Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2146384
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
3303
1831
5134
2071840
52046
70912
2146384
Your IP: 54.82.57.154
Server Time: 2018-01-22 17:47:03

Stel Kendo @ 28 Oktober pukul 10:38

Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh. Apa hukumnya wanita ziarah kubur?

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum ziarah kubur bagi wanita?

Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abi al Abbas; Ahmad bin Hamzah bin Syihabuddin al Ramli yang populer dengan sebutan “Imam Syafi’i kecil” di dalam kitabnya (Nihayah al Muhtaj) menyatakan bahwa melakukan aktifitas ziarah kubur orang-orang kafir adalah diperbolehkan, hal ini berbeda dengan pendapat Imam al Mawardi yang menyatakan keharamannya. Sedang ziarah kubur bagi wanita, demikian juga waria adalah makruh karena ketidak sabaran mereka. Ketidak haraman berziarah kubur atas mereka adala berdasar sebuah hadits ‘Aisyah yang menytakan bahwa beliau berkata “Apa yang saya baca pada saat melaksanakan ziarah kubur wahai utusan Allah?”, Rasulullah menjawab “Ucapkanlah ‘Assalamu ‘ala ahlid dar minal mu’mina wal muslimin wa yarhamullah al mustaqdimin wal mustakhirin wa inna insya Allahu bikum laahikun’.” Sebagian pendapat menyakan haram dengan berpedoman pada sebuah hadits yang menyatakan bahwa “Allah melaknat penziarah kubur wanita”, namun hadits tersebut diarahkan kepada mereka yang melakukan aktifitas ziarah kubur dengan tujuan untuk nyanyian sedih kematian, menangis, meratap atas dasar kebiasaan yang berlaku, atau di dalamnya terdapar unsur “keluar yang diharamkan”. Sebagian pendapat menyatakan boleh sebagai penginterpretasian hukum asal dan hadits terkait. Paham yang diperoleh penulis dari hikayatnya Imam al Rafi’i menyatakan tidak makruh, pendapat ini diikuti oleh kitab "al Raudlah" dan "al Majmu’". Disana juga diuraikan mengenai pengarahan hadits sebagaimana tersebut di atas. Penulis juga menyatakan bahwa sesungguhnya yang lebih berhati-hati bagi wanita yang telah lanjut usia adalah meninggalkan aktifitas ziarah karena mengacu kepada dzahir hadits. Penulis juga mengingatkan bahwa pendapat-pendapat dari para ilmuan tersebut adalah diselain ziarah makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak makruh berziarah makam beliau, bahkan hal itu merupakan hal yang urgent dalam upaya pendekatan terhadap Allah (taqarrub) bagi pria dan wanita. Dan seyogyanya hal itu juga berlaku bagi makam Nabi-nabi yang lain juga para wali sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu al Rif’ah dan Imam al Qammuli, dan pendapat ini adalah pendapat yang terpercaya (mu’tamad).

Di dalam sebuah literatur Fiqh (Hujjah Ahli Sunah Lil Syaikh Ali Ma’sum) ditegaskan bahwa terjadi pro dan kontra dalam permasalahan ziarah kubur bagi wanita. Sekelompok ilmuan menyatakan makruh dengan makruh tahrim atau tanzih berdasar sebuah hadits yang menyatakan bahwa “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat penziarah-penziarah wanita” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al Tirmidzi). Mayoritas ilmuan menyatakan boleh ketika aman dari fitnah, dan mereka berpedoman kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah (sebagaimana tersebut diatas).

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum ziarah kubur bagi wanita adalah hilaf sebagaimana berikut:

• Sebagian Ulama’ menyatakan makruh.

• Mayoritas Ulama’ menyatakan boleh jika aman dari fitnah, dan tidak ada unsur yang menyebabkan haram. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

أما زيارة قبور الكفار فمباحة خلافا للماوردي في تحريمها وتكره زيارتها للنساء ومثلهن الخناثى لجزعهن وإنما لم تحرم عليهن لخبر عائشة قالت قلت كيف أقول يا رسول الله تعني إذا زارت القبور قال قولي السلام على أهل الدار من المؤمنين والمسلمين ويرحم الله المستقدمين والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون وقيل تحرم لخبر لعن الله زوارات القبور وحمل على ما إذا كانت زيارتهن للتعديد والبكاء والنوح على ما جرت به عادتهن أو كان فيه خروج محرم وقيل تباح إذا أمن الافتتان عملا بالأصل والخبر فيما إذا ترتب عليها شيء مما مر وفهم المصنف الإباحة من حكاية الرافعي عدم الكراهة وتبعه في الروضة والمجموع وذكر فيه حمل الحديث على ما ذكر وأن الاحتياط للعجوز ترك الزيارة لظاهر الحديث ومحل هذه الأقوال في غير زيارة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أما هي فلا تكره بل تكون من أعظم القربات للذكور والإناث وينبغي أن تكون قبور سائر الأنبياء والأولياء كذلك كما قاله ابن الرفعة والقمولي وهو المعتمد . نهاية المحتاج - (ج 3 / ص 36)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Mbah Jibril Izroil:

واختلف في زيارة النساء للقبور، فقال جماعة من أهل العلم بكراهيتها كراهة تحريم أو تنزيه لحديث أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور. رواه أحمد وابن ماجه والترمذي. وذهب الأكثرون إلى الجواز إذا أمنت الفتنة، واستدلوا بما رواه مسلم عن عائشة قالت : كيف أقول يا رسول الله إذا زرت القبور؟ قولي : السلام عليكم أهل ديار المسلمين. اهـ حجة أهل السنة للشيخ على معصوم : 58

 

Daftar Pustaka:

1. Nihayah al Muhtaj. III/ 36

2. Hujjah Ahli Sunah Lil Syaikh Ali Ma’sum. 58

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Chaniago

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik

 

EDITOR:

Al-Ustadzah Naumy Syarif

 

Link Diskusi: Klik Disini