Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833190
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1356
1646
4455
2763940
19719
68407
2833190
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 19:59:17

Rizal F Fendi @ 27 November 2015 

Assalamualaukum wr wb. Langsung saja sebelum mengajukan pertanyaan saya ingin mengucapkan salam kenal untuk semua member MTTM. Dan juga kepada para sesepuh semua salam ta'dhim dari saya Rizal F Fendi. Untuk pertanyaan yang saya ingin tanyakan Bagaimana caranya mengganti imam yang batal sholatnya ketika sujud....,, ,.,,? Wassalam....

------- 

Pecinta Aswaja 10 November 2015 pukul 16:50

Assalamu alaikum Dalam 1Jama,ah Shalat Jahriyah Tiba TibaSaat Raka,at Yang Kedua Tepat PadaPertengahan Bacaan Alfatihah Imamnya Batal. Tanpa Ragu Ragu MakmumYang Posisinya Pas Dibelakang Imam Maju Dan Menggantikan Imam Yang Batal Tadi.pertanyaannya 1-Haruskah Imam YangKedua Berniat Imaman.? 2-Apakah Imam Yang Kedua Harus Memulai Surat Fatihah Dari Awal Atau Meneruskan Bacaan Imam Yang Pertama? 3-Bolehkah Semua Makmum Bermufaroqoh Saat Mereka Mengetahui Imam Yang Pertama Sudah Batal Shalatnya.? T.erima Kasih. 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

“Bagaimanakah tata cara mengganti posisi Imam yang batal ketika sujud?” 

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i, diperbolehkan bagi Imam menempatkan seseorang sebagai pengganti ketika shalatnya batal, atau sengaja membatalkannya , baik shalat jum’at atau shalat yang lain, disebabkan hadats atau yang lain dengan syarat pergantian tersebut sebelum ma’mum melaksanakan sebuah rukun, dan orang yang mengganti layak menjadi Imam, dan ia telah mengikuti Imam sebelum Imam berhadats walaupun ia masih kecil atau melaksanakan shalat sunah. 

Di dalam literatur yang sama juga dijelaskan tentang tata cara (simulasi) pergantian posisi Imam. Penulis kitab “al Dur al Muhtar” (dari kalangan Hanafi) berkata “Imam memegang/menarik pakaian seorang laki-laki agar menuju tempat Imam, atau memberikan isyarat kepadanya, dan ia melakukannya dengan membungkukkan punggung sembari memegang hidung yang mengindikasikan bahwa ia (batal) secara tiba-tiba, dan ia memberikan isyarat dengan satu jari untuk 1 raka’at yang tersisa, dan dengan dua jari untuk 2 raka’at yang tersisa, dan meletakkan tangan di atas lutut karena meninggalkan ruku’, dan di atas dahi karena meninggalkan sujud, dan di atas mulut karena meninggalkan baca’an, dan di atas dahi dan lisan untuk sujud tilawah, dan dada untuk sujud sahwi”. Simulasi semacam ini tidak dituturkan oleh selain madzhab Hanafi, hanya saja Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki menyebutkan bahwa disunahkan bagi Imam katika keluar (dari posisi sebagai Imam) untuk memegang hidung demi menutupi atas dirinya. Dan ketika sebab-sebab pergantian terjadi di dalam ruku’ atau sujud, maka ia menjadikan (seseorang) sebagai penggantinya, sebagaimana pergantian di dalam posisi berdiri dan yang lain. Pengganti bangkit bersama mereka (ma’mum) dari sujud dengan membaca takbir. Sedang Imam mengangkat kepala tanpa takbir agar ma’mun tidak mengikutinya. Dan tidak batal shalat ma’mum jika mereka mengangkat kepala sebab Imam mengangkat (kepala), sebagian pendapat menyatakan batal. Simulasi yang sama juga diuraikan oleh Prof. DR. Wahbah al Zuhaili di dalam kitabnya (al Fiqh al Islam Wa Adillatuhu). Beliau juga menambahkan bahwa ada 2 syarat yang ditetapkan untuk keafsahan pergantian di dalam shalat jum’at, yaitu:

