Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2380247
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2167
7386
16728
2293792
65706
80405
2380247
Your IP: 54.224.99.70
Server Time: 2018-04-26 15:28:56

Imam Qulyubi @ 4 Juli pukul 12:43 Assalamu alaikum. Dikripsi : , ada seorang berpuasa 3 hari dalam bulan romadhon setelah hari ke 4 ia tidak puasa karna sakit hingga hari ke 10, dan pada hari ke 11 ia meninggal dunia. pertanyaannya adalah : apakah di wajibkan qodho' atau fidyah bagi ahli warisnya atas kejadian seperti di atas? Terimakasih

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Apakah ahli waris harus mengqadla’ atau membayar fidyah atas puasa yang ditinggalkan salah satu keluarga?”

Imam Muhammad bin ‘Amr bin Ali bin Nawawi al-Jawi; Abu Abdul Mu’thi di dalam kitabnya (Nihayah al-Zain) menjelaskan bahwa orang mati dengan meninggalkan puasa Ramadhan, Nadar atau puasa Kafarot, sedangkan ia belum sempat menggantinya, seperti sakit yang ia derita terus berkepanjangan dan sedikit harapan untuk sembuh, atau ia terus melakukan perjalanan yang diperbolehkan (mubah, perjalanan yang tidak untuk maksiat) sampai ia mati, maka ia tidak perlu mengganti puasa yang ditinggalkannya, baik dengan puasa atau dengan membayar fidyah (makanan pokok), sebab ia tidak lalai. Tapi jika ia sengaja tidak berpuasa (tanpa sebab yang dibenarkan), kemudian ia meninggal dunia, baik sebelum sempat atau telah punya waktu untuk mengganti puasanya, atau ia tidak berpuasa karena alasan yang dibenarkan, kemudian meninggal setelah ia memiliki kesempatan untuk mengqadla’ puasanya, (dalam kedua masalah ini) wali atau keluarga si mayit harus memberikan satu mud makanan pokok daerah tersebut untuk setiap satu hari yang diambilkan dari harta peninggalan (tirkah) si mayit (dan diberikan kepada para fakir miskin). Apabila orang yang meninggal tersebut tidak memiliki harta, maka wali tidak wajib berpuasa atau membayar fidyah yang diambil dari hartanya sendiri, tapi (hal itu) disunnahkan bagi si wali, sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barang siapa yang mati sedangkan ia punya tanggungan puasa, maka walinya boleh berpuasa untuknya”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa ahli waris tidak harus mengqadla’ atau membayar fidyah atas puasa yang ditinggalkan salah satu keluarga yang meninggal karena sakit, karena ia tidak dalam kategori lalai dalam meniggalkan kewajiban. Wallahu a’alam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Farid Muzakki:

ومن مات وعليه صيام رمضان أو نذر أو كفارة قبل إمكان فعله بأن استمر مرضه الذي لا يرجى برؤه أو سفره المباح إلى موته فلا تدارك للفائت بالفدية ولا بالقضاء ولا إثم عليه لعدم تقصيره فإن تعدى بالإفطار ثم مات قبل التمكن وبعده أو أفطر بعذر ومات بعد التمكن أطعم عنه وليه من تركته لكل يوم فاته مد طعام من غالب قوت البلد فإن لم يكن له تركة لم يلزم الولي إطعام ولا صوم بل يسن له ذلك لخبر من مات وعليه صيام صام عنه وليه . نهاية الزين - (ج 1 / ص 192)

Daftar Pustaka:

1. Nihayah al-Zain. I/ 192

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik