Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2880467
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
140
1840
4826
2809480
18730
48266
2880467
Your IP: 54.234.228.78
Server Time: 2018-12-12 01:17:24

Hasbunallah Wani'mal Wakiil@ 26 Agustus 2016 pukul 6:34

Assalamu'alaikum Numpang nanya para mujawib Bagaimana hukumnya seorang muslim kesurupan yang mengobati non muslim, seperti orang beragama hindu? Monggo di bahas

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum orang muslim mengobati non muslim?”

Imam Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa; Abu Bakar al-Baihaqi di dalam kitabnya (al-Sunan al-Kubra Li al-Baihaqi) menyebutkan Hadits yang menyatakan bahwa telah bercerita kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Hafidz, telah bercerita kepada kami Abu Abdullah; Muhammad bin Ya’qub, telah bercerita kepada kami Yahya bin Muhammad bin Yahya, telah bercerita kepada kami Abu Umar al-Hudli, Musaddad dan al-Haji, mereka berkata telah bercerita kepada kami Abu ‘Uwanah dari Abi Basyar dari Abi al-Mutawakil al-Naji dari Abi Sa’id, sesungguhnya sekelompok sahabat Anshor dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perjalanan hingga mereka singgah disebuah pedukuhan Arab, maka mereka meminta jamuan kepada penduduk setempat namun mereka menolak. Kemudian pemimpin mereka (penduduk) dipatuk (hewan berbisa), maka mereka bergegas mengupayakan (kesembuhan) dengan segala sesuatu namun tidak ada yang bermanfa’at, hingga diantara mereka ada yang berkata “Jika kalian mendatangi sekelompok orang yang singgah tadi, barangkali diantara mereka ada yang memiliki sesuatu yang bermanfa’at untuk sahabat kalian”. Merekapun datang dan berkata “Hai sekelompok orang, pemimpin kami dipatuk (hewan berbisa), kamipun melakukan segala upaya namun tidak ada yang bermanfa’at. Apakah diantara kalian memiliki sesuatu yang bermanfa’at untuk sahabat kami?”. Seseorang dari mereka (sahabat Anshor) berkata “Iya, demi Allah saya bisa meruqyah, tapi demi Allah kami telah meminta jamuan kepada kalian, tapi kalian menolak, maka saya tidak akan meruqyah hingga kalian bersedia menjadikan sesuatu untuk kami (sebagai imbalan)”. Maka mereka bersepakat atas sekawan kambing. Ia (seorang sahabat Anshor) berangkat dan menjadikan (mengusapkan) ludahnya atas pemimpin tersebut, dan ia membaca “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” hingga ahirnya pemimpin tersebut sembuh seakan-akan ia terlepas dari sebuah belenggu hingga ia bisa berjalan seperti sebelumnya. Merekapun menunaikan yang telah mereka sepakati. Salah seorang sahabat Anshor berkata “Bagilah”. Ia (sahabat yang melakukan ruqyah) menjawab “Jangan lakukan (dulu) hingga kita menghadap Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang terjadi lalu kita tunggu yang beliau perintahkan”. Keesokan harinya mereka menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan yang telah terjadi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda “Dari mana engkau tau bahwa “Fatihah” bisa dipergunakan untuk ruqyah?” dan beliau bersabda “Kalian betul, berbagilah dan jadikan sebagian untukku diantara kalian”.

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa tidak ada pro dan kontra dikalangan pakar Fiqh tentang kebolehan orang muslim meruqyah orang kafir, mereka menjadikan Haditsnya Abi Sa’id al-Khudzri radliyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebagai dalil. Penarikan kesimpulan, sesungguhnya orang-orang yang dituturkan di dalam Hadits tersebut adalah orang-orang kafir dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya.

Di dalam sebuah literatur (al-Gharar al-Bahiyah Fi Syarh al-Bahjah) dijelaskan bahwa meminta bantuan pada jin dengan cara berkhalwat dan beribadah (riyadlah) dan membaca mantra hingga setelah itu biasanya Allah menciptakan suatu hal yang diluar kebiasaan, maka jika orang yang melakukan hal tersebut adalah orang baik yang menjalankan syari’at, sedang jin yang mintai bantuan adalah jin pilihan (baik, mu’min) dan tujuannya tidak bertentangan dengan syari’at serta sesuatu yang tampak dari hal-hal yang diluar kebiasaan tersebut tidak membahayakan terhadap akidah seseorang, maka tidak dikategorikan sihir, melainkan dalam kategori rahasia Ilahi dan ma’unah. Jika tidak demikian, maka hukum mempelajarinya adalah haram, bahkan jika bertujuan untuk diamalkan, maka kufur jika ia berkeyakinan bahwa hal itu adalah boleh. Jika bertujuan untuk dijauhi, maka hukumnya boleh, jika tidak demikian, maka makruh.

Dari pemaparan tersebut di atas, secara eksplisit dapat diketahui bahwa hukum orang muslim mengobati non muslim adalah boleh bahkan dengan menggunakan media jin dengan ketentuan pelaku disiplin syari’at (mutasyarri’), yang dibaca (mantera) tidak bertentangan dengan syariát dan tidak menimbulkan dloror syar’i (termasuk menghilangkan kesadaran, akan tetapi tidak ada manfaat yang sebanding). Dan ketentuan hukum menjadi haram (tidak boleh), apabila pelaku tidak disiplin syariát (fasiq) atau mantera yang dibaca dilarang menurut syara’ atau menimbulkan dloror syar’i (termasuk hilangnya kesadaran dan tidak ada manfaat sebanding). Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

(أخبرنا) محمد بن عبد الله الحافظ ثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن محمد بن يحيى ثنا أبو عمر الحوضى ومسدد والحجبى قالوا ثنا أبو عوانة عن أبى بشر عن أبى المتوكل الناجى عن أبى سعيد ان رهطا من الانصار من اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم انطلقوا في سفرة سافروها حتى نزلوا بحى من احياء العرب فاستضافوهم فأبوا ان يضيفوهم فلدغ سيد الحى فسعوا له بكل شئ لا ينفعه شئ حتى قال بعضهم لو أتيتم هؤلاء الرهط الذين نزلوا بكم لعله ان يكون عند بعضهم شئ ينفع صاحبكم فأتوهم فقالوا ايها الرهط ان سيدنا لدغ فسعينا له بكل شئ لا ينفعه شئ فهل عند احد منكم شئ ينفع صاحبنا قال رجل منهم نعم والله انى لا رقى ولكن والله لقد استضفناكم فأبيتهم ان تضيفونا فما انا براق حتى تجعلوا لنا جعلا فصالحوهم على قطيع من الغنم قال فانطلق فجعل يتفل عليه ويقول (الحمد لله رب العالمين) حتى برأ فكانما نشط من عقال حتى انطلق يمشى ما به قلبة فاوفوهم (3) جعلهم الذى صالحوهم عليه فقال اقسمو فقال الذى رقى لا تفعلوا حتى نأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فنذكر له الذى كان فننظر ما يأمرنا به قال فغدوا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكروا ذلك له فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال ما يدريك انها رقية قال وقال اصبتم اقتسموا واضربوا إلى معكم بسهم. السنن الكبرى للبيهقي (6/ 124)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

رُقْيَةُ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ : لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي جَوَازِ رُقْيَةِ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ . وَاسْتَدَلُّوا بِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الَّذِي سَبَقَ ذِكْرُهُ ( ف - 14 ) وَوَجْهُ الاِسْتِدْلاَل أَنَّ الْحَيَّ - الَّذِي نَزَلُوا عَلَيْهِمْ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ - كَانُوا كُفَّارًا ، وَلَمْ يُنْكِرِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَعَلَيْهِ. الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 13 / ص 34)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

وأما الاستعانة بالأرواح الأرضية بواسطة الرياضة وقراءة العزائم إلى حيث يخلق الله تعالى عقيب ذلك على سبيل جري العادة بعض خوارق فإن كان من يتعاطى ذلك خيرا متشرعا في كامل ما يأتي ويذر وكان من يستعين به من الأرواح الخيرة وكانت عزائمه لا تخالف الشرع وليس فيما يظهر على يده من الخوارق ضرر شرعي على أحد فليست من السحر بل من الأسرار , والمعونة فإن انتفى شيء من تلك القيود فتعلمها حرام إن تعلم ليعمل بل كفر إن اعتقد الحل فإن تعلمها ليتوقاها فمباح أولا وإلا فمكروه ا هـ. الغرر البهية في شرح البهجة الجزء الخامس ص: 18

 

Daftar Pustaka:

1. Al-Sunan al-Kubra Li al-Baihaqi. VI/ 124

2. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XIII/ 34

3. Al-Gharar al-Bahiyah Fi Syarh al-Bahjah. V/ 18

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik SP d I