DOC_1302. Wali Nikah Wanita Muallaf

Ahmada Ahmada 14 Februari 2017 pukul 14:20

Assalamualaikum. Wanita muallaf yang kedua kesua ortunya non muslim, maka ketika nikah siapa yang menjadi wali nikahnya

....

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Siapakah wali nikah wanita mu’allaf yang kedua orang tuanya masih berstatus Non Muslim?”

Imam Abu al-Husain; Yahya bin Abi al-Khoir bin Salim al-‘Imrani al-Yamani al-Syafi’i di dalam kitabnya (al-Bayan) menjelaskan dengan mengutip pernyataan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala yang menyatakan bahwa wali wanita kafir adalah kafir dan orang Muslim tidak bisa menjadi wali bagi wanita kafir kecuali bagi budak perempuannya. Secara global, sesungguhnya ketika orang kafir memiliki anak perempuan yang muslim, maka ia tidak memiliki hak kewalian atas anaknya dan jika ia (anak perempuan muslim) memiliki wali (lain) yang (juga) muslim, maka ia yang menikahkan. Jika tidak, maka yang menikahkan adalah hakim karena mengacu pada firman Allah “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain”. (QS. al-Taubah: 71)

Setali tiga uang, hal senada juga dipaparkan oleh Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab). Beliau juga menyebutkan sebuah Hadits yang meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak menikahkan Ummu Habibah yang telah memeluk agama Islam putri Abi Sufyan yang masih berstatus Non Muslim, beliau mewakilkan kepada Amr bin Umayyah al-Dlamri agar menikahkannya dengan putra dari pamannya sendiri yakni Halid bin Sa’id bin al-‘Ash yang juga telah memeluk agama Islam. Al-Nawawi menegaskan bahwa jika orang Muslim memiliki anak perempuan kafir, maka ia tidak berhak menjadi walinya, karena mengacu pada firman Allah “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain” (QS. al-Anfal: 73). Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada hak wali bagi orang Muslim atas dirinya (perempuan kafir), jika ia memilik wali yang juga kafir, maka dialah yang menikahkan. Jika tidak, maka hakim yang berperan menikahkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda “Hakim adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa yang manjadi wali atas wanita mu’allaf tersebut adalah diperinci sebagai berikut:

· Jika ia memiliki wali yang lain yang seakidah, maka dialah yang berhak menjadi wali

· Jika tidak, maka yang menjadi wali adalah hakim. والله اعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Rofie​:

[مسألة ولي الكافرة كافر]

قال الشافعي - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: (وولي الكافرة كافر، ولا يكون المسلم وليا لكافرة إلا على أمته) .

وجملة ذلك: أنه إذا كان للكافر ابنة مسلمة.. فإنه لا ولاية له عليها، فإن كان لها ولي مسلم.. زوجها، وإلا.. زوجها الحاكم، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [التوبة: 71] الآية [التوبة: 71]

البيان في مذهب الإمام الشافعي (9/ 173)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Abdulloh Salam​:

(فرع)

قال الشافعي رضى الله عنه: وولى الكافرة كافر، ولا يكون المسلم ولى الكافرة إلا على أمته.

وبيان ذلك أنه إذا كان للكافر ابنة مسلمة فإنه لا ولاية له عليها، فإن كان لها ولى مسلم زوجها وإلا زوجها الحاكم لقوله تعالى: والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض.

وروى أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يتزوج أم حبيبة بنت أبى سفيان وكانت مسلمة وأبو سفيان لم يسلم، وكل صلى الله عليه وسلم عمرو بن أمية الضمرى فتزوجها من ابن عمها خالد بن سعيد بن العاص، وكان مسلما، وإن كان للمسلم ابنة كافرة فلا ولاية له عليها لقوله تعالى (والذين كفروا بعضهم أولياء بعض) فدل على أنه لا ولاية للمسلم عليها، فإن كان لها ولى كافر زوجها للآيه، وإن لم يكن لها ولى كافر زوجها الحاكم لقوله صلى الله عليه وسلم: فالسلطان ولى من لا ولى له.

المجموع شرح المهذب - (ج 16 / ص 161)

Daftar Pustaka:

1. 1. Al-Bayan. IX/ 173

2. 2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. XVI/ 161

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. S.P. d I

 

 

 DOC_1302. Wali Nikah Wanita Muallaf

 

Ahmada Ahmada 14 Februari 2017 pukul 14:20

Assalamualaikum. Wanita muallaf yang kedua kesua ortunya non muslim, maka ketika nikah siapa yang menjadi wali nikahnya....

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Siapakah wali nikah wanita mu’allaf yang kedua orang tuanya masih berstatus Non Muslim?”

Imam Abu al-Husain; Yahya bin Abi al-Khoir bin Salim al-‘Imrani al-Yamani al-Syafi’i di dalam kitabnya (al-Bayan) menjelaskan dengan mengutip pernyataan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala yang menyatakan bahwa wali wanita kafir adalah kafir dan orang Muslim tidak bisa menjadi wali bagi wanita kafir kecuali bagi budak perempuannya. Secara global, sesungguhnya ketika orang kafir memiliki anak perempuan yang muslim, maka ia tidak memiliki hak kewalian atas anaknya dan jika ia (anak perempuan muslim) memiliki wali (lain) yang (juga) muslim, maka ia yang menikahkan. Jika tidak, maka yang menikahkan adalah hakim karena mengacu pada firman Allah “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain”. (QS. al-Taubah: 71)

Setali tiga uang, hal senada juga dipaparkan oleh Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab). Beliau juga menyebutkan sebuah Hadits yang meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak menikahkan Ummu Habibah yang telah memeluk agama Islam putri Abi Sufyan yang masih berstatus Non Muslim, beliau mewakilkan kepada Amr bin Umayyah al-Dlamri agar menikahkannya dengan putra dari pamannya sendiri yakni Halid bin Sa’id bin al-‘Ash yang juga telah memeluk agama Islam. Al-Nawawi menegaskan bahwa jika orang Muslim memiliki anak perempuan kafir, maka ia tidak berhak menjadi walinya, karena mengacu pada firman Allah “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain” (QS. al-Anfal: 73). Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada hak wali bagi orang Muslim atas dirinya (perempuan kafir), jika ia memilik wali yang juga kafir, maka dialah yang menikahkan. Jika tidak, maka hakim yang berperan menikahkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda “Hakim adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa yang manjadi wali atas wanita mu’allaf tersebut adalah diperinci sebagai berikut:

· Jika ia memiliki wali yang lain yang seakidah, maka dialah yang berhak menjadi wali

· Jika tidak, maka yang menjadi wali adalah hakim. والله اعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Rofie​:

[مسألة ولي الكافرة كافر]

قال الشافعي - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: (وولي الكافرة كافر، ولا يكون المسلم وليا لكافرة إلا على أمته) .

وجملة ذلك: أنه إذا كان للكافر ابنة مسلمة.. فإنه لا ولاية له عليها، فإن كان لها ولي مسلم.. زوجها، وإلا.. زوجها الحاكم، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [التوبة: 71] الآية [التوبة: 71]

البيان في مذهب الإمام الشافعي (9/ 173)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Abdulloh Salam​:

(فرع)

قال الشافعي رضى الله عنه: وولى الكافرة كافر، ولا يكون المسلم ولى الكافرة إلا على أمته.

وبيان ذلك أنه إذا كان للكافر ابنة مسلمة فإنه لا ولاية له عليها، فإن كان لها ولى مسلم زوجها وإلا زوجها الحاكم لقوله تعالى: والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض.

وروى أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يتزوج أم حبيبة بنت أبى سفيان وكانت مسلمة وأبو سفيان لم يسلم، وكل صلى الله عليه وسلم عمرو بن أمية الضمرى فتزوجها من ابن عمها خالد بن سعيد بن العاص، وكان مسلما، وإن كان للمسلم ابنة كافرة فلا ولاية له عليها لقوله تعالى (والذين كفروا بعضهم أولياء بعض) فدل على أنه لا ولاية للمسلم عليها، فإن كان لها ولى كافر زوجها للآيه، وإن لم يكن لها ولى كافر زوجها الحاكم لقوله صلى الله عليه وسلم: فالسلطان ولى من لا ولى له.

المجموع شرح المهذب - (ج 16 / ص 161)

Daftar Pustaka:

1. 1. Al-Bayan. IX/ 173

2. 2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. XVI/ 161

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. S.P. d I

 

 

 DOC_1302. Wali Nikah Wanita Muallaf

 

Ahmada Ahmada 14 Februari 2017 pukul 14:20

Assalamualaikum. Wanita muallaf yang kedua kesua ortunya non muslim, maka ketika nikah siapa yang menjadi wali nikahnya....

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Siapakah wali nikah wanita mu’allaf yang kedua orang tuanya masih berstatus Non Muslim?”

Imam Abu al-Husain; Yahya bin Abi al-Khoir bin Salim al-‘Imrani al-Yamani al-Syafi’i di dalam kitabnya (al-Bayan) menjelaskan dengan mengutip pernyataan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala yang menyatakan bahwa wali wanita kafir adalah kafir dan orang Muslim tidak bisa menjadi wali bagi wanita kafir kecuali bagi budak perempuannya. Secara global, sesungguhnya ketika orang kafir memiliki anak perempuan yang muslim, maka ia tidak memiliki hak kewalian atas anaknya dan jika ia (anak perempuan muslim) memiliki wali (lain) yang (juga) muslim, maka ia yang menikahkan. Jika tidak, maka yang menikahkan adalah hakim karena mengacu pada firman Allah “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain”. (QS. al-Taubah: 71)

Setali tiga uang, hal senada juga dipaparkan oleh Imam Abu Zakariya; Muhyiddin; Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab). Beliau juga menyebutkan sebuah Hadits yang meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak menikahkan Ummu Habibah yang telah memeluk agama Islam putri Abi Sufyan yang masih berstatus Non Muslim, beliau mewakilkan kepada Amr bin Umayyah al-Dlamri agar menikahkannya dengan putra dari pamannya sendiri yakni Halid bin Sa’id bin al-‘Ash yang juga telah memeluk agama Islam. Al-Nawawi menegaskan bahwa jika orang Muslim memiliki anak perempuan kafir, maka ia tidak berhak menjadi walinya, karena mengacu pada firman Allah “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain” (QS. al-Anfal: 73). Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada hak wali bagi orang Muslim atas dirinya (perempuan kafir), jika ia memilik wali yang juga kafir, maka dialah yang menikahkan. Jika tidak, maka hakim yang berperan menikahkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda “Hakim adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa yang manjadi wali atas wanita mu’allaf tersebut adalah diperinci sebagai berikut:

· Jika ia memiliki wali yang lain yang seakidah, maka dialah yang berhak menjadi wali

· Jika tidak, maka yang menjadi wali adalah hakim. والله اعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Rofie​:

[مسألة ولي الكافرة كافر]

قال الشافعي - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: (وولي الكافرة كافر، ولا يكون المسلم وليا لكافرة إلا على أمته) .

وجملة ذلك: أنه إذا كان للكافر ابنة مسلمة.. فإنه لا ولاية له عليها، فإن كان لها ولي مسلم.. زوجها، وإلا.. زوجها الحاكم، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [التوبة: 71] الآية [التوبة: 71]

البيان في مذهب الإمام الشافعي (9/ 173)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Abdulloh Salam​:

(فرع)

قال الشافعي رضى الله عنه: وولى الكافرة كافر، ولا يكون المسلم ولى الكافرة إلا على أمته.

وبيان ذلك أنه إذا كان للكافر ابنة مسلمة فإنه لا ولاية له عليها، فإن كان لها ولى مسلم زوجها وإلا زوجها الحاكم لقوله تعالى: والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض.

وروى أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يتزوج أم حبيبة بنت أبى سفيان وكانت مسلمة وأبو سفيان لم يسلم، وكل صلى الله عليه وسلم عمرو بن أمية الضمرى فتزوجها من ابن عمها خالد بن سعيد بن العاص، وكان مسلما، وإن كان للمسلم ابنة كافرة فلا ولاية له عليها لقوله تعالى (والذين كفروا بعضهم أولياء بعض) فدل على أنه لا ولاية للمسلم عليها، فإن كان لها ولى كافر زوجها للآيه، وإن لم يكن لها ولى كافر زوجها الحاكم لقوله صلى الله عليه وسلم: فالسلطان ولى من لا ولى له.

المجموع شرح المهذب - (ج 16 / ص 161)

Daftar Pustaka:

1. 1. Al-Bayan. IX/ 173

2. 2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. XVI/ 161

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. S.P. d I

 

 

Cari Artikel

Statistik

3316188
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
927
3157
11253
3233838
46713
72894
3316188
Your IP: 35.153.73.72
Server Time: 2019-07-18 06:43:01