Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2520978
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1296
1538
9049
2437012
54982
71119
2520978
Your IP: 54.80.198.173
Server Time: 2018-06-21 19:37:36

Rohman Maulana 11 Mei 2016 pukul 20:10

Assalamualaikum wr wb, saya mau tanya tentang talak seorang suami menalak istri dengan niatan untuk menakut" istri apa kah itu sah atau tidak tetapi sng istri tidak menanggapi atas kata" talak yg di lontarkan sng suami apa hukum nya mehon bantuannya supaya bisa di mengerti walaikum salam wr wb.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum menjatuhkan talak untuk menakut-nakuti?”

Imam Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri di dalam kitabnya (Tuhfah al-Akhwadzi) menyebutkan sebuah Hadits yang menyatakan (Tiga hal yang serius, dan bercandanya dianggap serius), seseorang di dalam al-Mirqat menjelaskan bahwa “senda gurau” adalah menghendaki sesuatu selain yang dirangkai dengan tanpa menyesuaikan antara keduanya. Sedang “keseriusan” adalah menghendaki sesuatu sesuai yang dirangkai atau sesuatu yang layak dengan kalimat kiasan. (yaitu nikah, talak, dan rujuk) dengan dibaca karah dan fathah huruf “ra’”, yakni jika seseorang mencerai, atau menikah, atau meruju’ lalu ia berucap “aku hanya bercanda”, maka hal itu tidak bermanfa’at. Imam al-Qadli menyatakan bahwa para ilmuan telah sepakat sesungguhnya cerainya orang yang bercanda adalah terjadi (jatuh). Jika berlaku kalimat cerai yang jelas atas lisan seseorang yang berakal dan baligh, maka ucapan “aku hanya bercanda” tidak bermanfa’at (tidak berpengaruh), sebab jika itu diterima, niscaya hukum-hukum tidak berfungsi. Imam Muhammad al-Zuhri al-Ghamrawi di dalam kitabnya (al-Siraj al-Wahhaj) menyatakan bahwa cerai terjadi menggunakan kalimat yang jelas dengan tanpa niat, (sharih) yaitu kalimat yang tidak dapat diarahkan pada selain perceraian (dan seterusnya). Cerai juga terjadi menggunakan kalimat kiasan dengan niat, (kinayah) yaitu kalimat yang dapat diarahkan pada perceraian atau yang lain. Dengan demikian, jika kalimat cerai yang dipergunakan untuk menakut-nakuti adalah kalimat cerai yang jelas (sharih), maka terjadi cerai dengan atau tanpa niat. Dan jika yang dipergunakan adalah kalimat cerai kiasan (kinayah), maka terjadi cerai jika disertai niat. Jika tidak, maka tidak. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

( ثلاث جدهن جد وهزلهن جد ) قال القارىء في المرقاة الهزل أن يراد بالشيء غير ما وضع له بغير مناسبة بينهما والجد ما يراد به ما وضع له أو ما صلح له اللفظ مجازا ( النكاح والطلاق والرجعة ) بكسر الراء وفتحها ففي القاموس بالكسر والفتح عود المطلق إلى طليقته انتهى يعنى لو طلق أو نكح أو راجع وقال كنت فيه لاعبا هازلا لا ينفعه قال القاضي اتفق أهل العلم على أن طلاق الهازل يقع فإذا جرى صريح لفظة الطلاق على لسان العاقل البالغ لا ينفعه أن يقول كنت فيه لاعبا أو هازلا لأنه لو قبل ذلك منه لتعطلت الأحكام . تحفة الأحوذي - (ج 4 / ص 304)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

ويقع الطلاق بصريحه وهو ما لا يحتمل غير الطلاق بلا نية …….الى ان قال و يقع أيضا بكناية وهي ما يحتمل الطلاق وغيره لكن بنية السراج الوهاج - (ج 1 / ص 408)

Daftar Pustaka:

1. Tuhfah al-Akhwadzi. 81

2. Al-Siraj al-Wahhaj. I/ 408

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik