Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2877974
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1027
1306
2333
2809480
16237
48266
2877974
Your IP: 34.228.41.66
Server Time: 2018-12-10 14:58:23

Rizka Hikami  @ 9 Desember 2014 pukul 19:51

 

Assalamu alaikum.

Ketika seorang anak di tinggal mati kedua orang tuanya maka selain dari pihak jalur kerabat lurus dari pihak manakah yang layak di libatkan dalam pemeliharaan

dan menjaga anak tersebut ? Ibarotnya ... Syukron

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

 

Siapakah yang layak dilibatkan dalam mengasuh dan menjaga anak setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya menurut perspektif Fiqh?


Maka dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Rizka Hikami tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut:

Imam Taqiyuddin Al-Hishni didalam kitabnya Kifayah Al Akhyar menyatakan: “Ketahuilah, sesungguhnya hukum yang berlaku bagi ibunya ibu (nenek) beserta bapak atau kakek adalah sama dengan hukum yang berlaku bagi ibu. Dan ketika kerabat perempuan berselisih dalam masalah pengasuhan anak, maka yang didahulukan adalah ibu kemudian ibunya ibu (nenek). Yang didahulukan adalah yang terdekat kemudian ibunya bapak (nenek dari jalur bapak) kemudian ibunya ibunya bapak kemudian ibunya kakek kemudian ibunya ibunya kakek. Dan tidak ada hak bagi ibunya bapak kemudian saudara kandung kemudian saudara satu bapak kemudian saudara perempuan satu ibu kemudian bibi dari jalur ibu kemudian bibi dari jalur bapak ketika kerabat yang lebih dekat tidak bercampur laki-laki. Pendapat ini merupakan pendapat yang lebih jelas (al adzhar). Jika tercampur dengan laki-laki, maka yang didahulukan adalah ibu kemudian ibunya ibu kemudian bapak kemudian ibunya bapak kemudian kakek kemudian saudara-saudara perempuan kemudian bibi dari jalur ibu kemudian bibi dari jalur bapak. Hal ini berdasar nash. Adapun saudara-saudara perempuan dan anak-anaknya, paman-paman dari jalur bapak dan anak-anaknya adalah sebagaimana bapak dan kakek didalam pengasuhan. Maka yang didahulukan diantara mereka adalah yang terdekat. Sedang yang terdekat adalah sesuai urutan didalam pembagian harta warisan berdasar nash.”

Imam Abdurrahman Al Juzairi didalam kitabnya Madzahib Al Arba’ah mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa kondisi orang-orang yang berhak dalam pengasuhan adalah terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu:

I. Diantara kerabat terdekat terkumpul laki-laki dan perempuan. Maka dalam kondisi ini, ibu lebih didahulukan dari bapak, kemudian ibunya ibu kejalur atas dengan syarat termasuk ahli warits. Maka ibunya bapaknya ibu tidak berhak dalam pengasuhan. Karena ia bukan termasuk ahli warits. Kemudian bapak, kemudian ibunya bapak, kemudian ibunya ibunya bapak kejalur atas dengan syarat termasuk ahli warits. Maka ibunya ibunya bapak tidak berhak dalam pengasuhan. Karena ia bukan termasuk ahli warits.

II. Hanya terkumpul kerabat perempuan. Maka dalam kondisi ini, ibu lebih didahulukan, kemudian ibunya ibu, kemudian ibunya bapak, kemudian saudara perempuan, kemudian bibi dari jalur ibu, kemudian anak perempuannya saudara perempuan, kemudian anak perempuannya saudara laki-laki, kemudian bibi dari jalur bapak, kemudian anak perempuannya bibi dari jalur ibu, kemudian anak perempuannya paman dari jalur bapak, kemudian anak perempuannya paman dari jalur ibu. Kerabat yang kandung lebih didahulukan dari kerabat yang tidak kandung dan kerabat sebapak lebih didahulukan dari kerabat seibu.

III. Hanya terkumpul kerabat laki-laki. Maka dalam kondisi ini, bapak lebih didahulukan, kemudian kakek, kemudian saudara laki-laki kandung, kemudian saudara laki-laki satu bapak, kemudian saudara laki-laki satu ibu, kemudian anak laki-lakinya saudara laki-laki kandung atau satu bapak, kemudian paman dari jalur bapak dan ibu, kemudian paman sebapak, kemudian anak laki-lakinya paman dari jalur bapak. Namun anak perempuan yang sudah waktunya menikah tidak boleh diserahkan kepadanya. Karena bukan machram. Tapi ia boleh diserahkan kepada wanita yang terpercaya yang telah ditentukan oleh anak laki-lakinya paman dari jalur bapak. Seperti diserahkan kepada anak perempuannya.

 

KESIMPULAN:

Semua kerabat anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya memiliki hak untuk mengasuh, tapi urutan yang sesuai dengan bab warits atau kerabat yang lebih dekat adalah lebih didahulukan. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Mbah Sanidin:

واعلم أن حكم أم الأم مع الأب أو الجد حكم الأم وإذا تنازع الإناث في الحضانة قدمت الام ثم أمهاتها تقدم القربى فالقربى ثم أم الأب ثم أمهاتها ثم أم الجد ثم أمهاتها ولا حق لأم الأب ثم الأخ للأبوين ثم للأب ثم الأخت للأم ثم الخالة ثم العمة هذا هو الأظهر إذا تمحض الإناث فإن اجتمع مع النساء رجال قدمت الأم ثم أمهاتها ثم الأب ثم أمهاته ثم الجد ثم الأخوات ثم الخالة ثم العمة على النص وأما الإخوة وبنوهم والأعمام وبنوهم فإنهم كالأب والجد في الحضانة يقدم الأقرب منهم فالأقرب على ترتيب الميراث على النص واعلم أن بنات الأخوات يقدمن على بنات الإخوة كما قدم الأخت على الأخ والأصح ثبوت الحضانة للأنثى التي ليست بمحرم كبنتي الخالة والعمة وبنتي الخال والعم فإن كان الولد ذكرا استمرت حضانته حتى يبلغ حدا يشتهي مثله وتتقدم بنات الخالات على بنات الأخوال وبنات العمات على بنات الأعمام ويقدمن بنات الخؤولة على بنات العمومة والله أعلم كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار للإمام تقي الدين أبي بكر بن محمد الحسيني الحصني الدمشقي الشافعي . الجز 2. صفحة ٧ ٤٤ )المكتبة الشاملة

 

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

الشافعية - قالوا: للمستحقين في الحضانة ثلاثة أحوال: الحالة الأولى: أن يجتمع الأقارب الذكور مع الإناث. الحالة الثانية: أن يجتمع الإناث فقط، الحالة الثالثة: أن يجتمع الذكور فقط. فأما الحالة الأولى: فتقدم الأم على الأب، ثم أم الأم، وإن علت، بشرط أن تكون وارثة، فلا حضانة لأم أبي أم، لأنها غير وارثة، ثم بعدهن الأب، ثم أمه، ثم أم أمه وإن علت، إذا كانت وارثة، فلا حضانة لأم أبي أم أب، لأنها لا ترث، فإذا عدمت هذه الأربعة وهي الأم وأمهاتها والأب وأمهاته. وإذا اجتمع ذكور وإناث، قدم الأقرب فالأقرب من الإناث ثم الأقرب من الذكور، مثلاً إذا اجتمع إخوة وأخوات، وخالة وعمة، قدمت الأخوات الإناث، لأنهن أقرب وأولى بالتقديم من الذكور، ثم الإخوة الذكور، لأنهم أقرب من الخالة والعمة، ثم العمة، وعند الاستواء في القرابة والذكورة والأنوثة، كأخوات بنات وإخوة ذكور، فإنه يقرع بين البنات، فمن خرجت القرعة عليه قدم على غيره.وأما الحالة الثانية، وهي اجتماع الإناث فقط، فتقدم الأم، ثم أمهاتها، ثم أمهات الأب، ثم الأخت، ثم الخالة، ثم بنت الأخت، ثم بنت الأخ، ثم العمة، ثم بنت الخالة، ثم بنت العمة، ثم بنت العم، ثم بنت الخال، وتقدم الشقيقات على غير الشقيقات، وتقدم من كانت لأب على من كانت لأم. أما الحالة الثالثة، وهي ما إذا اجتمع الذكور فقط، فيقدم الأب، ثم الجد ثم الأخ الشقيق ثم الأخ لأب، ثم الأخ لأم، ثم ابن الأخ الشقيق أو لأب، ثم العم لأبوين، ثم العم لأب ثم ابن العم كذلك ولكن لا تسلم له مشتهاة لأنه غير محرم، وإنما تسلم لثقة يعينها هو، كبنته فإن كانت مجنونة كبيرة، ولها بنت فإنها تقدم بعد الأم على الجدات، وإن كانت صغيرة لها زوج، فإنه يقدم في الحضانة على كل هؤلاء، بشرط أن تكون مطيقة للوطء. الفقه على المذاهب الأربعة . الجز 4. صفحة 521.

 

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

ويقدم الاصل من ذكر او انثى على ماتقدم على الحاشية كالاخ والاخت فان فقد الاصل من الذكر والانثى وهناك حواشى فالاصح الاقرب فالاقرب منهم فتقدم الاخوة والاخوات على غيرهم كالخالة والعمة ـــ قليوبي وعميرة . الجز 4. صفحة 89

 

Referensi:
1. Kifayah Al Akhyar. II/ 447
2. Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah. IV/ 521
3. Qulyubi Wa ‘Amirah. IV/ 89

 

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz 
Brojol Gemblung
2. Al-Ustadz 
Wes Qie
3. Al-Ustadz 
Abdul Malik
4. Al-Ustadz 
Mbah Sanidin
5. Al-Ustadz 
Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz 
Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz 
Abdulloh Salam

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah