DOC_538. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim (ML)

Wafa Fivers 22@ November 2014.

Assalamu alaikum pak ustad n bu ustadzah....saya mau tanya bagaimana

hukumnya jika seorang istri tidak mau di jima' dengan alasan tidak ada gairah..sedangkan suaminya sudah tidak kuat lagi pengen anuu...? Terimakasih..

=========

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

Segala puji bagi Allah atas limpahan ni’mat yang tiada ternilai dan tak terhingga.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Rosulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimanakah hukum seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) dengan alasan tidak ada gairah menurut perspektif Fiqh? Pertanyaan inilah yang disampaikan oleh sahabat fillah Wafa Fivers yang masuk kedalam redaksi segenap anggauta musyawirin MTTM. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya.

Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh sahabat fillah Wafa Fivers tersebut diatas berdasar literatur yang terdapat didalam kitab-kitab klasik mu’tabar yang kami jadikan sebagai referensi, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت أن تجيء فبات غضبان لعنتها الملائكة حتى تصبح أي وترجع عن العصيان"

 

Dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Apabila laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian ia menolak untuk datang lalu laki-laki itu tidur semalam dalam keadaan marah kepadanya, maka ia dilaknat oleh malaikat hingga subuh.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Berdasar hadis tersebut diatas, semua Ulama’ sepakat dan menyatakan bahwa haram (dosa besar) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) tanpa adanya alasan atau udzur yang dibenarkan oleh syara’ dan penolakan tersebut bisa menyebabkan gugurnya kewajiban suami untuk memberikan nafkah. Namun apabila penolakan tersebut dikarenakan sebuah alasan atau udzur yang dibenarka oleh syara’ seperti terlalu besarnya kemaluan suami sekira istri tidak mampu menanggungnya atau karena sakit yang bisa membahayakan terhadap keselamatan istri, maka hal itu (penolakan) tidak menyebabkan seorang istri berdosa dan tidak menyebabkan gugurnya kewajiban seorang suami dalam memberikan nafkah.

Selain dua hal tersebut diatas (kemaluan terlalu besar, sakit) terdapat hal-hal yang memperbolehkan (bahkan dianjurkan) seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) yang juga tidak menyebabkan gugurnya kewajiban seorang suami dalam memberikan nafkah. Yaitu:

• Haidl. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) dalam keadaan haidl. (Ittifaq).

• Nifas. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) dalam keadaan nifas. (Ittifaq)

• I’tikaf. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) ketika melaksanakan i’tikaf. (Ittifaq(

• Puasa ramadlan. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) ketika melaksanakan puasa ramadlan. (Ittifaq)

• Ihram. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) ketika melaksanakan ihram. (Ittifaq(

• Dzihar. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) setelah terjadinya dzihar (suami menyamakan bagian dari anggauta tubuh istri dengan ibunya) sebelum membayar kafarat. (Ittifaq(

• Istihadlah. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) dalam keadaan mengeluarkan darah istihadlah. (Hilaf(

• Suci dari haidl namun belum mandi. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) ketika suci dari haidl namun belum mandi. (Hilaf)

• Tinggal ditempat yang sedang terjadi peperangan. Maka boleh (bahkan dianjurkan) bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) ketika berada ditempat yang sedang terjadi peperangan. (Hilaf)

Imam Syihabuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ali Ibnu Hajar Al-Makki Al-Haitami menambahkan bahwa boleh bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim (ML) dihadapan istri yang lain dan hal ini (penolakan) tidak menyebabkan gugurnya kewajiban suami untuk memberikan nafkah.

Dari uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa penolakan seorang istri atas ajakan suaminya tanpa adanya alasan (udzur) yang dibenarkan oleh syari’at seperti penolakan seorang istri dengan alasan tidak bergairah adalah haram dan dosa besar. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh @ Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

( ﻭَﺗَﺴْﻘُﻂُ ( ﺍﻟﻨَّﻔَﻘَﺔُ ) ﺑِﻨُﺸُﻮﺯٍ ( ﺃَﻱْ ﺧُﺮُﻭﺝٍ ﻋَﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝِ . ) ﻭَﻟَﻮْ ﺑِﻤَﻨْﻊِ ﻟَﻤْﺲٍ ﺑِﻠَﺎ ﻋُﺬْﺭٍ ( ﺃَﻱْ ﺗَﺴْﻘُﻂُ ﻧَﻔَﻘَﺔُ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﺑِﺎﻟﻨُّﺸُﻮﺯِ ﺑِﻠَﺎ ﻋُﺬْﺭٍ ﻓِﻲ ﻛُﻠِّﻪِ ، ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﻀِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺻَﺢِّ ﻭَﻧُﺸُﻮﺯُ ﺍﻟْﻤَﺠْﻨُﻮﻧَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺮَﺍﻫِﻘَﺔِ ﻛَﺎﻟْﻌَﺎﻕِﻟَﺔِ ﺍﻟْﺒَﺎﻟِﻎَﺓِ ، ) ﻭَﻋَﺒَﺎﻟَﺔِ ﺯَﻭْﺝٍ ( ﺃَﻱْ ﻛِﺒَﺮِ ﺁﻟَﺘِﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﺗَﺤْﻤِﻠُﻪَﺍ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﺔُ ، ) ﺃَﻭْ ﻣَﺮَﺽٍ ( ﺑِﻬَﺎ ) ﻳَﻀُﺮُّ ﻣَﻌَﻪُ ﺍﻟْﻮَﻁْﺀُ ﻋُﺬْﺭٌ ( ﻓِﻲ ﺍﻟﻨُّﺸُﻮﺯِ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻮَﻁْﺀِ . حاشيتان. قليوبي . الجز 4. صفحة 79.

 

Dasar pengambilan (2) oleh @ Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

ويحصل النشوز ( بمنع ) الزوجة الزوج ( من تمتع ) ولو بنحو لمس أو بموضع عينه ( لا ) إن منعته عنه ( لعذر ) ككبر آلته بحيث لا تحتمله ومرض بها يضر معه الوطء وقرح في فرجها وكنحو حيض ويثبت كبر آلته بإقراره أو برجلين من رجال الختان ويحتالان لانتشار ذكره بأي حيلة غير إيلاج ذكره في فرج محرم أو دبر أو بأربع نسوة فإن لم يمكن معرفته إلا بنظرهن إليهما مكشوفي الفرجين حال انتشار عضوه جاز ليشهدن فرع لها منع التمتع لقبض الصداق الحال أصالة قبل الوطء بالغة مختارة  إذ لها الإمتناع حينئذ فلا يحصل النشوز ولا تسقط النفقة بذلك فإن منعت لقبض الصداق المؤجل أو بعد الوطء طائعة فتسقط فلو منعته لذلك بعد وطئها مكرهة أو صغيرة ولو بتسليم الولي فلا ولو ادعى وطأها بتمكينها وطلب تسليمها إليه فأنكرته وامتنعت من التسليم صدقت . فتح المعين . الجز 4. صفحة  78.

 

Dasar pengambilan( 3) oleh @ Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

موانع الوطء المشروع موانع الوطء المشروع تسعة، اتفق الفقهاء على ستة منها: وهي الحيض والنفاس والاعتكاف والصوم والإحرام والظهار قبل التكفير، واختلفوا في ثلاثة منها: وهي الاستحاضة، وعدم الاغتسال بعد الطهر من الحيض، والإقامة في دار الحرب، وبيان ذلك فيما يلي أولا: الحيض: اتفق أهل العلم على حرمة وطء الحائض في الفرج، لقوله تعالى: {فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن} . وما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في شأن الاستمتاع بالحيض: اصنعوا كل شيء إلا النكاح ثانيا: النفاس: اتفق الفقهاء على حرمة وطء النفساء في الفرج، وأن حكم دم النفاس في حظر الوطء وفي اقتضاء الغسل بعده ووجوب الكفارة - حكم الحيض اتفاقا واختلافا رابعا: الاعتكاف: اتفق الفقهاء على أن الوطء في الاعتكاف حرام، وأنه مفسد له ليلا كان أو نهارا إذا كان عامدا لقوله تعالى: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد خامسا: الصوم: اتفق الفقهاء على حرمة الوطء عمدا على الصائم في رمضان، وأنه مفسد للصوم، وموجب للكفارة، أنزل أو لم ينزل سادسا: الإحرام: اتفق الفقهاء على حرمة الوطء على المحرم بنسك حج أو عمرة، لقوله تعالى: {فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج} . حيث جاء في تفسير الرفث: أنه ما قيل عند النساء من ذكر الجماع وقول الفحش، وبناء على ذلك تكون الآية دليلا على تحريم الجماع على المحرم بطريق دلالة النص، أي من باب أولى. كما فسر الرفث أيضا بالجماع نفسه، فتكون الآية نصا فيه سابعا: الظهار: لا خلاف بين الفقهاء في حرمة وطء الزوجة المظاهر منها قبل التكفير، وذلك لقوله تعالى: {والذين يظاهرون من نسائهم ثم يعودون لما قالوا فتحرير رقبة من قبل أن يتماسا . الموسوعة الفقهية الكويتية . الجز 44. صفحة  19.

 

Dasar pengambilan(4) oleh @ Al-Ustadz Wes Qie:

( قَوْلُهُ وَيُكْرَهُ إلَخْ ) ظَاهِرُهُ كَرَاهَةُ التَّنْزِيهِ وَبِهِ صَرَّحَ الْمُصَنِّفُ فِي تَعْلِيقِهِ عَلَى التَّنْبِيهِ ا هـ مُغْنِي وَظَاهِرُ التَّعْلِيلِ الْآتِي أَنَّ هَذَا الْحُكْمَ لَا يَخْتَصُّ بِالزَّوْجَاتِ بَلْ يَجْرِي فِي زَوْجَةٍ وَسُرِّيَّةٍ وَفِي سُرِّيَّاتٍ فَلْيُرَاجَعْ ( قَوْلُهُ مَعَ عِلْمِ الْأُخْرَى إلَخْ ) بَلْ يَحْرُمُ إنْ قَصَدَ إيذَاءَ الْأُخْرَى أَوْ لَزِمَ مِنْهُ رُؤْيَةٌ مُحَرَّمَةٌ لِلْعَوْرَةِ م ر ا هـ سم عِبَارَةُ الرَّشِيدِيِّ قَوْلُهُ مَعَ عِلْمِ الْأُخْرَى عِبَارَةُ غَيْرِهِ بِحَضْرَةِ الْأُخْرَى ا هـ وَمِنْ الْغَيْرِ الْمُغْنِي .( قَوْلُهُ وَلَا تَلْزَمُهَا الْإِجَابَةُ وَلَا تَصِيرُ نَاشِزَةً بِالِامْتِنَاعِ ا هـ مُغْنِي . ) تحفة المحتاج في شرح المنهاج . الجز 31. صفحة.  488.

 

Referensi Kitab:

1. Hasyiyah al-Qolyuuby. Juz: 4. Hal. 79

2. Fatchul Mu’in. Juz: 4. Hal. 78

3. Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyah. Juz: 44. Hal. 19

4. Tuchfah Al-Muhtaj Fi Syarch Al-Manhaj. Juz: 31. Hal. 488.

=========

 

MUSYAWWIRIN :

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM).

 

PENELITI :

1) Al-Ustadz Brojol Gemblung

2) Al-Ustadz Wes Qie

3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri

4) Al-Ustadz Ro Fie

5) Al-Ustadz Sunde Pati

6) Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7) Al-Ustadz Abdulloh Salam.

 

PERUMUS: Al_Ustad Ibnu Malik Hafidzahullah. 

Cari Artikel

Statistik

3316172
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
911
3157
11237
3233838
46697
72894
3316172
Your IP: 35.153.73.72
Server Time: 2019-07-18 06:39:54