Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2149134
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1695
4358
7884
2071840
54796
70912
2149134
Your IP: 54.234.0.2
Server Time: 2018-01-23 17:41:28

Nova Harii Poerwanto@ 4 Juni 2016 pukul 16:54

Assalamualaikum wr wb. Mau tanya, bolehkah di bulan ramadhan suami istri berhubungan? Mohon di jawab, karna saya habis keguguran dan mau ikut program. Sebaiknya hindari brsetubuh di bulan ramadhan atau bagaimana? Terima kasih.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bolehkah melakukan hubungan intim di bulan Ramadlan?”

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati di dalam kitabnya (I’anah al Thalibin) menjelaskan bahwa puasa secara terminologi adalah mencegah dari hal-hal yang membatalkan, seperti memasukkan sebuah materi ke dalam perut dan melakukan hubungan intim. Arti dari “imsak” adalah meninggalkan dan mencegah dari hal tersebut.

Imam Muhammad Khatib al-Syarbini di dalam kitabnya (al-Iqna’ Li al-Syarbini) juga menjelaskan bahwa barang siapa melakukan hubungan intim dengan memasukkan seluruh pucuk dzakar atau perkiraannya dari orang yang terpotong (pucuk dzakarnya) secara sengaja ke dalam farji walaupun anus, dari kalangan manusia atau yang lain pada siang hari bulan Ramadlan sedang ia mukallaf dan berpuasa, maka ia berdosa dan wajib mengganti (puasa) serta membayar denda atas pelanggaran larangan (kafarat) (dan seterusnya). Kafarat yang disebutkan ada beberapa grade (tingkatan), yang pertama adalah memerdekakan budak mukmin yang tidak memiliki cacat yang dapat membahayakan tugas dan perkerjaan sebagaimana yang insya Allah akan kami ulas di dalam bab “dzihar”. Jika tidak menemukan, maka ia wajib melaksanakan puasa selama dua bulan berturut-turut. Dan jika tidak mampu, maka harus memberi makan 60 orang miskin (dan seterusnya). Jika semua tingkatan tidak mampu dilaksanakan, maka kafarat tetap menjadi tanggungannya.

Imam ‘Alauddin; Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Amr yang populer dengan sebutan Imam al-Khazin di dalam kitabnya (Tafsir al-Khazin) juga menjelaskan tentang tentang firman Allah “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu” (QS: al-Baqarah: 187), beliau menyatakan bahwa sebab turunnya ayat ini pada permulaan diperintahkannya berpuasa, ketika seseorang telah berbuka, maka halal baginya makanan, minuman, dan berhubungan intim hingga ia hendak melaksanakan shalat isya’ pada ahir waktu.

Dengan demikian, jika yang dimaksud oleh penanya adalah melakukan hubungan intim pada malam hari dibulan Ramadlan, maka hal itu tidak dilarang. Dan jika yang dimaksud adalah melakukan hubungan intim pada siang hari, sedang ia berpuasa, maka ia berdosa dan wajib mengganti serta membayar kafarat. Namun jika ia tidak sedang berpuasa, maka ia hanya wajib mengganti. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

( قوله وشرعا ) مقابل قوله لغة قوله إمساك عن مفطر ) أي جنسه كوصول العين جوفه والجماع ومعنى الإمساك عنه تركه والكف عنه. إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 215)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

( ومن وطىء ) بتغييب جميع الحشفة أو قدرها من مقطوعها ( عامدا ) مختارا عالما بالتحريم ( في الفرج ) ولو دبرا من آدمي أو غيره ( في نهار رمضان ) ولو قبل تمام الغروب وهو مكلف صائم آثم بالوطء بسبب الصوم ( فعليه ) وعلى الموطوءة المكلفة ( القضاء ) لإفساد صومهما بالجماع ( و ) عليه وحده ( الكفارة ) ..................الى ان قال) وهي ) أي الكفارة المذكورة مرتبة فيجب أولا ( عتق رقبة مؤمنة ) سليمة من العيوب المضرة بالعمل والكسب كما سيأتي إن شاء الله تعالى في الظهار ( فإن لم يجدها فصيام شهرين متتابعين فإن لم يستطع ) صومهما ( فإطعام ستين مسكينا )….. الى ان قال فلو عجز عن جميع الخصال المذكورة استقرت الكفارة في ذمته . الإقناع للشربيني - (ج 1 / ص 240)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلى نِسائِكُمْ سبب نزول هذه الآية أنه كان في ابتداء الأمر بالصوم إذا أفطر الرجل حل له الطعام والشراب والجماع إلى أن يصلي العشاء الأخيرة. تفسير الخازن لباب التأويل في معاني التنزيل (1/ 116)

Daftar Pustaka:

1. I’anah al Thalibin. II/ 215

2. Al-Iqna’ Li al-Syarbini. I/ 240

3. Tafsir al-Khazin. I/ 116

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I