1. Pengganti Imam harus orang yang berma’mum sebelum berhadats. Maka pergantian tidak sah oleh orang yang tidak berma’mum sebelumnya. Dan tidak disyaratkan pengganti harus hadir pada saat pembacaan khutbah, bahkan tidak harus (menjumpai) raka’at yang pertama menurut pendapat yang lebih autentik (ashah). 2. Pergantian dilakukan oleh ma’mum terdekat, sekira tidak memakan waktu yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan salah satu rukun shalat yang pendek.

al Zuhaili juga menambahkan, jika pengganti menjumpai raka’at pertama shalat jum’at beserta Imam, maka shalat jum’at telah sempurna secara mutlak baginya juga ma’mum yang lain, namun jika ia tidak menjumpainya, maka shalat jum’at hanya sempurna bagi ma’mun, tidak baginya. Dan tidak wajib bagi ma’mum dalam shalat jum’at juga (shalat) yang lain untuk memulai niat menjadi ma’mum (kembali) menurut pendapat yang lebih autentik. Sedang diselain shalat jum’at tidak disyaratkan suatu apapun untuk keafsahan pergantian, bahkan boleh dilakukan oleh selain ma’mum, juga boleh setelah tenggang waktu yang lama, hanya saja ma’mum butuh pada niat menjadi ma’mum dengan hati jika pengganti bukan orang yang menjadi ma’mum sebelum pergantian, dan shalatnya berbeda dengan shalat Imam, seperti ia berada dalam semisal raka’at pertama, sedang Imam diraka’at kedua, sebagaimana kebutuhan ma’mum terhadap niat jika terpaut waktu yang lama, seperti waktu yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan sebuah rukun atau lebih. Hal senada juga dipaparkan oleh Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati di dalam kitabnya (I’anah al Thalibin). 

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa cara mengganti Imam yang batal pada saat sujud adalah sama dengan tata cara pergantian dalam posisi yang lain, yaitu: Imam bangkit dari sujud tanpa membaca takbir agar tidak diikuti ma’mum, lalu Imam menarik salah seorang ma’mum agar menggantikannya atau dengan memberikan isyarat, kemudian ma’mum (pengganti) maju dan menempati posisi gerakan yang ditinggalkan Imam.

 “Pada saat pengganti Imam maju, apakah harus berniat menjadi Imam?” 

Imam Sulaiman bin Muhammad bin Amr al Bujairami al Mishri al Syafi’i di dalam kitabnya (Hasyiyah al Bujairami ‘Ala al Khatib) menyatakan bahwa perkataan pengarang “tidak dengan Imam” mengisyaratkan bahwa sesungguhnya niat menjadi Imam tidak disyaratkan diselain shalat jum’at, namun hal itu dianjurkan agar ia memperoleh keistimewaan berjama’ah. Jika ia tidak berniat (menjadi Imam), maka ia tidak mendapatkannya, karena tidak ada sesuatu bagi seseorang kecuali yang ia niatkan. Dan niatnya sah (dilakukan) pada saat takbiratul ihram walaupun ia belum menjadi Imam seketika itu, karena ia akan menjadi Imam sesuai dengan pendapat Imam al Juwaini, dan hal ini berbeda dengan pendapat Imam al ‘Imrani yang menyatakan ketidak afsahannya. Dan ketika ia berniat dipertengahan shalat, maka seketika itu pula ia mendapatkan keistimawaan berjama’ah, dan hal ini tidak membengkokkan niat sebelumnya. Ini berbeda dengan permasalahan jika seseorang berniat melaksanakan puasa sunah sebelum tergelincirnya matahari, maka hal itu telah membengkokkan niat sebelumnya, karena waktu siang tidak dapat terbagi menjadi (sebagian) berpuasa dan (sebagian yang lain) tidak, sedang shalat dapat terbagi manjadi (sebagian) berjama’ah dan (sebagian yang lain) tidak. 

