Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2521026
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1344
1538
9097
2437012
55030
71119
2521026
Your IP: 54.80.198.173
Server Time: 2018-06-21 19:46:38

Eff@ 17 April 2016 pukul 12:03

Assalamualaikum, wr. wb.. saya ingin mengajukan pertanyaan kepada para asatidz.. sbgaimana yg sudah diketahui bahwa wasiat dari ss'org yg meninggal itu hrus dipenuhi.. pertanyaannya, jika ss'org meninggal dan berwasiat kpada fulan untuk menikahi fulanah, nmun fulan trsebut tdk mau menikahinya. dapatkah fulan menolak wasiat trsebut? mohon jawaban dan penjelasannya. Sekian dan trima kasih. Salam

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Jika seseorang berwasiat agar menikah dengan seseorang, bolehkah tidak melaksanakan wasiat semacam itu?”

Imam Abu al Dawud Sulaiman bin al As’ats di dalam kitabnya (Sunan Abu Dawud) menyebutkan sebuah Hadits yang menyatakan bahwa telah bercerita kepada kami Abdullah bin Idris dari Abdurrahman bin Sulaiman dari Asid bin Ali bin Ubaid (budak yang dimerdekakan oleh Bani Saidah) dari bapaknya dari Abi Asid Malik bin Rabi’ah al Saidi, beliau berkata “Pada saat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari kalangan Bani Salimah, lalu ia berkata ‘Wahai utusan Allah, adakah kebaikan yang dapat saya lakukan untuk kedua orang tua saya setelah keduanya meninggal dunia?’, Rasulullah menjawab ‘Iya, mendo’akan keduanya, memintakan ampunan, menunaikan janjinya (yang belum terlaksana), menyambung saudara dengan keluarga yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya, dan berlaku baik terhadap sahabatnya’.”

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (Fatawa al Syabkah al Islamiyah) dijalaskan dengan sesi tanya jawab sebagaimana berikut:

Soal: Salah seorang paman (dari ibu) ku telah meninggal, ia memiliki beberapa anak perempuan, lalu anak laki-laki paman (dari bapak) maju (meminang) salah satu anak perempuannya. Istri pamanku berkata “Sesungguhnya pamanmu telah berwasiat sebelum ia meninggal agar anak-anak perempuan tidak menikah dengan kerabatnya baik dari bapak atau ibu”. Apakah boleh menentang wasiat tersebut?

Fatwa: Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya. Sesungguhnya salah satu kabajikan bagi orang tua setelah meninggal adalah melestarikan wasiatnya, sedang Imam Ahmad dan yang lain telah mengeluarkan Hadits yang menyatakan bahwa sesungguhnya seorang laki-laki telah berkata “Wahai utusan Allah, adakah kebaikan yang dapat saya lakukan untuk kedua orang tua saya setelah keduanya meninggal dunia?”, Rasulullah menjawab “Iya, ada 4 hal, mendo’akan, memohonkan ampunan, melestarikan janji, memuliakan sahabat, dan menyambung saudara dengan keluarga yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya. 4 hal inilah yang dapat engkau lakukan setelah keduanya meninggal”. Kebajikan ini adalah jenis kebajikan yang bersifat sunah, bukan wajib, dan sebelumnya kami telah memaparkan bahwa sesungguhnya melestarikan wasiat kedua orang tua agar tidak menikah dengan orang yang telah ditentukan adalah bukan suatu hal yang wajib. maka dari itu tidak ada larangan menolak wasiat tersebut, dan menikahkan anak perempuan dengan pria yang sepadan, terlebih memiliki keagamaan (yang kuat) dan pekerti (baik). Atau dikhawatirkan terjadi kerusakan atau akan menjadi perawan tua jika tidak dinikahkan dengan kerabat.

Di dalam sebuah literatur (al Adab al Syar’iyah) juga dijelaskan bahwa kedua orang tua tidak boleh memaksa anak untuk menikah dengan orang yang tidak dikehendakinya. Syaikh Taqiyuddin rahimahullah menyatakan bahwa salah satu dari kedua orang tua dilarang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak dikehendakinya, dan ketika ia menolak (dengan etika dan cara yang baik), maka ia tidak dikategorikan durhaka.

Dari pemaparan tersebut di atas, secara eksplisit dapat diketahui bahwa jika seseorang berwasiat agar menikah dengan orang yang telah ditentukan, maka ahli waris boleh menolak dengan tidak melaksanakannya. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِىٍّ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ - الْمَعْنَى - قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَسِيدِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ عُبَيْدٍ مَوْلَى بَنِى سَاعِدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِىِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ». . سنن أبى داود (4/ 500)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

السؤال: مات خال من أخوالي وله ثلاث بنات تقدم إلى إحدى بناته ابن عمتها فقالت له زوجة خاله إن خالك قد وصى قبل مماته بعدم زواج بناته من أقربائه يقصد أقارب الأم وأقارب الأب فهل يجوز مخالفة تلك الوصية و جزاكم الله خيرا.

الفتوى الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن من البر بالأب بعد موته إنفاذ وصيته، فقد أخرج الإمام أحمد وغيره، أن رجلا قال: يا رسول الله، هل بقي علي من بر أبوي شيء بعد موتهما أبرهما به، قال: نعم. خصال أربع: الصلاة عليهما، والاستغفار لهما، وإنفاذ عهدهما، وإكرام صديقهما، وصلة الرحم التي لا رحم لك إلا من قبلهما، فهو الذي يبقى عليك من بعد موتهما . وهذه الأنواع من البر مستحبة وليست بواجبة. وكنا بينا من قبل أن إنفاذ وصيتهما بعدم الزواج من شخص معين ليس واجبا، وراجع في ذلك الفتوى رقم: 52317 . وعليه فلا مانع من مخالفة تلك الوصية، وتزويج البنات ممن له الكفاءة وخاصة إذا كان ذا دين وخلق أو خشي عليهن الفساد أو العنوسة إن لم يتزوجهن من الأقارب. والله أعلم. فتاوى الشبكة الإسلامية - (ج 8 / ص 2839)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

فصل ليس للوالدين إلزام الولد بنكاح من لا يريد قال الشيخ تقي الدين رحمه الله تعالى أنه ليس لأحد الأبوين أن يلزم الولد بنكاح من لا يريد وإنه إذا امتنع لا يكون عاقا . الأدب الشرعية ١/٣٣٥

Daftar Pustaka:

1. Sunan Abu Dawud. III/ 218

2. Fatawa al Syabkah al Islamiyah. VIII/ 2839

3. Al Adab al Syar’iyah. I/ 335

=========

MUSYAWIRIN: Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I