Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2146552
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
3471
1831
5302
2071840
52214
70912
2146552
Your IP: 54.82.57.154
Server Time: 2018-01-22 18:05:21

Aditya Maulana 30 Oktober 2016 pukul 21:10

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Numpang tanya :

1. Bagimana hukum meniru merek sarung seperti sarung lamiri

?

2. Dan bagaimana hukum menjual dan membalinya barang tiruan tersebut ?

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum meniru sebuah merek seperti merek sarung ‘Lamiri’?”

Di dalam sebuah literatur (Syarh al-Yaqut al-Nafis) dijelaskan dengan sesi Tanya jawab sebagai berikut:

Soal: Apakah diperbolehkan bagi peminjam untuk menerbitkan buku yang dipinjam tanpa seizin pengarangnya?

Jawab: Sebagian Ulama’ kita rahimahumullah berkata “Sesungguhnya ini adalah ilmu dan siapapun berhak untuk menyebarkannya dan kami tidak mencegah, namun sejatinya hal ini tidak diperbolehkan, karena hak cipta dimasa sekarang dilindungi. Penulis mencurahkan segenap tenaganya dalam karyanya, dan jangan merubah sebagian teksnya, dan terkadang ia menenangkan hatinya atas pembenaran (pembenahan diri) sebagaimana yang dikehandaki, dan (bahkan) terkadang ia tidak membutuhkan uang atas jeri payahnya.

Pof. DR. Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili di dalam kitabnya (al-Fiqhu al-Islam Wa Adillatuhu) juga menegaskan bahwa (para) pengarang telah mencurahkan segenap jeri payahnya dalam mempersiapkan karyanya, maka ia adalah orang yang paling berhak baik dalam hal materi yang dihasilkan dari jeri payahnya atau dari sisi yang lain yang bersifat abstrak, yaitu prosentasenya. Dan ini menjadi haknya untuk selama-lamanya, kemudian bagi ahli warisnya karena mengacu pada Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan yang lain yang menyatakan “Barang siapa meninggalkan harta atau hak, maka bagi ahli warisnya”. Mengacu pada hal tersebut, maka menerbitkan dan menggandakan karya tersebut merupakan sebuah agresi atas hak pengarang dan itu adalah kemaksiatan yang menyebabkan berdosa secara syara’. Itu juga dikategorikan tindak pencurian yang lalim yang diharuskan untuk mengganti hak-hak pengarang.

Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad al Malibary di dalam kitabnya (Fathu al-Mu’in) menjelaskan bahwa ghasab adalah tindakan mengusai hal orang lain walaupun berupa manfa’at seperti memindahkan orang yang duduk di Masjid (lalu menempati tempatnya).

Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (Raudlah al-Thalibin Wa Umdah al-Mufthin) juga menegaskan bahwa wajib menta’ati pemimpin dalam perintah dan pelarangannya selama tidak bertentangan dengan prosedur syara’, baik ia adalah pemimpin yang adil atau tidak.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum meniru sebuah merek seperti merek sarung ‘Lamiri’ adalah haram karena melanggar peraturan pemerintah terkait undang-undang penggandaan atau pembajakan dan tindakan semacam itu termasuk dalam kategori menguasai hak orang lain (ghasab).

“Bagaimanakah hukum jual belinya?”

Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad al Malibary di dalam kitabnya (Fathu al-Mu’in) menjelaskan bahwa disyaratkan di dalam barang yang dijual harus miliknya, maka tidak sah menjual harta orang lain.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hukum jual beli barang bajakan adalah sah kendati ada unsur yang diharamkan (pembajakan merek). Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan​:

هل يجوز للمستعير طبع او تصوير الكتاب المعار من مؤلفه من عير اذنه ؟

بعض علمائنا – رحمهم الله- قالوا : ان هذا علم ويحق لكل ان ينشره ولا نمنعه، لكن الحقيقة انه لا يجوز له، لأن حقوق الطبع اليوم اصحبت محفوظة، وفي السابق لم تعرف الطرف العصرية في مثل هذا الحقوق ، فالمؤلف بذل مجهودا في تأليفه ، وقه يريد ان يعدّل في بعض نصوصه، وقد يريد ان يطمئن بنفسه على ان يصحح كما يريد، وقد يريد مبلغا من المال على مجهوده. شرح الياقوت النفيس / 436

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

والمؤلف قد بذل جهداً كبيراً في إعداد مؤلْفه، فيكون أحق الناس به، سواء فيما يمثل الجانب المادي: وهوالفائدة المادية التي يستفيدها من عمله، أو الجانب المعنوي: وهو نسبة العمل إليه. ويظل هذا الحق خالصاً دائماً له، ثم لورثته لقول النبي صلّى الله عليه وسلم فيما رواه البخاري وغيره: «من ترك مالاً أو حقاً فلورثته». وبناء عليه يعتبر إعادة طبع الكتاب أو تصويره اعتداء على حق المؤلف، أي أنه معصية موجبة للإثم شرعاً، وسرقة موجبة لضمان حق المؤلف في مصادرة النسخ المطبوعة عدواناً وظلماً.. الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (4/ 2861)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Malik​:

فصل في بيان أحكام الغصب الغصب استيلاء على حق غير ولو منفعة كإقامة من قعد بمسجد. فتح المعين - (ج 3 / ص 135)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

إحداها: تجب طاعة الإمام في أمره ونهيه ما لم يخالف حكم الشرع، سواء كان عادلا أو جائرا. روضة الطالبين وعمدة المفتين (10/ 47)

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

( و ) شرط ( في معقود ) عليه مثمنا كان أو ثمنا ( ملك له ) أي للعاقد ( عليه ) فلا يصح بيع فضولي ويصح بيع مال غيره . فتح المعين - (ج 3 / ص 8)

 

Daftar Pustaka:

1.      Syarh al-Yaqut al-Nafis. 236

2.      Al-Fiqhu al-Islam Wa Adillatuhu. IV/ 2861

3.      Fathu al-Mu’in. III/ 135

4.      Raudlah al-Thalibin Wa Umdah al-Mufthin. X/ 47

5.      Fathu al-Mu’in. III/ 8

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Abdulloh Salam

8.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik

 

Link Diskusi: <a href="/ https://www.facebook.com/groups/MTT...">Disini</a>