Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2779307
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
825
1464
2289
2712337
34243
45614
2779307
Your IP: 54.198.212.30
Server Time: 2018-10-15 10:17:31

Siti UL Faniyah 29 Juni 2015 pukul 23:05 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Mohon bantuannya ustad ustazah saya ada pertanyaan dari Aleh DemmenSiro. Tolong bantu jawabannya. Terimakasih. 

Pertanyaannya ialah.

Asslamualaikum , bak q pengen nanyak" bagai mna hukumx menyelenggarakan anak bayi kembar yg berdempetan yg satunya mti bak, nah dan jika sang byi yg ber dempetan itu dioprasi maka kterangn dari dokter byi yg satunya itu kmungkinan mti/ bhaya ? 

========= 

 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bagaimanakah hukum melakukan operasi pemisahan dua bayi kembar yang saling melekat sedang salah satunya meninggal dan bagaimana pula solusinya? 

Dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Siti UL Faniyah tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut: 

Imam Syamsuddin; Muchammad bin Abi al Abbas; Achmad bin Chamzah; Syihabuddin al Ramli didalam kitab karyanya (Nihayah al Muchtaj) melampirkan sebuah “Faidah”. Beliau mengutip pernyataan pengarang kitab Basthi al Anwar yang menyatakan bahwa jikalau dua orang terlahir secara bersamaan dan melekat antara satu dengan yang lain sedang salah salah satunya meninggal, jika mungkin dipisahkan dengan tanpa menimbulkan bahaya pada yang masih hidup, maka harus dipisahkan. Namun jika tidak mungkin, maka yang meninggal harus dirawat dengan perawatan yang mungkin untuk dilakukan, yaitu memandikan, mengkafani, menshalati namun tidak boleh dikuburkan sehingga hancur dan rontok untuk kemudian yang rontok dikubur. Dan jika keduanya meninggal sedang keduanya sama dalam jenis kelamin, maka keduanya harus dimandikan, dikafani, dishalati, dan dikuburkan bersama. Namun jika keduanya tidak sama dalam jenis kelamin, maka wajib dipisahkan (jika mungkin), namun jika tidak mungkin, maka harus dilakukan perawatan yang memungkinkan, hanya saja mayat yang berjenis kelamin laki-laki harus lebih diperhatikan dalam menghadapkannya kearah kiblat. 

Didalam sebuah literatur Fiqh (Qawa’id al Achkam) juga dijelaskan bahwa jika laut mengalami ombak yang sangat dahsyat, sedang pada saat itu diketahui terdapat beberapa orang diatas perahu dan mereka tidak akan terselamatkan kecuali dengan dipisah sebagian diantara mereka dikarenakan perahu tidak dapat menampung, maka tidak diperbolehkan menjatuhkan salah satu dari mereka ke dalam laut dengan atau tanpa diundi. Karena mereka adalah sama dibawah perlindungan. Dan (karena) membunuh orang yang tidak berdosa adalah haram. (Dan) jika diatas perahu terdapat harta benda atau hewan yang layak dihormati, maka harus membuang harta benda terlebih dahulu lalu hewan yang layak dihormati. Karena kerusakan yang diakibatkan hilangnya harta benda dan hewan lebih ringan dan lebih dapat ditolelir dari pada hilangnya nyawa manusia. 

Berdasar uraian tersebut, jika dengan memisahkan dua bayi kembar siam dapat mengakibatkan meninggalnya bayi yang masih hidup (menurut pakar, dokter), maka tidak diperbolehkan melakukan operasi pemisahan dan wajib melakukan perawatan sebagaimana tersebut diatas. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung: 

[فائدة] قال في بسط الأنوار: قلت لو أن شخصين ولدا معا ملتصقين ومات أحدهما، فإن أمكن فصله من الحي من غير ضرر يلحق الحي وجب فصله، وإلا وجب أن يفعل بالميت الممكن من الغسل والتكفين والصلاة وامتنع الدفن لعدم إمكانه وينتظر سقوطه، فإن سقط وجب دفن ما سقط، وإن ماتا معا وكانا ذكرين أو أنثيين غسلا معا وكفنا معا وصلينا عليهما معا ودفنا، هذا القول الظاهر. ويحتمل أن يقال: يجب فصلهما إن أمكن وإن كانا ذكرا وأنثى وأمكن فصلهما فالظاهر وجوبه، وإن لم يمكن فعلنا ما أمكن فعله، ويراعى الذكر في الاستقبال ونحوه، والله أعلم اهـ. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (2/ 474)

 

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

المثال الثانى : اذا اغتلم البحر بحيث علم رقبان السفينة انهم لا يخلصون الا بالتفريق شطر الرقبان لتحف بهم السفينة فلا يجوز القاء احد منهم فى البحر بقرعة ولا بغير قرعة لأنهم مستوون فى العصمة وقتل من لا ذنب له محرم ولو كان فى السفينة مال او حيوان محترم لوجب القاء المال ثم الحيوان المحترم لان المفاسد فى فوات الاموال والحيوانات المحترمات اخف من المفسدة فى فوات ارواح الناس اهـ

قواعد الاحكام الجزء الاول ص: 73

 

Referensi:

1. Nihayah al Muchtaj. II/ 474

2. Qawa’id al Achkam. I/ 73 

========= 

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM) 

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Brojol Gemblung

2. Al-Ustadz Wes Qie

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi 

 

PERUMUS Dan EDITOR: 

I. Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

II. Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah 

 

(Link Diskusi: https://m.facebook.com/groups/1437298433150379?view=permalink&id=1638402049706682&ref=m_notif&notif_t=like&__mref=message)