Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2634018
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1031
1154
5117
2564294
25641
70732
2634018
Your IP: 54.156.85.167
Server Time: 2018-08-15 15:08:57

Anton Cokerz @ 26 September 2015 pukul 13:13

 

Assalamu alaikum . Baru saja kabar menghentak dari peristiwa haji di mina dalam rangkaian ritual lempar jumrah. Byk korban berjatuhan disebabkan terinjak, saya disini mau bertanya pada sahabat2 MTTM bolehkan melempar jumrah di wakilkan??? Pada orang lain plus ibarotnya. 

~~~~~~~~~

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bolehkan mewakilkan melempar jumrah?

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Majmu’ Syarh al Muhaddzab) menjelaskan bahwa orang yang tidak mampu melempar (jumrah) sendiri dikarenakan sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, atau dikarenakan sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya, diperbolehkan baginya untuk meminta kepada orang lain agar melempar (jumrah) atas namanya, karena sempitnya waktu pelemparan jumrah dan boleh jadi ia meninggal sebelumnya. Berbeda dengan haji, maka sesungguhnya haji boleh ditunda, dan orang yang sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya tidak diperbolehkan meminta orang lain untuk menggantikannya, karena terkadang ia sembuh, maka ia dapat melaksanakannya sendiri. Dan yang lebih istimewa, hendaknya setiap batu diletakkan di tangan orang yang menggantikan, kemudian bertakbir dan melempar (jumrah). Jika orang yang mengganti sedang melempar, kemudian orang yang digantikan sembuh, maka dianjurkan baginya untuk kembali dan melakukan pelemparan sendiri. Jika seseorang mengalami epilepsi, kemudian orang lain melakukan pelemparan atas namanya tanpa seizinnya, maka hal itu tidak diperbolehkan, namun jika ia telah memberikan izin sebelum mengalaminya, maka hal itu diperbolehkan. 

Dalam kesempatan lain, imam Nawawi juga mengungkapkan bahwa: “Sahabat-sahabat kami (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) menjadikan dalil atas kebolehan meminta orang lain untuk menjadi wakil dengan dianalogikan terhadap kebolehan meminta orang lain untuk menjadi wakil dalam pusat haji, mereka menyatakan bahwa melempar (jumrah) adalah lebih diperbolehkan.” Imam Nawawi juga mengutip pernyataan sahabat-sahabatnya yang menyatakan bahwa seyogyanya orang yang tidak mampu melakukan pelemparan jumrah sendiri, ia meminta orang yang tidak ihram (halal) untuk menjadi wakil atau kepada orang yang melakukan pelemparan jumrah untuk dirinya sendiri. Jika ia meminta untuk menjadi wakil kepada orang yang melakukan pelemparan jumrah atas nama orang lain, maka seyogyanya pihak pelaksana melakukan pelemparan atas nama dirinya, kemudian atas nama orang yang memintanya untuk menjadi wakil, maka dua pelemparan telah mencukupi tanpa adanya pro dan kontra. Namun apabila ia meringkas dengan hanya melakukan satu kali pelemparan, maka yang dinilai adalah pelemperan untuk dirinya sendiri, tidak untuk orang yang memintanya menjadi wakil. Pendapat ini merupakan pendapat yang disetujui dan dipilih oleh mayoritas Ulama’.

Dengan demikian, jika memang dengan melakukan pelemparan jumrah sendiri dapat membahayakan terhadap keselamatan jiwa atau dikarenakan adanya udzur yang dibenarkan, maka boleh mewakilkan kepada orang lain. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Abdul Malik: 

قال المصنف رحمه الله  * ومن عجز عن الرمي بنفسه لمرض مأيوس أو غير مأيوس جاز أن يستنيب من يرمي عنه لان وقته مضيق وربما مات قبل أن يرمي بخلاف الحج فانه على التراخي  * ولا يجوز لغير المأيوس أن يستنيب لانه قد يبرا فيؤديه بنفسه  * والافضل ان يضع كل حصاة في يد النائب ويكبر ويرمي النائب فان رمى عنه النائب ثم برئ من المرض فالمستحب ان يعيد بنفسه  *  وإن أغمي عليه فرمى عنه غيره فان كان بغير إذنه لم يجزه وان كان أذن له فيه قبل أن يغمى عليه جاز) * المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 243) 

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori: 

(فرع) استدل أصحابنا على جواز الاستنابة في الرمي بالقياس على الاستنابة في أصل الحج قالوا والرمي أولى بالجواز  * فرع) قال أصحابنا وينبغي أن يستنيب العاجز حلالا أو من قد رمى عن نفسه فان استناب من لم يرم عن نفسه فينبغي أن يرمي الغائب عن نفسه ثم عن المستنيب فيجزئهما الرميان بلا خلاف فلو اقتصر على رمي واحد وقع عن الرامي لا عن المستنيب هذا هو المذهب وبه قطع الجمهور . المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 245( 

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan: 

فرع : العاجز عن الرمي بنفسه لمرض أو حبس، يستنيب من يرمي عنه. ويستحب أن يناول النائب الحصى إن قدر، ويكبر هو. وإنما تجوز النيابة لعاجز بعلة لا يرجى زوالها قبل خروج وقت الرمي، ولا يمنع الزوال بعده. ولا يصح رمي النائب عن المستنيب إلا بعد رميه عن نفسه، فلو خالف وقع عن نفسه كأصل الحج. ولو أغمي عليه ولم يأذن لغيره في الرمي عنه، لم يجز الرمي عنه. وإن أذن، جاز الرمي عنه على الصحيح. روضة الطالبين وعمدة المفتين (3/ 115( 

 

Referensi:

1. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. VIII/ 243

2. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. VIII/ 245

3. Raudlah al Thalibin Wa ‘Umdah al Muftin. III/ 115 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

 

EDITOR:

Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1665028840377336/)