Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833176
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1342
1646
4441
2763940
19705
68407
2833176
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 19:58:46

Abede Rasyid 30 Juni 2015 pukul 2:12

Assalamu'alaikum.... Bolehkah seorang musafir (yg sdh membatalkan puasanya) melakukan jima' dg istrinya di siang hari... 

========= 

 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bolehkah bagi musafir yang telah membatalkan puasa melakukan hubungan intim? 

Dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Abede Rasyid tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut: 

Imam Abdurrahman al Juzairi didalam kitab karyanya (al Fiqh ‘ala al Madzahib al Arba’ah) mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa hal yang mewajibkan seseorang mengganti puasa sekaligus membayar denda karena sebuah pelanggaran (kafarat) adalah dibatasi dalam satu hal. Yaitu melakukan hubungan intim dengan ketentuan beberapa syarat. Yaitu: 

I. Melaksanakan niat puasa dimalam hari. Jika seseorang tidak melaksanakan niat dimalam hari, maka puasa yang dilaksanakan tidak sah namun ia wajib menahan diri dari makan dan minum. Dan jika ia menyetubuhi istrinya dalam kondisi ini (puasa batal) pada siang hari, maka ia tidak wajib membayar denda (kafarat) karena pada hakekatnya ia tidak dikatakan sebagai orang yang sedang berpuasa. 

II. Sengaja melakukan hubungan intim. Jika ia menyetubuhi istrinya dalam kondisi lupa, maka puasanya tidak batal dan tidak wajib mengganti serta tidak wajib membayar denda (kafarat).

III. Tidak dipaksa. Jika orang yang sedang berpuasa dipaksa untuk melakukan hubungan intim, maka puasanya tidak batal. 

IV. Mengetahui keharamannya (hubungan intim) dan tidak ada alasan yang diterima oleh syara’ didalam kebodohannya. Maka jika seseorang melaksanakan puasa, sedang ia hidup sebelum era Islam atau hidup disebuah tempat yang jauh dari Ulama’, kemudian ia melakukan hubungan intim dalam kondisi berpuasa, maka puasanya tidak batal. 

V. Terjadinya hubungan intim pada saat menunaikan puasa Ramadlan (ada’). Maka jika ia melakukan hubungan intim pada saat melaksanakan puasa sunah atau puasa nadzar atau puasa qadla’ atau puasa kafarat, maka ia tidak wajib mambayar denda (kafarat). 

VI. Menjadikan hubungan intim (jima’) sebagai satu-satunya penyebab dalam pembatalan puasa. Jika ia makan atau mengkonsumsi sesuatu bersamaan dengan melakukan hubungan intim, maka ia tidak harus membayar denda (kafarat) dan ia hanya berkewajiban untuk mengganti (qadla’). 

VII. Pelaku berdosa dengan melakukan hubungan intim karena ia telah mukallaf dan berakal. Jika ia masih anak-anak dan ia melakukan hubungan intim dalam kondisi sedang bepuasa, maka ia tidak wajib membayar denda (kafarat). Demikian juga jika pelaku adalah orang yang sedang dalam perjalanan kemudian ia berniat melaksanakan puasa dan masuk pagi dalam keadaan berpuasa kemudian pada pertengahan hari ia membatalkan puasa dengan melakukan hubungan intim, maka ia tidak wajib membayar denda (kafarat). Karena ia telah mendapatkan dispensasi sebagai seorang musafir.

 

VIII. Orang yang berpuasa meyakini keafsahan puasa yang dilaksanakan. Jika ia makan dikarenakan lupa dan ia menduga bahwa puasa yang dilaksanakan telah batal kemudian dengan sengaja ia melakukan hubugan intim, maka ia tidak wajib membayar denda (kafarat). 

IX. Tidak mengalami kegilaan setelah melakukan hubungan intim. Jika mengalami kegilaan setelah melakukan hubungan intim, maka tidak wajib membayar denda (kafarat). 

X. Hendaknya ia (orang yang berpuasa) tidak mengajukan diri untuk melakukan perbuatan ini. Lantas bila ia asumsikan dalam keadaan tidur dan (lalu) istrinya menaikinya, lalu ia mendatanginya (menggaulinya). Dalam keadaan seperti ini, maka tidak ada keharusan membayar denda (kafarat) atasnya, terkecuali jika dia membujuknya untuk melakukan hal tersebut. 

XI. Tidak salah menduga. Jika orang yang sedang berpuasa Ramadlan melakukan hubungan intim karena ia menduga masih malam atau telah maghrib, dan ternyata ia melakukan hubungan intim disiang hari, maka ia tidak wajib membayar denda (kafarat) walaupun wajib mengganti dan wajib menahan diri dari makan dan minum.

XII. Hubungan intim dilakukan dengan cara memasukkan penis kedalam vagina atau dubur walaupun tidak mengeluarkan sperma. Jika melakukan hubungan intim dengan selain keduanya (vagina atau dubur), maka tidak wajib membayar denda (kafarat). 

XIII. Orang yang berpuasa adalah subjek (pelaku, orang yang menjima’) bukan objek (orang yang dijima’). Jika orang yang berpuasa menjima’ istrinya atau yang lain (hewan), maka yang berkewajiban membayar denda (kafarat) adalah orang yang menjima’ (fa’il) bukan orang yang dijima’ (maf’ul). 

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibnu Syaraf al-Nawawi juga menyatakan bahwa: “Ucapan kami "sebab puasa" adalah pengecualian dari orang yang sedang melakukan sebuah perjalanan yang memulai perjalanannya dengan berpuasa kemudian ia membatalkan puasa (sebagai dispensasi) dengan berzina, maka ia tidak wajib membayar kafarat. Karena walaupun ia membatalkan puasa dihari bulan Ramadlan dengan melakukan hubungan intim, maka ia berdosa karenanya (zina). Namun ia tidak berdosa karena puasa. Karena pada saat itu, ia (musafir) boleh membatalkan puasa.” 

Al ‘allamah; Abu al Chasan al Mawardi juga menegaskan bahwa jika seseorang melakukan sebuah perjalanan yang mencapai jarak tempuh diperbolehkan meringkas shalat (qashar), maka diperbolehkan baginya berbuka puasa baik dengan mengkonsumsi makanan atau dengan melakukan hubungan intim dan ia tidak wajib membayar denda karena sebuah pelanggaran (kafarat). Karena keduanya (makan dan berhubungan intim) adalah sama. Sedang berbuka puasa dalam kondisi itu diperbolehkan. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung: 

الشافعية قالوا : ما يوجب القضاء والكفارة ينحصر في شيء واحد وهو الجماع بشروط . الأول : أن يكون ناويا للصوم فلو ترك النية ليلا لم يصح صومه ولكن يجب عليه الإمساك فإذا أتى امرأته في هذه الحالة نهارا لم تجب عليه الكفارة لأنه ليس بصائم حقيقة الثاني : أن يكون عامدا فلو أتاها ناسيا لم يبطل صومه وليس عليه قضاء ولا كفارة الثالث : أن يكون مختارا فلو أكره على الوقاع لم يبطل صومه الرابع : أن يكون عالما بالتحريم وليس له عذر مقبول شرعا في جهله فلو صام وهو قريب العهد بالإسلام أو نشأ بعيدا عن العلماء وجامع في هذه الحالة لم يبطل صومه أيضا والخامس : أن يقع منه الجماع في صيام رمضان أداء بخصوصه ولو فعل ذلك في صوم النفل أو النذر أو في صوم القضاء أو الكفارة فإن اكفارة لا تجب عليه ولو كان عامدا السادس : أن يكون الجماع مستقلا وحده في إفساد الصوم فلو أكل في حال تلبسه بالفعل فإنه لا كفارة عليه وعليه القضاء فقط السابع : أن يكون آثما بهذا الجماع بأن كان مكلفا عاقلا أما إذا كان صبيا وفعل ذلك وهو صائم فإنه لا كفارة عليه ومن ذلك ما لو كان مسافرا ثم نوى الصيام وأصبح صائما : ثم أفطر في أثناء اليوم بالجماع : فإنه لا كفارة عليه بسبب رخصة السفر الثامن : أن يكون معتقدا صحة صومه : فلو أكل ناسيا فظن أن هذا مفطر ثم جامع بعد ذلك عمدا . فلا كفارة عليه . وإن بطل صومه ووجب عليه القضاء التاسع : أن لا يصيبه جنون بعد الجماع وقبل الغربو . فإذا أصابه ذلك الجنون فإنه لا كفارة عليه . العاشر : أن لا يقدم على هذا الفعل بنفسه . فلو فرض وكان نائما وعلته امرأته . فأتاها وهو على هذه الحالة . فإنه لا كفارة عليه . إلا أن أغراها على عمل ذلك الحادي عشر : أن لا يكون مخطئا . فلو جامع ظانا بقاء الليل أو دخول المغرب . ثم تبين أنه جامع نهارا . فلا كفارة عليه وإن وجب عليه القضاء والإمساك الثاني عشر : أن يكون الجماع بإدخال الحشفة أو قدرها من مقطوعها ونحوه فلو لم يدخلها أو أدخل بعضها فقط لم يبطل صومه . وإذا أنزل في هذه الحالة فعليه القضاء فقط . ولكن يجب عليه الإمساك فإن لم يسمك بقية اليوم فقد أثم الثالث عشر : أن يكون الجماع في فرج دبرا كان أو قبلا ولو لم ينزل فلو وطئ في غير ما ذكر فلا كفارة عليه الرابع عشر : أن يكون فاعلا لا مفعولا فلو أتى أنثى أو غيرها فالكفارة على الفاعل دون المفعول مطلقا . هذا وإذا طلع الفجر وهو يأتي زوجه فإن نزع حالا صح صومه وإن استمر ولو قليلا بعد ذلك فعليه القضاء والكفارة إن علم بالفجر وقت طلوعه أما إن لم يعلم فعليه القضاء دون الكفارة الفقه على المذاهب الأربعة . الجزء 1. صفحة 903.

 

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik: 

وقولنا بسبب الصوم احتراز من المسافر إذا شرع في الصوم ثم أفطر بالزنا مترخصا فلا كفارة عليه لانه وان افسد صوم يوم من رمضان بجماع تام اثم به إلا انه لم يأثم به بسبب الصوم لان الافطار جائز له وانما أثم بالزنا المجموع شرح المهذب . الجزء 6. صفحة 343.

 

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi: 

فَإِذَا سَافَرَ قَدْرَ الْمَسَافَةِ الْمَذْكُورَةِ جَازَ لَهُمَا الْفِطْرُ إِنْ شَاءَ بِالْأَكْلِ أَوْ بِالْجِمَاعِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّ الْفِطْرَ الْمُبَاحَ يَسْتَوِي فِيهِ حَالُ الْأَكْلِ وَالْجِمَاعِ ، وَالْفِطْرُ فِي السَّفَرِ مُبَاحٌ الحاوى الكبير ـ الماوردى . الجزء 3. صفحة 966.

 

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

( وَكَذَا ) مَنْ أَثِمَ بِهِ لَكِنْ لَا مِنْ جِهَةِ الصَّوْمِ كَأَنْ جَامَعَ نَحْوُ الْمُسَافِرِ ( بِغَيْرِهَا ) أَيْ : مَعَ عَدَمِ نِيَّةِ التَّرَخُّصِ ( فِي الْأَصَحِّ ) ؛ لِأَنَّهُ وَإِنْ أَثِمَ بِعَدَمِ نِيَّةِ التَّرَخُّصِ لَكِنَّ الْإِفْطَارَ مُبَاحٌ لَهُ فَصَارَ شُبْهَةً فِي دَرْءِ الْكَفَّارَةِ . تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 14. صفحة 37.

 

 

Referensi:

1. Al Fiqh ‘Ala al Madzahib al Arba’ah. I/ 903

2. Al Majmu’ Syarch al Muhaddzab. VI/ 343

3. Al Chawi al Kabir. III/ 966

4. Tuchfah al Muchtaj. XIV/ 37 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Brojol Gemblung

2. Al-Ustadz Wes Qie

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS Dan EDITOR: 

I. Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

II. Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1638454183034802/)