalam bepergian guna menunaikan ibadah haji, maka diperbolehkan bagi wanita untuk pergi bersama laki-laki lain yang tidak memiliki alat kelamin dan tidak memiliki syahwat. 

Dalam sebuah literatur yang terbitkan oleh Kementrian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Quwaitiyah) juga dijelaskan bahwa Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan: Jika seorang wanita bersama satu atau dua orang wanita lain yang terpercaya dan ia aman bersama wanita-wanita tersebut, maka keberadaan wanita-wanita yang bersamanya telah mencukupi sebagai pengganti orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau pengganti suami dalam bepergian guna menunaikan kewajiban haji. Dan menurut pendapat yang lebih autentik (ashah) dari kalangan ini (madzhab Syafi’i), tidak disyaratkan adanya orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) bagi salah satu dari wanita-wanita tersebut. Sebab sesuatu yang dapat menimbulkan sebuah hasrat dan keinginan telah hilang dengan kebersamaan mereka. Maka jika seorang wanita bersama seorang wanita lain yang terpercaya, maka tidak wajib baginya untuk menunaikan ibadah haji. Namun diperbolehkan baginya bersama seorang wanita lain (yang terpercaya) untuk menunaikan ibadah haji yang bersifat wajib (bukan haji sunnah) atau haji nadzar. Bahkan diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bepergian seorang diri guna menunaikan ibadah yang bersifat wajib atau nadzar ketika aman dari fitnah.

Berdasar uraian tersebut diatas, hukum seorang wanita (istri) bepergian guna menunaikan ibadah haji tanpa ditemani suaminya adalah diperbolehkan dengan syarat: 

• Haji yang dilaksanakan adalah haji yang bersifat wajib

• Bersama orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau bersama wanita lain yang terpercaya, atau bersama laki-laki lain yang tidak memiliki alat kelamin dan tidak tidak memiliki syahwat. (Dan) atau

• Seorang diri jika aman dari fitnah 

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) olehAl_Ustad  Ibnu Malik: 

وشرط للوجوب على المرأة مع ما ذكر أن يخرج معها محرم أو زوج أو نسوة ثقات ولو إماء وذلك لحرمة سفرها وحدها وإن قصر أو كانت في قافلة عظيمة ولها بلا وجوب أن تخرج مع امرأة ثقة لأداء فرض الإسلام وليس لها الخروج لتطوع ولو مع نسوة كثيرة وإن قصر السفر أو كانت شوهاء فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين . الجز 1. صفحة  284.

 

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

وقوله أن يخرج معها محرم أي بنسب أو رضاع أو مصاهرة ولو فاسقا لأنه مع فسقه يغار عليها من مواقع الريب وقوله أو زوج أي ولو فاسقا لما تقدم وألحق بهما جمع عبدها الثقة إذا كانت هي ثقة أيضا والأجنبي الممسوح الذي لم يبق فيه شهوة للنساء قوله أو نسوة ثقاة بأن بلغن وجمعن صفات العدالة . إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين . الجز 2. صفحة 320.

 

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Abdulloh Salam: 

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا إِنْ وَجَدَتْ نِسْوَةً ثِقَاتٍ : اثْنَتَيْنِ فَأَكْثَرَ تَأْمَنُ مَعَهُنَّ عَلَى نَفْسِهَا كَفَى ذَلِكَ بَدَلاً عَنِ الْمَحْرَمِ أَوِ الزَّوْجِ بِالنِّسْبَةِ لِوُجُوبِ حَجَّةِ الإِْسْلاَمِ عَلَى الْمَرْأَةِ . وَعِنْدَهُمُ " الأَْصَحُّ أَنَّهُ لاَ يُشْتَرَطُ وُجُودُ مَحْرَمٍ لإِِحْدَاهُنَّ ، لأَِنَّ الأَْطْمَاعَ تَنْقَطِعُ بِجَمَاعَتِهِنَّ . فَإِنْ وَجَدَتِ امْرَأَةً وَاحِدَةً ثِقَةً فَلاَ يَجِبُ عَلَيْهَا الْحَجُّ ، لَكِنْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَحُجَّ مَعَهَا حَجَّةَ الْفَرِيضَةِ أَوِ النَّذْرِ ، بَل يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَخْرُجَ وَحْدَهَا لأَِدَاءِ الْفَرْضِ أَوِ النَّذْرِ إِذَا أَمِنَتْ الموسوعة الفقهية الكويتية . الجز 17. صفحة 36.

 

Referensi:

1. Fatchu Al Mu’in. 284

2. I’anah Al Thalibin. II/ 320

3. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah. XVII/ 36 

=========

 

MUSYAWWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Brojol Gemblung

2. Al-Ustadz Wes Qie

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Mbah Sanidin

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

 

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1538817556331799/)