Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2882128
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
571
1230
6487
2809480
20391
48266
2882128
Your IP: 34.228.41.66
Server Time: 2018-12-13 10:31:00

Hadir Al Banjari 20 September 2015 

Assalamualaikum wr wb. Langsung j... Post titipan teman,, bayi yg lahir sempurna 6 bulan umurnya lg di waktu kelahirannya ia meninggal, apa di hukumi ( siqit ) at sama dg hukumnya bayi yg berumur 9 bulan dr segi hukum? Jazakallah Khoir wsls

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Apakah bayi yang meninggal pada saat masih di dalam kandungan usia 6 bulan dikategorikan “al siqth” atau sama dengan bayi yang meninggal setelah usia kandungan 9 bulan? 

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati di dalam kitabnya (I’anah al Thalibin) menjelaskan bahwa “al Siqth” adalah bayi yang turun sebelum sempurna bulannya. “al Siqth” diambil dari suku kata “al suquth” yang berarti turun. Di dalam kitab “al Mishbah” beliau berkata “al siqth adalah anak (laki-laki atau perempuan) yang gugur sebelum sempurna (belum tampak jelas penciptaannya).” Diucapkan “Anak telah gugur dari perut ibunya dan tidak diucapka ‘terjatuh’.” al-Dimyati menjelaskan bahwa inti dari pemaparan tersebut di atas “Sesungguhnya apabila bayi terpisah sebelum 4 bulan, maka wajib dikafani dan dikubur. Apabila terpisah setelah 4 bulan, jika tidak bergerak dan tidak sehat, maka wajib dimandikan, dikafani dan dikubur tanpa dishalati. Dan jika bergerak atau bersuara setelah terpisah (lahir), maka wajib dimandikan, dikafani, dishalati lalu dikubur.” 

Syaikh Muhammad Ali bin Husain al Makki al Maliki di dalam kitabnya (Inarah al Duja) menegaskan bahwa “al Siqth” adalah bayi yang keluar dari perut ibunya sebelum sempurna 6 bulan lebih sedikit. al Makki juga mengutip pernyataan Syaikh Muhammad al Hifni tentang tiga sikap mengenai hukum bayi semacam itu dalam format syair. Beliau mengisyaratkan bahwa “al Siqth” hukumnya sama dengan orang dewasa dalam kematian jika tampak tanda-tanda kehidupan. Atau hal itu tidak tampak, namun penciptaannya telah tampak jelas, maka cegahlah untuk menshalatinya, sedang (perawatan) yang lain tetap menjadi pertimbangan. Atau penciptaan juga tidak tampak dengan jelas, maka tidak wajib melakukan hal apapun. Sedang menutup kemudian mengubur sungguh dianjurkan. 

Diungkapkan bahwa pengertian (al siqth) semacam itu adalah menurut (Imam Syamsuddin) al Ramli dengan mengikuti jejak pendapat ayahnya. Dengan demikian, bayi yang lahir setelah sempurna 6 bulan tidak dikategorikan “al Siqth” (kluron, jawa), maka wajib baginya hal-hal yang wajib dalam melakukan perawatan selayaknya orang dewasa, baik diketahui kehidupannya atau tidak. Ini adalah pendapat yang terpercaya (mu’tamad). Sedang Imam Ibnu Hajar memiliki pandangan berbeda dengan mengikuti jejak pendapat Saikh al Islam (Zakaria al Anshari) yang mempertimbangkan adanya tanda-tanda kehidupan pasca kelahiran. Maka haram menshalatinya jika tidak tampak tanda-tanda kehidupan walaupun telah mencapai usia maksimal kehamilan. 

Berdasar pemaparan tersebut di atas, maka bayi yang lahir dan meninggal pada usia kandungan 6 bulan tidak dikategorikan “al siqth”. Jika mengacu pada pendapat yang terpercaya (mu’tamad), maka ia selayaknya orang dewasa yang wajib dimandikan, dikafani dan dishalati, baik ada tanda-tanda kehidupan atau tidak. Namun jika mengacu pada pendapat Imam Ibnu Jajar yang mengikuti jejak pendapat Imam Zakaria al Anshari, maka haram menshalatinya jika tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan walaupun telah mencapai usia maksimal kehamilan. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

(قوله: سقط) نائب فاعل ووري، وهو بتثليث السين، الولد النازل قبل تمام أشهره، فهو مأخوذ من السقوط بمعنى النزول. قال في المصباح: السقط: الولد - ذكرا كان أو أنثى - يسقط قبل تمامه وهو مستبين الخلق. يقال: سقط الولد من بطن أمه سقوطا، فهو سقط. والتثليث لغة. ولا يقال وقعاه.

................ وحاصل ما أفاده كلامه فيه: أنه إذا انفصل قبل أربعة أشهر يكفن ويدفن وجوبا، وإن انفصل بعد أربعة أشهر فإن لم يختلج ولم يصح بعد انفصاله غسل، وكفن ودفن وجوبا، من غير صلاة عليه. وإن اختلج أو استهل بعد ذلك يغسل، ويكفن، ويصلى عليه، ويدفن وجوبا إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (2/ 140) 

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

فللسقط، وهو الذي سقط من بطن أمه قبل تمام ستة أشهر (1) ولحظتين، ثلاثة أحوال أشار إليها الشيخ محمد الحفني بقوله :  والسقط كالكبير في الوفاة # إن ظهرت أمارة الحياة  أو خفيت وخلقه قد ظهرا # فامنع صلاة وسواها اعتبرا  أو اختفى أيضا ففيه لم يجب # شيء وستر ثم دفن قد ندب إنارة الدجى على تنوير الحجا ص 152 مكتبة أوسها كلواركا سماراغ

_________

(1) قوله (قبل تمام ستة أشهر) هذا عند الرملي تبعا لوالده : أي والنازل بعد تمام ستة أشهر ليس بسقط، فيجب فيه ما يجب في الكبير سواء علمت حياته أم لا وهو المعتمد. وجرى ابن حجر تبعا لشيخ الإسلام على اعتبار وجود أمارة الحياة بعد الإنفصال، فتحرم الصلاة عليه إن لم تظهر فيه أمارة الحياة بعد انفصاله وإن بلغ أكثر مدة الحمل، أفاده في ترشيح المستفيدين. إهـ ناظم 

 

Daftar Pustaka:

1. I’anah al Thalibin. II/140

2. Inarah al Duja. XXXVIII/ 2096

 

=========

 

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

 

EDITOR:

Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1663607017186185/)