Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833174
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1340
1646
4439
2763940
19703
68407
2833174
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 19:58:39

Mubas A'zdmy 26 Juli 2015 pukul 19:04 

السلام عليكم : 

اسئلة :  ما حكم الزوجة تخرج الغائط عند الجماع ، هل يجوز طلقها  

Bagaimsna hukumnya seorang istri keluar air besar ( mancok / kotoran ) ketika berhubungam intim ? Bolekah mencerainya 

=========

 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bagaimanakah konsekuensi hukum bagi seorang istri yang mengeluarkan kotoran pada saat melakukan hubungan intim? 

Dalam menanggapi pertanyaan yang telah disampaikan oleh sahabat fillah Mubas A'zdmy tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut: 

Imam Abdurrahman al Jaziri didalam kitabnya (Madzahib al Arba’ah) mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan Syafi’i yang menyatakan bahwa masing-masing pasangan suami dan istri diperbolehkan merusak pernikahan dikarenakan adanya aib diantara keduanya, baik aib tersebut dialami kedua pasangan atau salah satunya walaupun ia mengalami hal (memiliki aib) yang sama, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki, karena terkadang manusia tidak menyukai hal-hal yang disukai orang lain dari dirinya. Ulama’ dari kalangan Syafi’i menyatakan bahwa aib-aib pernikahan tersebut adalah: 

• Penyakit lepra • Penyakit kusta • Gila

Sedang mengeluarkan kotoran pada saat berlangsungnya hubungan intim (al ‘udzaithah) bukan merupakan aib pernikahan. 

Al Jaziri juga mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki yang menyatakan bahwa mengeluarkan kotoran pada saat berlangsungnya hubungan intim (al-'adzyatha), sesungguhnya hal itu merupakan aib yang mana pasangan suami istri berhak untuk dikembalikan jika diderita setelah sebelum berlangsungnya akad, dan apabila hal itu terjadi setelah melaksanakan prosesi akad nikah atau diragukan apakah setelah akad atau tidak, maka tidak ada hak untuk memilih (khiyar) antara melanjutkan membina rumah tangga atau mengembalikannya, namun jika seorang suami merasa jijik dikarenakan istri menderita hal tersebut (al-'adzyatha), maka ia boleh menceraikannya. Sedang bagi seorang istri, maka ia dimungkinkan untuk tidak mengindahkannya. Namun sebagian pendapat (Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki) menyatakan bahwa jika hal tersebut (al-'adzyatha) diderita oleh suaminya setelah melaksanakan akad, maka diperbolehkan baginya untuk merusak pernikahan (fasakh). 

Al Jaziri juga mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Chambali yang menyatakan bahwa aib pernikahan antara pasangan suami istri adalah gila, penyakit lepra, kusta dan tidak bisa menahan kencing dan kotoran (beser) atau dengan redaksi lain “mencret yang berkepanjangan”, terlebih mengeluarkan kotoran pada saat berlangsungnya hubungan intim (al-'adzyatha) sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki, maka sesungguhnya hal itu (al-'adzyatha) adalah lebih buruk, karena “al ‘udzaitha” adalah sebuah redaksi tentang mengeluarkan kotoran pada saat berlangsungnya hubungan intim. Ulama’ dari kalangan madzhab Hambali menegaskan bahwa tidak ada perbedaan apakah keberadaan aib-aib tersebut sebelum atau sesudah melaksanakan akad, sebelum ataupun setelah terjadinya hubungan intim, namun dalam penetapan kebolehan merusak pernikahan (fasakh) yang disebabkan aib tersebut, disyaratkan tidak adanya kerelaan dari pasangan suami dan istri. 

Al Jaziri juga mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa didalam pernikahan tidak ada aib yang memperbolehkan pasangan suami istri untuk merusak pernikahan (fasakh), baik dengan ketentuan syarat ataupun tidak kecuali dalam tiga hal, yaitu: Pertama, suami mengalami impotensi. Kedua, mengalami kegilaan. Ketiga, dikebiri, karena hubungan pernikahan merupakan jalinan yang terhormat, sakral dan suci, sehingga tidak ada ruang untuk menyikapi hubungan yang seperti ini. Dan dalam hal tersebut juga tanpa memandang terjadinya suatu aib, apakah terjadi sebelum atau setelah akad, tetap tidak ada hak fasakh untuk selain tiga hal sebagaimana tersebut diatas, karena sebelum akad terjadi, antara kedua pasangan ada peluang untuk membahas aib dari kedua belah pihak dan memandang atau menilai antar satu sama lain sebelumnya. 

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi juga mengutip pernyataan imam Zahir al-Sarakhsiy. yang menyatakan bahwa bau busuk ketiak dan bau mulut yang tidak dapat diatasi dan disembuhkan, maka keduanya dapat menyebabkan ditetapkannya untuk memilih antara melanjutkan membina rumah tangga atau mengembalikan pasangannya, demikian juga mengeluarkan kotoran pada saat berlangsungnya hubungan intim (al-'adzyatha). 

Berdasar pemaparan tersebut diatas, dapat diketahui bahwa konsekuensi hukum mengeluarkan kotoran pada saat berlangsungnya hubungan intim (al-'adzyatha) adalah hilaf dan diperinci sebagaimana uraian tersebut diatas. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Brojol Gemblung: 

الشافعية - قالوا: لكل من الزوجين طلب فسخ الزواج بوجود عيب من العيوب المشتركة بينهما، التي يصح وجودها فيهما معاً أو في أحدهما ولو كان أحدهما معيباُ بمثل هذه العيوب، كما قال المالكية، لأن الإنسان قد يعاف من غيره ما لا يعاف من نفسه. وهذه العيوب هي الجذام والبرص والجنون، أما العذيطة - وهي التغوط عند الجماع - فليست عيباً عندهم

~~~~~ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ - ﻗﺎﻟﻮﺍ ـــ إلى أن قال) أما العذيطة، فإنها عيب يرد به الزوجان إذا كان قديماً موجوداً في أحدهما قبل العقد، أما إذا حدث بعد العقد أو شك في حدثه بعد العقد، فإنه لا يثبت لأحدهما به الخيار، فإنه وإن كان مرضاً قذراً تنفر منه النفس ولكن شره أهون من غيره، فإن كان الرجل يتقذر به ويعاف المرأة بسببه، فله مفارقتها بالطلاق، أما المرأة فإنها يمكنها الإغضاء عنه، وبعضهم يقول، إن العذيطة إذا حدثت على الرجل بعد العقد كان للمرأة حق الفسخ بها، بخلاف ما إذا حدثت على المرأة فإنها لا تجعل للرجل الحق في الفسخ، كالجذام، لما عرفت من أن الرجل بيده الطلاق دونها. :

~~~~~ 

القسم الثالث: عيوب مشتركة بين الزوجين، وهي الجنون والجذام والبرص وسلس البول واستطلاق الغائط، أو بعبارة أخرى الإسهال الدائم، ومن باب أولى العذيطة التي يقول بها المالكية، فإن شر من هذا. لأنها عبارة عن التغوط عند الجماع، … ـــ إلى أن قال ولا فرق في الفسخ بعيب من العيوب المذكورة جميعاً بين أن تكون موجودة قبل العقد أو حدثت بعده، كما لا فرق فيها بين أن يكون قبل الدخول أو بعده، ولكن يشترط في ثبوت حق الفسخ بها كلها عدم الرضا، فإن رضي أحدهما بالعيب صريح

~~~~~ الحنفية - قالوا: ليس في النكاح عيوب توجب الحق في طلب الفسخ، لا بشرط ولا بغير شرط مطلقاً إلا في ثلاثة أمور: وهي: كون الرجل عنيناً أو مجنوناً أو خصياً أما ما عدا ذلك فلا يترتب عليه فسخ النكاح، ولو اشتد، كالجذام والبرص ونحوهما، سواء حدث قبل العقد أو بعده وسواء اشترط السلام منه. أولا، وقد يقال: إن رأي الحنفية هنا يترتب عليه ضرر شديد بالزوجة. وذلك لا تملك فراق الرجل، فإذا رأت نفسها عرضة للخطر فماذا تصنع؟! نعم لا ضرر على الرجل لأنه إن لم يرض بها يفارقها، أما هي فماذا يكون حالها، ولا حق لها في طلب الفسخ؟! والجواب: أن مذهب الحنفية مبني على أن علاقة الزوجية لها احترام وقدسية لا تقل عن قدسية القرابة، فإذا ارتبط اثنان برابطة الزوجية، وجب على كل منهما أن يحتمل ما ينزل بصاحبه من بلواء، فلا يصح أن ينفصل منه لمصيبة حلت به، بل يجب عليه مواساته بقدر ما يستطع فكما أن الإنسان لا يمكنه أن يقطع لحمة القرابة عندما يصاب أخوه أو قريبه بداء، فكذلك لا يصح له أن يقطع علاقة الزوجية لذلك. ولا فرق في ذلك بين أن يكون الداء أو العيب موجوداً قبل العقد أو وجد بعده، لأن كلا الزوجين مكلف بالبحث عن الآخر قبل العقد، وقد تقدم أن من السنة أن ينظر أحدهما الآخر .الفقه على المذاهب الأربعة 4/ 172, 164,176, 161 

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi: 

فجملة هذه العيوب سبعة، يمكن في حق كل واحد من الزوجين خمسة، وما سواها من العيوب لا خيار فيه على الصحيح الذي قطع به الجمهور. وقال زاهر السرخسي: الصنان والبخر إذا لم يقبلا العلاج يثبتان الخيار، وقال: كذا العذيوط والعذيوطة، يثبت به الخيار. والعذيوط، من يخرج عنه الغائط عند الجماع. وزاد القاضي حسين وغيره فأثبتوا الخيار بالاستحاضة، وبالعيوب التي تجتمع فتنفر تنفير البرص، وتكسر سورة التائق، كالقروح السيالة وما في معناه ويقال: إن الشيخ أبا عاصم حكاه قولا للشافعي رحمة الله عليه. روضة الطالبين وعمدة المفتين (7/ 177) 

 

Referensi:

1. Al Fiqh ‘Ala Madzahib al Arba’ah. IV/172, 176, 164, 161

2. Raudlah al Thalibin. VII/ 188 

========= 

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Brojol Gemblung

2. Al-Ustadz Wes Qie

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS Dan EDITOR: 

I. Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

II. Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi: https://www.facebook.com/…/MTTM1/permalink/1646128008934086/)