Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833308
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1474
1646
4573
2763940
19837
68407
2833308
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 21:19:21

Shakila Adibah Az Zahra @ 2 Oktober 2015 pukul 20:18

 

Assalamualaykum  . Ada ga pahalanya jika wanita rela di poligami?

 

~~~~~~~~~

 

JAWABAN:

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

 

Bagaimana pahala wanita yang rela dipoligami?

 

Imam Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al Likhami al Syami; Abu al Qasim al Thabrani

di dalam kitabnya (al Mu’jam al Kabir Lit Thabrani) menampilkan sebuah hadits yang menyatakan: Telah bercerita kepada kami Zakariyya bin Yahya al Saji, telah bercerita kepada kami Musa bin Abdurrahman al Masruqi, telah bercerita kepada kami Ubaid bin al Shabah, telah bercerita kepada kami Kamil: Abu al ‘Ala’, dari al Hakam, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdillah, beliau berkata: “Kami dulu pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang wanita dalam keadaan telanjang bulat. Demikian itu membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam susah dan memejamkan mata. Seorang lelaki dari kaum itu berdiri cepat untuk meletakkan kain guna menutupi dan memeluk wanita tersebut. Sebagian sahabat Nabi berkata: ‘Ya Rasulallah, saya yakin dia pasti istrinya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘saya yakin wanita itu (dilanda) cemburu. Sungguh Allah azza wa jalla mewajibkan (memastikan) cemburu atas kaum wanita dan mewajibkan berjihad atas kaum pria. Barang siapa dari para wanita (ketika dilanda cemburu) bersabar dengan beriman dan mengharapkan pahala, maka mendapatkan semisal pahala para shuhada’.”

 

Dalam mengomentari hadits tersebut, Imam Zainuddin; Muhammad yang dipanggil dengan sebutan Abdurra’uf bin Tajul ‘Arifin bin Ali bin Zainal Abidin al Haddadi al Munawi di dalam kitabnya (Faidlu al Qadir Syarh al Jami’u al Shaghir) menjelaskan bahwa Allah telah memastikan “cemburu” kaum wanita kepada suami mereka, dan dari pengahasutannya, mereka bersabar atas peperangan diri mereka ketika meluapnya kemarahan, sebagaimana kesabaran kaum pria atas peperangan melawan musuh. Jika salah satu dari mereka tidak memerangi diri dan syetan (yang mempengaruhi) mereka, maka hilanglah kesempurnaan keimanannya dan syetan telah menaklukkannya dengan amarah dan melakukan tindak penganiayaan terhadap suaminya, maka hal itu membahayakan. Dan kerapkali wanita menjadi gila atau melakukan hal yang membahayakan terhadap dirinya, maka seorang wanita berkata kepada sayyidina Umar “Aku telah melakukan perzinahan, maka hukumlah aku.” Suaminya berkata “Tidak, ia tidak melakukannya, ia hanya dibakar dan dikendalikan rasa cemburu.” Sabda Nabi “Allah mewajibkan berjihad atas kaum pria” merupakan analogi atas kesabaran wanita, namun Rasulullah juga berasabda “ bersabar dengan beriman dan mengharapkan pahala, maka baginya semisal pahala orang-orang yang mati syahid.”

 

Imam Badruddin al Hanafi di dalam kitabnya (‘Umdah al Qadir Syarh Shahih al Bukhari) mengutip pernyataan para Ulama’ yang menyatakan bahwa hadits tersebut mengindikasikan tidak berpengaruhnya gejolak cemburu yang muncul, karena dalam kondisi semacam itu, akal wanita tertutupi oleh amarah yang memuncak yang dipengaruhi oleh kecemburuan. Abu Ya’la juga menyebutkan sebuah hadits marfu’ dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha yang menyatakan bahwa sesungguhnya “Gejolak cemburu mampu membutakan dari kedalaman jurang.” Dan dari Ibnu Mas’ud “Sesungguhnya Allah telah memastikan gejolak cemburu atas kaum wanita. Barang siapa bersabar, maka bagi mereka pahala orang-orang yang mati syahid.” (HR. al Bazzar dengan sanad terpercaya)

 

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa wanita yang rela dipoligami karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka bagi mereka semisal pahala orang-orang yang mati syahid, karena ia telah bersabar atas ketentuan Allah dan tidak menyebabkan ia menjadi gila dan buta sehingga melakukan hal-hal yang diharamkan. Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

 

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، ثنا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَسْرُوقِيُّ، ثنا عُبَيْدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، ثنا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسًا إِذْ أَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ عُرْيَانَةٌ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَغَمَضَ عَيْنَيْهِ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَأَلْقَى عَلَيْهَا ثَوْبًا وَضَمَّهَا إِلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَظُنُّهَا امْرَأَتَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحْسَبُهَا غَيْرَى؟ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ الْغَيْرَةَ عَلَى النِّسَاءِ، وَالْجِهَادَ عَلَى الرِّجَالِ، فَمَنْ صَبَرَ مِنْهُنَّ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا كَانَ لَهَا مِثْلُ أَجْرِ الشُّهَدَاءِ» المعجم الكبير للطبراني (10/ 87)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

 

(إن الله كتب الغيرة) بفتح الغين أي الحمية والأنفة (على النساء) أي حكم بوجود الغيرة فيهن على رجالهن ومن ضرائرهن فليصبرن على جهاد أنفسهن عند ثورانها كما يصبر الرجال على جهاد الأعداء فإن لم تجاهد إحداهن نفسها وشيطانها ذهب كمال دينها وظفر بها شيطانها بتسخطها وظلمها زوجها فضرتها وربما جنت أو أهلكت نفسها فقد قالت امرأة لعمر زنيت فخذني فقال زوجها: ما فعلت بل حملتها الغيرة (والجهاد على الرجال فمن صبر) القياس [ص:250] صبرت لكن ذكره رعاية للفظ من (منهن إيمانا واحتسابا) أي لوجه الله تعالى وطلبا للثواب (كان لها مثل أجر الشهيد) أي إنسان قتل في معركة الكفار بسبب القتال . فيض القدير (2/ 249)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

 

قالوا وفي الحديث إشارة إلى عدم مؤاخذة الغيرة بما يصدر منها لأنها في تلك الحالة يكون عقلها محجوبا بشدة الغضب الذي أثارته الغيرة وقد أخرج أبو يعلى بسند لا بأس به عن عائشة رضي الله تعالى عنها مرفوعا أن الغيرة لا تبصر أسفل الوادي من أعلاه وعن ابن مسعود رفعه إن الله كتب الغيرة على النساء فمن صبر منهن كان له أجر شهيد رواه البزار برجال ثقات . عمدة القاري شرح صحيح البخاري (30/ 10، بترقيم الشاملة آليا(

 

Referensi:
1. Al Mu’jam al Kabir Lit Thabrani. X/ 87
2. Faidlu al Qadir Syarh al Jami’u al Shaghir. II/ 249
3. ‘Umdah al Qadir Syarh Shahih al Bukhari. XXX/ 10

 

=========

 

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
3. Al-Ustadz Abdul Malik
4. Al-Ustadz Ro Fie
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

EDITOR: Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1666323330247887/)