Maka dapat diketahui bahwa pengganti Imam tidah harus berniat menjadi Imam, karena hal itu bukan merupakan syarat sah berjama'ah, kendati dalam hal ini makmum juga tidak perlu memperbaharui niat menjadi ma’mum, kecuali pengganti bukan orang yang bermakmum pada Imam pertama sebelum terjadi pergantian, atau shalatnya tidak sama dengan shalat Imam pertama dan (atau) jarak pemisah antara pergantian berselang lama.

 

“Apakah Imam kedua harus memulai dari surat al Fatihah atau melanjutkan bacaan Imam pertama?” 

Prof. DR. Wahbah al Zuhaili di dalam kitabnya (al Fiqh al Islam Wa Adillatuhu) menjelaskan bahwa seorang pengganti dituntut untuk menjaga runtutan shalat Imam, wajib dalam hal yang wajib, dan sunah dalam hal yang sunah. Ma’mum masbuq dituntut untuk menjaga runtuntan shalat Imam, jika ia telah melaksanakan shalat satu raka’at, maka ia duduk tasyahud, dan ia harus memberikan isyarat kepada ma’mum agar berpisah atau menunggu. Dan jika tidak ada seorangpun yang mengganti dalam selain shalat jum’at, maka ma’mum harus niat berpisah, lalu menyempurnakan shalat mereka masing-masing. Sedang shalat jum’at, diperbolehkan bagi mereka niat berpisah jika menjumpai raka’at pertama secara berjama’ah, dan menyempurnakan masing-masing raka’at kedua jika jumlah yang tersisa mencapai 40 orang hingga ahir shalat. 

Imam Ahmad bin Lu’lu’ bin Abdillah al Rumi; Abu al Abbas; Syihabuddin bin Naqib al Syafi’i di dalam kitabnya (‘Umdah al Salik Wa ‘Iddah al Nasik) juga menjelaskan bahwa ketika Imam memutuskan shalatnya sebab hadats atau yang lain, maka diperbolehkan baginya menjadikan seseorang sebagai pengganti untuk menyempurnakan shalatnya dengan syarat ia layak menjadi Imam shalat ini. Jika mereka telah melakukan sebuah rukun sebelum pergantian, maka dilarang melakukannya. Jika pengganti adalah ma’mum, maka diperbolehkan menjadikannya sebagai pengganti secara mutlak, dan ma’mum masbuq harus menjaga runtutan (shalat) Imam (dan seterusnya). Jika ia bukan ma’mum (sebelumnya), maka pergantian diperbolehkan dalam raka’at pertama dan ketiga dari shalat yang berjumlah 4 raka’at, namun tidak dalam raka’at kedua dan keempat. Dan tidak wajib niat berma’mum dengan pengganti tersebut, bahkan diperbolehkan bagi meraka untuk menyempurnakan shalat sendiri-sendiri. 

Dari uraian tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Imam pengganti hendaknya melanjutkan pekerjaan atau bacaan Imam pertama yang terhenti sebab hadats.

“Bolehkah ma’mum niat berpisah (mufaraqah) pada saat mengetahui Imam batal?” 

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Majmu’ Syarh al Muhaddzab) menyatakan bahwa jika seseorang melaksanakan shalat di belakang orang yang berhadats sebab junub atau kencing dan lain sebagainya, sedang ia mengetahuinya, maka ia berdosa dan shalatnya batal berdasar hasil konsensus Ulama’ (ijma’). Jika ia tidak mengetahuinya, jika diselain shalat jum’at, maka shalatnya sah. Dan jika ia mengetahuinya dipertengahan shalat, maka ia harus memisahkan diri dan menyempurnakan shalat sendiri dengan membangun (melanjutkan) atas shalat yang ia laksanakan bersama Imam. Dan jika ia tetap mengikuti Imam dalam waktu yang relatif singkat atau tidak berniat memisahkan diri, maka shalatnya batal berdasar kesepakatan Ulama’, karena ia telah melaksanakan sebagian shalatnya dibelakang orang yang berhadats serta mengetahuinya. 

