Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2633980
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
993
1154
5079
2564294
25603
70732
2633980
Your IP: 54.156.85.167
Server Time: 2018-08-15 15:07:53

Maniri Maniri @17 April 2015 pukul 23:39

Assalaamu'alaikum. Semuga para Ahlul ilmi selalu mendapat rahmat Allah dan kurniaNYa. Ini kawan saya tanya: apakah hukumnya melawat/ melayat orang mati yg bukan islam

dan makan makan di tempat (rumah) orang yg mati tersebut?

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepada non muslim menurut perspektif Fiqh?

Maka dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Maniri Maniri tersebut diatas, kami segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut:

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibnu Syaraf Al Nawawi didalam kitabnya Raudlah Al Thalibin mengurai tentang arti ta’ziyah. Beliau menyatakan bahwa arti ta’ziyah adalah meminta untuk bersabar dan tabah atas musibah yang menimpa dengan mengingatkan pahala yang dijanjikan dan memberikan peringatan akan dosa jika tidak bersabar. Imam Nawawi juga mengurai tentang pernyataan bela sungkawa (ta’ziyah) kepada sesama muslim karena berpulangnya keluarganya yang muslim dengan ungkapan:

 

أعظم الله أجرك وأحسن عزاءك وغفر لميتك

(Semoga Allah memperbesar pahalamu, memperelok musibah yang menimpamu dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa keluargamu yang meninggal)

Sedang pernyataan bela sungkawa (ta’ziyah) kepada sesama muslim karena berpulangnya kaluarganya yang non muslim adalah dengan ungkapan:

 

أعظم الله أجرك وأخلف عليك أو ألهمك الصبر أو جبر مصيبتك

(Semoga Allah memperbesar pahalamu dan memberikan pengganti bagi mu atau semoga Allah memberikan kesabaran kepada mu atau semoga Allah membalut musibah yang sedang menimpamu)

 

Adapun pernyataan bela sungkawa (ta’ziyah) kepada non muslim karena berpulangnya keluarganya yang muslim adalah dengan ungkapan:

 

غفر الله لميتك وأحسن عزاك

(Semoga Allah mengampuni dosa-dosa keluargamu yang meninggal dan semoga Allah memperelok dan memperindah ketabahan serta kesabaranmu)

Imam Nawawi juga menyatakan bahwa diperbolehkan bagi orang muslim untuk menyatakan bela sungkawa (ta’ziyah) kepada non muslim (kafir dzimmi) dengan ungkapan:

 

أخلف الله عليك ولا نقص عددك

(Semoga Allah memberikan pengganti bagi mu dan tidak mengurangi jumlahmu)

Hal senada juga dipaparkan oleh Imam Al Khatib Al Syarbini. Beliau juga menambahkan bahwa diperbolehkan berbela sungkawa (ta’ziyah) kepada non muslim yang layak dihormati (kafir dzimmi). Kecuali jika diharapkan keislamannya, maka hukumnya adalah sunnah dengan menyatakan bela sungkawa:

 

غفر الله لميتك وأحسن عزاءك

(Semoga Allah mengampuni dosa-dosa keluargamu yang meninggal dan semoga Allah memperelok dan memperindah ketabahan serta kesabaranmu). Ya’ni dengan mendahulukan mendo’akan yang meninggal yang beragama Islam sebelum mendo’akan yang masih hidup yang non muslim. Pernyataan bela sungkawa tidak dengan:

 

أعظم الله أجرك

(Semoga Allah memperbesar pahalamu). Sebab sesungguhnya tidak ada pahala bagi non muslim.

 

Adapun berbela sungkawa (ta’ziyah) kepada non muslim yang tidak layak untuk dihormati seperti non muslim yang tidak mau hidup rukun dengan orang-orang muslim (kafir charbi) dan orang murtad adalah tidak diperbolehkan. Dan apakah hal itu haram atau makruh?. Maka sebagian Ulama’ menyatakan haram, sedang Al Sayikh Abu Chamid menyatakan makruh. Yang demikian ini jika memang tidak dapat diharapkan keislamannya. Dan jika keislamannya bisa diharapkan, maka hukum turut berbela sungkawa (ta’ziyah) adalah sunnah. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Imam Al Subuki.

