Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2781813
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
72
1629
4795
2712337
36749
45614
2781813
Your IP: 54.156.39.245
Server Time: 2018-10-17 00:36:23

Nadia Nadia@ 5 Juni 2016 pukul 22:41

Assalamualaikum wr wb

Poro alim dan para sesepuh mttm yg ϑί rahmati alloh.

1. Saya mau bertanya bolehkah sesorang mengqodlo' puasa ramadhan atas dasar berhati hati karna hawatir puasa ramadhan yg telah lewat ada yang tidak sah atau tertinggal ? 2. Waktu saya buang air besar dwaktu berpuasa kotoran yg sudah keluar masuk lagi, apakah itu bisa membatalkan puasa saya ? Atas jawabannya saya haturkan terimakasih.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum mengqadla’ puasa Ramadlan atas dasar khawatir puasa yang telah dilaksanakan ada yang tidak sah?” Di dalam sebuah literatur Fiqh (Ahkamu al-Fuqaha’) di jelaskan bahwa barang siapa optimis atau berpraduga tidak ada keharusan mengqadla’ (puasa) Ramadlan, maka haram baginya melaksanakan puasa dengan niat qadla’, karena sarat dengan unsur senda gurau. Dan barang siapa ragu (akan keharusan mengqadla’), maka boleh baginya niat qadla’ jika memang hal itu wajib baginya. Jika tidak, maka puasa sunah.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra) juga menjelaskan bahwa jika seseorang ragu bahwa dirinya berkewajiban untuk mengqadla’, lalu ia berniat qadla’ jika memang ada, dan jika tidak, maka berniat sunah, maka niat semacam itu sah, dan berhasil baginya qadla’ dengan perkiraan adanya atau bahkan jelas keharusannya. Jika tidak, maka yang dihasilkan adalah sunah.

Dengan demikian, hukum mengqadla’ puasa Ramadlan atas dasar khawatir puasa yang telah dilaksanakan ada yang tidak sah adalah haram karena sarat dengan unsur bermain-main di dalam ibadah. “Apakah kotoran yang telah keluar lalu masuk lagi dapat membatalkan puasa?” Syaikh Ibrahim al-Bajuri di dalam kitabnya (al-Bajuri) menyatakan “Dan demikian juga (membatalkan puasa) jika perempuan memasukkan jemarinya ke dalam farjinya ketika buang air besar sebagaimana yang telah dilakukan oleh wanita jahiliyah. Demikian juga jika keluar sebagian endapan (kotoran) yang keras kemudian masuk kembali karena ditahan secara alami, maka membahayakan (membatalkan)”.

Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al-Mustarsyidin) mengungkapkan bahwa Imam Muhammad Shalih berfatwa sesungguhnya jika seseorang buang air besar, lalu keluar sesuatu hingga batas luar, kemudian kembali tanpa ada usaha, karena semisal keringnya (kotoran) yang keluar dan tidak mampu untuk memotongnya (dengan anus), maka tidak membatalkan. Dari pemarapan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum puasa seseorang yang mengeluarkan kotoran lalu masuk lagi adalah hilaf sebagaimana berikut: • Sebagian ilmuan menyatakan batal. • Sebagian yang lain menyatakan tidak batal. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

فمن تيقن او ظن عدم وجوب قضاء رمضان عليه فيحرم عليه نية القضاء للتلا عب ومن شك فله نية القضاء ان كان عليه والا فالتطوع. احكام الفقهاء – 2 – ص 29

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

أَنَّهُ لو شَكَّ أَنَّ عليه قَضَاءً مَثَلًا فَنَوَاهُ إنْ كان وَإِلَّا فَتَطَوُّعٌ صَحَّتْ نِيَّتُهُ أَيْضًا وَحَصَلَ له الْقَضَاءُ بِتَقْدِيرِ وُجُودِهِ بَلْ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ عليه وَإِلَّا حَصَلَ له التَّطَوُّعُ. الفتاوى الفقهية الكبرى - (ج 2 / ص 90(

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

وكذاك لو ادخلت المراة اصبعهما فى فرجها عند الاستنجاء كما يفعله بعض النساء الجهلة ومثل ذلك ما لو خرج بعض الفضلة الغليظة ثم عاد لاستمساك الطبعية فيضر فلينتبه له . الباجوري على ابن قاسم – 1 – ص 291

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

وأفتى محمد صالح بأنه لو تغوّط فخرج شيء إلى حد الظاهر ثم عاد من غير اختيار لنحو يبوسة الخارج ولم يمكنه قطعه لم يفطر قياساً على ما ذكر.. بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 230)

Daftar Pustaka:

1. Ahkamu al-Fuqaha’. II/ 29

2. Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra. II/ 90

3. Al-Bajuri. I. 291

4. Bughyah al-Mustarsyidin. II/ 230

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik SP. d I