Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2781546
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1434
1630
4528
2712337
36482
45614
2781546
Your IP: 54.158.208.189
Server Time: 2018-10-16 19:32:02

Singkong'van Jhava@ 12 Juni 2016 pukul 2:04

Assalamu'alaikum wr'wb . Mau tanya kpd grup mttm yg saya cintai apa hukumnya jika seorang lelaki menikahi dua wanita tp kaka beradik.. Trimakasih

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum menikahi dua wanita kakak beradik?”

Imam Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad; Abu Abdillah; Syamsuddin al Ghazi di dalam kitabnya (Fathu al-Qarib al-Mujib) menyatakan bahwa salah satu wanita yang haram dinikahi dengan keharaman yang tidak bersifat langgeng melainkan dari sisi menghimpun, yaitu saudara perempuan istri. Maka tidak boleh menghimpun antara keduanya (dan seterusnya). Jika seseorang menghimpun antara dua orang yang haram dihimpunkan dalam satu akad, maka pernikahannya batal, atau secara berkala, maka pernikahan yang kedua batal jika wanita (dalam pernikahan) terdahulu diketahui. Jika tidak diketahui, maka keduanya batal. Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati di dalam kitabnya (I’anah al-Thalibin) menjelaskan bahwa (pernyataan pengarang: jika menikahi dua orang yang diharamkan dalam satu akad), yakni jika keduanya dihimpun dalam satu akad atau dua akad yang terjadi secara bersamaan, sebagaimana seorang wali berkata “aku menikahkanmu dengan anak-anak perempuanku” lalu kedua nikahnya diterima secara bersamaan atau tidak diketahui yang terdahulu dan perempuannya telah ditentukan (misal dengan menyebutkan nama) atau diketahui yang terdahulu namun perempuannya tidak ditentukan, maka nikah keduanya batal seluruhnya. Imam Sulaiman bin Muhammad bin Amr al-Bujairami al-Mishri al-Syafi’i di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib) juga menyatakan bahwa pembagian yang kedua adalah keharaman yang tidak bersifat kekal, yakni haram dari sisi menghimpun dalam sebuah perlindungan, melainkan menjadi halal karena meninggal atau putusnya hubungan (cerai) saudara perempuannya, berdasar firman Allah “(dan diharamkan bagimu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau". (QS; al-Nisa’: 23), dan karena dapat menyebabkan putusnya persaudaraan walaupun ia rela dengan hal itu, karena tabi’at tidak selamanya konsisten.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum menikahi dua wanita bersaudara adalah diperinci sebagai berikut:

·         Jika keduanya dihimpun dalam satu akad, atau dua akad yang terjadi secara bersamaan, atau secara berkala, namun tidak diketahui mana akad yang terdahulu atau tidak ditentukan mempelai perempuannya, maka pernikahannya batal.

·         Jika pernikahan terjadi secara berkala, maka pernikahan yang pertama yang dihukumi sah, sedang pernikahan kedua batal jika antara akad yang pertama dan kedua jelas (diketahui) serta mempelai perempuan telah ditentukan. Jika tidak, maka kembali pada opsi pertama. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

(وواحدة) حرمتها لا على التاءبيد بل (من جهة الجمع) فقط (وهي اخت الزوجة) قلا يجمع بينها وبين اختها من اب او ام او بينهما نسب اورضاع............الى ان قال فان جمع الشخص بين من حرم الجمع بينهما بعقد واحد نكحهما فيه بطل نكاحهما او لم يجمع بينهما نكحهما مرتبا فالثانى هو الباطل ان علمت السابقة فان جهلت بطل نكاحهما فتح القريب المجيب ص 45

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

( قوله فإن نكح محرمين في عقد ) أي فإن جمع بينهما في عقد واحد أو في عقدين وقعا معا بأن قال الولي له زوجتك بناتي فقبل نكاحهما معا أو جهل السبق والمعينة أو علم السبق لكن جهلت السابقة فيبطل نكاحهما معا في الجمع ( وقوله أو في عقدين الخ ) أي أو نكح محرمين في عقدين بطل الثاني وهذا إذا كانا مرتبين وعرقت السابقة وإلا بطلا معا كما علمت . إعانة الطالبين - (ج 3 / ص 297)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

ثُمَّ شَرَعَ فِي الْقِسْمِ الثَّانِي وَهُوَ التَّحْرِيمُ غَيْرُ الْمُؤَبَّدِ بِقَوْلِهِ ( و ) تَحْرُمُ ( وَاحِدَةٌ مِنْ جِهَةِ الْجَمْعِ ) فِي الْعِصْمَةِ ( وَهِيَ أُخْتُ الزَّوْجَةِ ) فَلَا يَتَأَبَّدُ تَحْرِيمُهَا بَلْ تَحِلُّ بِمَوْتِ أُخْتِهَا أَوْ بَيْنُونَتِهَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إلَّا مَا قَدْ سَلَفَ } وَلِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ وَإِنْ رَضِيَتْ بِذَلِكَ فَإِنَّ الطَّبْعَ يَتَغَيَّرُ .. حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 10 / ص 249)

 

Daftar Pustaka:

1.      1. Fathu al-Qarib al-Mujib. 45

2.     2. I’anah al-Thalibin. III/ 297

3.     3. Hasyiyah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib. X/ 249

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah(MTTM)

MUSHAHIH:

1.      1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.     2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.     3. Al-Ustadz Abdul Malik

4.     4. Al-Ustadz Rofie

5.     5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.     6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.     7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

 

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I