 

Imam Achmad Ibnu Muchammad Ibnu Ali Ibnu Chajar Al Haitami juga menyatakan bahwa diperbolehkan turut berbela sungkawa (ta’ziyah) kepada non muslim yang layak untuk dihormati (kafir dzimmi). Namun tidak kepada non muslim yang tidak layak untuk dihormati (kafir charbi). Maka turut berbela sungkawa kepadanya (kafir charbi) adalah haram. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam Al Asnawi. Namun pendapat yang lebih kuat menyatakan makruh. Hal itu adalah benar, namun jika terdapat unsur penghinaan terhadap orang muslim, maka hukum turut berbela sungkawa adalah haram walaupun terhadap kafir yang layak untuk dihormati (kafir dzimmi).

Dari uraian tersebut diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hukum berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepada non muslim adalah diperinci sebagai berikut:

I. Jika non muslim tersebut merupakan non muslim yang mau hidup berdampingan dengan orang-orang muslim (kafir dzimmi), maka hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepadanya adalah diperbolehkan. Bahkan jika bisa diharapkan keislamannya, maka hukumnya adalah sunnah.

II. Jika non muslim tersebut merupakan non muslim yang tidak mau hidup berdampingan dengan orang-orang muslim (kafir charbi), maka hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepadanya adalah hilaf sebagai berikut:

• Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepadanya (kafir charbi) adalah makruh. Pendapat ini dikemukakan oleh Al Syaikh Abu Chamid.

• Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepadanya (kafir charbi) adalah haram. Pendapat iini dikemukakan oleh Imam Al Asnawi.

Perbedaan pendapat tersebut diatas jika tidak bisa diharapkan keislamannya serta tidak adanya unsur penghinaan terhadap orang muslim. Jika keislaman non muslim tersebut bisa diharapkan serta tidak adanya unsur penghinaan terhadap orang muslim, maka hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) adalah sunnah. Namun jika terdapat unsur penghinaan terhadap orang muslim, maka turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) adalah haram. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Aqil Fauzan: 

مَعْنَى التَّعْزِيَةِ: الْأَمْرُ بِالصَّبْرِ وَالْحَمْلُ عَلَيْهِ بِوَعْدِ الْأَجْرِ، وَالتَّحْذِيرُ مِنَ الْوِزْرِ بِالْجَزَعِ، وَالدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بِالْمَغْفِرَةِ، وَلِلْمُصَابِ بِجَبْرِ الْمُصِيبَةِ، فَيَقُولُ فِي تَعْزِيَةِ الْمُسْلِمِ بِالْمُسْلِمِ: أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ، وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ. وَفِي تَعْزِيَةِ الْمُسْلِمِ الْكَافِرِ: أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ، وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ، أَوْ أَلْهَمَكَ الصَّبْرَ، أَوْ جَبَرَ مُصِيبَتَكَ وَنَحْوَهُ. وَفِي تَعْزِيَةِ الْكَافِرِ بِالْمُسْلِمِ: غَفَرَ اللَّهُ لِمَيِّتِكَ، وَأَحْسَنَ عَزَائَكَ. وَيَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُعَزِّيَ الذِّمِّيَّ بِقَرِيبِهِ الذِّمِّيِّ، فَيَقُولُ: أَخْلَفَ اللَّهُ عَلَيْكَ، وَلَا نَقَصَ عَدَدُكَ . روضة الطالبين وعمدة المفتين. الجز 2. صفحة .144

 

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

( و ) يعزى المسلم أي يقال في تعزيته ( بالكافر ) الذمي ( أعظم الله أجرك وصبرك ) وأخلف عليك أو جبر مصيبتك أو نحو ذلك كما في الروضة كأصلها لأنه اللائق بالحال  قال أهل اللغة إذا احتمل حدوث مثل الميت أو غيره من الأموال يقال أخلف الله عليك بالهمز لأن معناه رد عليك مثل ما ذهب منك وإلا خلف عليك أي كان الله خليفة عليك من فقده  ولا يقول غفر لميتك لأن الاستغفار للكافر حرام (و ) يعزى ( الكافر ) المحترم جوازا إلا إن رجي إسلامه فندبا أي يقال في تعزيته ( بالمسلم غفر الله لميتك وأحسن عزاءك ) وقدم الدعاء للميت في هذا لأنه لمسلم والحي كافر ولا يقال أعظم الله أجرك لأنه لا أجر له أما الكافر غير المحترم من حربي أو مرتد كما بحثه الأذرعي فلا يعزى وهل هو حرام أو مكروه الظاهر في المهمات الأول ومقتضى كلام الشيخ أبي حامد الثاني وهو الظاهر  هذا إن لم يرج إسلامه فإن رجي استحبت كما يؤخذ من كلام السبكي . مغني المحتاج . الجز 1. صفحة 355.

 

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

(وَ) يُعَزَّى (الْكَافِرُ) إنْ احْتَرَمَ لَا كَحَرْبِيٍّ فَتَحْرُمُ تَعْزِيَتُهُ عَلَى مَا قَالَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَاَلَّذِي يُتَّجَهُ الْكَرَاهَةُ نَعَمْ إنْ كَانَ فِيهَا تَوْقِيرُهُ حَرُمَتْ حَتَّى لِذِمِّيٍّ وَقَدْ تُسَنُّ تَعْزِيَتُهُ إنْ رُجِيَ إسْلَامُهُ (بِالْمُسْلِمِ غَفَرَ اللَّهُ لِمَيِّتِك وَأَحْسَنَ عَزَاءَك) وَتُبَاحُ تَعْزِيَةُ كَافِرٍ مُحْتَرَمٍ لِمِثْلِهِ بَلْ قَالَ الْإِسْنَوِيُّ يُتَّجَهُ نَدْبُهَا لِمَنْ تُسَنُّ عِيَادَتُهُ فَيُقَالُ لَهُ أَخْلَفَ أَوْ خَلَفَ اللَّهُ عَلَيْك وَلَا نَقَصَ عَدَدُكَ أَيْ لِتَكْثُرَ الْجِزْيَةُ بِهِمْ لِلْمُسْلِمِينَ فِي الدُّنْيَا وَالْفِدَاءُ لَهُمْ بِهِمْ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ فِيهِ دُعَاءٌ بِدَوَامِ كُفْرٍ
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي . الدجز 3. صفحة 178.

 

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

أما الكافر غير المحترم من حربي أو مرتد كما بحثه الأذرعي فلا يعزى وهل هو حرام أو مكروه الظاهر في المهمات الأول ومقتضى كلام الشيخ أبي حامد الثاني وهو الظاهر هذا إن لم يرج إسلامه فإن رجي إسلامه استحب كما يؤخذ من كلام السبكي وأما تعزية الكافر بالكافر فهي غير مندوبة كما اقتضاه كلام الشرح والروضة بل هي جائزة إن لم يرج إسلامه وصيغتها أخلف الله عليك ولا نقص عددك لأن ذلك ينفعنا في الدنيا بكثرة الجزية وفي الآخرة بالفداء من النار . الإقناع للشربيني . الجز 1. صفحة 209.

 

 

Referensi:
1. Raudlah Al Thalibin Wa ‘Umdah Al Muftin. II/ 144
2. Mughni Al Muchtaj. I/ 355
3. Tuchfah Al Muchtaj. III/ 178
4. Al Iqna’ Li Al Syarbini. I/ 209

 

=========

 

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
2. Al-Ustadz Wes Qie
3. Al-Ustadz Abdul Malik
4. Al-Ustadz Mbah Sanidin
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah