Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833260
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1426
1646
4525
2763940
19789
68407
2833260
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 20:38:57

Taufiq Ampon Genna 9 Agustus 2015 pukul 23:22 

assalamualaikum, ustad, bolehkan seorang suami menikahi saudara mertuanya? 

=========

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bolehkan menikahi saudara mertua? 

Dalam menanggapi pertanyaan yang telah disampaikan oleh sahabat fillah Taufiq Ampon Genna tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut: 

Imam Muslim bin al Hajjaj; Abu al Hasan al Qusyairi al Naisaburi didalam kitabnya (Shahih Muslim) menyebutkan sebuah hadits sebagaimana berikut: Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Maslamah al Qa’nabi, telah bercerita kepada kami Malik dari Abu al Zinad dari al A’raj dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Antara seorang perempuan dan bibi (dari bapak) nya tidak boleh dikumpulkan, dan tidak juga antara perempuan dan bibi (dari ibu) nya.” (HR. Muslim) 

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi menyatakan bahwa dalam riwayat lain diungkapkan “Bibi (dari bapak) jangan dinikahi atas anak perempuan saudara laki-laki dan jangan pula dinikahi anak perempuan saudara perempuan atas bibi (dari ibu). Beliau juga menyatakan bahwa hadits ini menjadi dalil bagi madzhab-madzhab Ulama’ secara keseluruhan yang menunjukkan keharaman mengumpulkan antara perempuan (istri) dan bibi (dari bapak) nya juga antara perempuan (istri) dan bibi (dari ibu) nya, baik bibi (dari bapak, ‘amah) atau bibi (dari ibu, khalah) yang sebenarnya, yaitu saudara perempuan bapak dan saudara perempuan ibu, ataupun secara kiasan (majaziyah), yaitu saudara perempuan bapaknya bapak, saudara perempuan bapaknya kakek dan terus ke jalur atas, atau saudara perempuan ibunya ibu, saudara perempuan ibunya nenek dari dua arah, ya’ni jalur ayah dan jalur ibu dan terus ke jalur atas. Semua wanita-wanita tersebut tidak boleh dikumpulkan antara mereka dan perempuan (istri) berdasar konsensus Ulama’.

Imam Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah al Sa’di didalam tafsirnya (Tafsir al Sa’di) mengungkapkan bahwa wanita-wanita yang haram dikumpulkan, maka Allah menyebutkan keharaman mengumpulkan dua bersaudara, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keharaman mengumpulkan antara wanita (istri) dan bibi (dari bapak, ‘amah) juga bibi (dari ibu, khalah), maka antara ia dan wanita-wanita tersebut adalah kerabat yang terlarang. Andai salah satu dari keduanya ditakdirkan manjadi laki-laki sedang yang lain perempuan, maka ia (bibi) diharamkan (menikah) atasnya (laki-laki), maka diharamkan mengumpulkan diantara keduanya, dan yang demikian itu merupakan bagian dari hal-hal yang menyebabkan putusnya hubungan antar kerabat atau kekeluargaan. 

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati juga menjelaskan bahwa pelarangan dan pengharaman tersebut adalah tidak bersifat kekal dan abadi, melainkan dari sisi penghimpunan dalam sebuah perkumpulan (pernikahan), yaitu mengumpulkan dua orang bersaudara, perempuan dan bibi (dari bapak, ‘amah) nya atau bibi (dari ibu, khalah) nya. Hal itu berdasar firman Allah:  "Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. al Nisa’: 23) 

Juga berdasar hadits Nabi yang menyatakan “Tidak boleh menikahi perempuan atas bibi (dari bapak, ‘amah) nya, tidak pula bibi (dari bapak, ‘amah) nya atas anak perempuan saudara laki-lakinya, tidak pula perempuan atas bibi (dari ibu, khalah) nya, dan tidak pula bibi (dari ibu, khalah) atas anak perempuan saudara laki-lakinya, tidak yang lebih tua atas yang lebih muda, tidak pula yang lebih muda atas yang lebih tua.” (HR. Abu Dawud dan yang lain)

Al-Dimyati juga menyatakan bahwa secara implisit hal itu dapat menyebabkan retak dan putusnya hubungan kekeluargaan yang diakibatkan adanya permusuhan diantara keduanya yang bermula dari amarah. Pengharaman ini hanya berlaku didunia, sedang di akhirat hal itu tidak diharamkan dengan hilangnya alasan (illat)

keharamannya, karena di akhirat tidak ada rasa saling membenci, tidak ada rasa iri dan dengki, tidak pula ada dendam dihati. 

Al-Dimyati juga menjelaskan bahwa tidak ada iddah bagi laki-laki kecuali dalam dua kondisi, yaitu:

1. Ketika seorang laki-laki memiliki istri yang kemudian dicerai dengan carai raja’i dan ia menghendaki untuk menikahi perempuan lain yang haram untuk dikumpulkan bersama istrinya (seperti saudara). 2. Ketika seorang laki-laki memiliki 4 istri kemudian mencerai salah satu dari istri-istrinya dengan cerai raja’i dan ia menghendaki untuk menikah dengan perempuan lain. 

 

Maka tidak diperbolehkan baginya (laki-laki) untuk menikah dalam dua kondisi tersebut diatas kecuali setelah selesainya masa iddah. 

KESIMPULAN:

Berdasar pemaparan tersebut diatas, maka hukum menikahi saudara mertua adalah diperinci sebagai berikut: • Jika istri belum dicerai, maka hukum menikahi saudara mertua adalah haram dan status pernikahan adalah tidak sah. • Jika istri telah dicerai dengan cerai (talak) raja’i, maka diperbolehkan menikahi saudara mertua setelah selesainya masa iddah yang dijalani istri. • Jika istri telah dicerai dengan cerai (talak) bain, maka diperbolehkan menikahi saudara mertua sebelum selesainya masa iddah yang dijalani istri. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

(1408)حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا» صحيح مسلم (2/ 1028)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

(بَابُ تَحْرِيمِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا أَوْ خَالَتِهَا فِي النِّكَاحِ)  قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا) وَفِي رِوَايَةٍ لَا تُنْكَحُ الْعَمَّةُ عَلَى بِنْتِ الْأَخِ وَلَا ابْنَةُ الْأُخْتِ عَلَى الْخَالَةِ هَذَا دَلِيلٌ لِمَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ كَافَّةً أَنَّهُ يَحْرُمُ الْجَمْعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَبَيْنَهَا وَبَيْنَ خَالَتِهَا سَوَاءٌ كَانَتْ عَمَّةً وَخَالَةً حَقِيقَةً وَهِيَ أُخْتُ الْأَبِ وَأُخْتُ الْأُمِّ أَوْ مَجَازِيَّةً وَهِيَ أُخْتُ أَبِي الْأَبِ وَأَبِي الْجَدِّ وَإِنْ عَلَا أَوْ أُخْتُ أُمِّ الْأُمِّ وَأُمُّ الْجَدَّةِ مِنْ جِهَتَيِ الْأُمِّ وَالْأَبِ وَإِنْ عَلَتْ فَكُلُّهُنَّ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ يَحْرُمُ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنَ الْخَوَارِجِ وَالشِّيعَةِ يَجُوزُ وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَأُحِلُّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ واحتج الجمهور بهذه الأحاديث خصوا بِهَا الْآيَةَ وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورِ الْأُصُولِيِّينَ جواز تخصيص عموم القرآن بخبر الواحد لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَيِّنٌ لِلنَّاسِ مَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ . شرح النووي على مسلم (9/ 190)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وأما المحرمات بالجمع فقد ذكر الله الجمع بين الأختين وحرمه وحرم النبي صلى الله عليه وسلم الجمع بين المرأة وعمتها أو خالتها، فكل امرأتين بينهما رحم محرم لو قدر إحداهما ذكرًا والأخرى أنثى حرمت عليه فإنه يحرم الجمع بينهما، وذلك لما في ذلك من أسباب التقاطع بين الأرحام. تفسير السعدي = تيسير الكريم الرحمن (ص: 174)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori: 

وهذا شروع فيما حرمته، لا على التأبيد، بل من جهة الجمع في العصبة، وهو جمع بين الاختين والمرأة وعمتها أو خالتها ولو بواسطة، وذلك لقوله تعالى: * (وأن تجمعوا بين الاختين) * (3) وقوله (ص): لا تنكح المرأة على عمتها، ولا العمة على بنت أخيها، ولا المرأة على خالتها، ولا الخالة على بنت أختها، لا الكبرى على الصغرى، ولا الصغرى على الكبرى رواه أبو داود وغيره. والمعنى في ذلك ما فيه من قطيعة الرحم بسبب ما يحصل بينهما من المخاصمة المؤدية إلى البغضاء غالبا، وهذا في الدنيا. وأما في الآخرة فلا حرمة فيه لانتفاء علة التحريم، إذ لا تباغض فيها ولا حقد ولا غ . حاشية إعانة الطالبين - (ج 3 / ص 341)

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

(1) ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبِهَذَا نَأْخُذُ وهو قَوْلُ من لَقِيت من الْمُفْتِينَ لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ فِيمَا عَلِمْته وَلَا يُرْوَى من وَجْهٍ يُثْبِتُهُ أَهْلُ الحديث عن النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم إلَّا عن أبي هُرَيْرَةَ وقد رُوِيَ من وَجْهٍ لَا يُثْبِتُهُ أَهْلُ الحديث من وَجْهٍ آخَرَ وفي هذا حُجَّةٌ على من رَدَّ الحديث وَعَلَى من أَخَذَ بِالْحَدِيثِ مَرَّةً وَتَرَكَهُ أُخْرَى إلَّا أَنَّ الْعَامَّةَ إنَّمَا تَبِعَتْ في تَحْرِيمِ أَنْ يَجْمَعَ بين الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَخَالَتِهَا قَوْلَ الْفُقَهَاءِ ولم نَعْلَمْ فَقِيهًا سُئِلَ لِمَ حَرُمَ الْجَمْعُ بين الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَخَالَتِهَا . الأم - (ج 5 / ص 5)

 

Dasar pengambilan (6) oleh al-Ustadz Ibnu Malik: 

وخرج بها الرجل فلا عدة عليه قالوا إلا في حالتين الاولى ما إذا كان معه امرأة وطلقها رجعيا وأراد التزوج بمن لا يجوز جمعها معها كأختها الثانية ما إذا كان معه أربع زوجات وطلق واحدة منهن رجعيا وأراد التزوج بخامسة فلا يجوز له ذلك في الحالتين المذكورتين إلا بعد انقضاء العدة وفي كون العدة واجبة على الرجل فيهما نظر، بل غاية ما فيه أنه يتربص بلا تزوج حتى تنقضي العدة الواجبة على المرأة . حاشية إعانة الطالبين - (ج 4 / ص 45) 

 

Referensi:

1. Shahih Muslim. II/ 1028

2. Syarh al Nawawi ‘Ala Muslim. IX/ 190

3. Tafsir al Sa’di. 174

4. Hasyiyah I’anah al Thalibin. III/ 341

5. Al Um. V/ 5 6. Hasyiyah I’anah al Thalibin. IV/ 45

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS Dan EDITOR: 

I. Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

II. Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1650256385187915/?hc_location=ufi)