Dengan demikian, pada saat ma’mum mengetahui bahwa shalat Imam batal, maka diperbolehkan untuk memisahkan diri, bahkan hal itu adalah wajib jika tidak segera terjadi sebuah pergantian posisi sebagaimana uraian tersebut di atas. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadzah Ainun Mahya: 

وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ : لِلإِْمَامِ أَنْ يَسْتَخْلِفَ إِذَا بَطَلَتْ صَلاَتُهُ ، أَوْ أَبْطَلَهَا عَمْدًا ، جُمُعَةً كَانَتْ أَوْ غَيْرَهَا ، بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ ، بِشُرُوطٍ هِيَ : أَنْ يَكُونَ الاِسْتِخْلاَفُ قَبْل أَنْ يَأْتِيَ الْمَأْمُومُونَ بِرُكْنٍ ، وَأَنْ يَكُونَ الْمُسْتَخْلَفُ صَالِحًا لِلإِْمَامَةِ ، وَأَنْ يَكُونَ مُقْتَدِيًا بِالإِْمَامِ قَبْل حَدَثِهِ ، وَلَوْ صَبِيًّا أَوْ مُتَنَفِّلاً .الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 3 / ص 255)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Malik: 

كَيْفِيَّةُ الاِسْتِخْلاَفِ: قَال صَاحِبُ الدُّرِّ الْمُخْتَارِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ: يَأْخُذُ الإِْمَامُ بِثَوْبِ رَجُلٍ إِلَى الْمِحْرَابِ، أَوْ يُشِيرُ إِلَيْهِ، وَيَفْعَلُهُ مُحْدَوْدِبَ الظَّهْرِ، آخِذًا بِأَنْفِهِ، يُوهِمُ أَنَّهُ رَعَفَ، وَيُشِيرُ بِأُصْبُعٍ لِبَقَاءِ رَكْعَةٍ، وَبِأُصْبُعَيْنِ لِبَقَاءِ رَكْعَتَيْنِ، وَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رُكْبَتِهِ لِتَرْكِ رُكُوعٍ، وَعَلَى جَبْهَتِهِ لِتَرْكِ سُجُودٍ، وَعَلَى فَمِهِ لِتَرْكِ قِرَاءَةٍ، وَعَلَى جَبْهَتِهِ وَلِسَانِهِ لِسُجُودِ تِلاَوَةٍ، وَصَدْرِهِ لِسُجُودِ سَهْوٍ. وَلَمْ يَذْكُرْ هَذَا غَيْرُ الْحَنَفِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ ذَكَرُوا أَنَّهُ يُنْدَبُ لِلإِْمَامِ إِذَا خَرَجَ أَنْ يُمْسِكَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ سَتْرًا عَلَى نَفْسِهِ (3) . وَإِذَا حَصَل لِلإِْمَامِ سَبَبُ الاِسْتِخْلاَفِ فِي رُكُوعٍ أَوْ سُجُودٍ فَإِنَّهُ يَسْتَخْلِفُ، كَمَا يَسْتَخْلِفُ فِي الْقِيَامِ وَغَيْرِهِ، وَيَرْفَعُ بِهِمْ مِنَ السُّجُودِ الْخَلِيفَةُ بِالتَّكْبِيرِ، وَيَرْفَعُ الإِْمَامُ رَأْسَهُ بِلاَ تَكْبِيرٍ؛ لِئَلاَّ يَقْتَدُوا بِهِ، وَلاَ تَبْطُل صَلاَةُ الْمَأْمُومِينَ إِنْ رَفَعُوا رُءُوسَهُمْ بِرَفْعِهِ، وَقِيل تَبْطُل صَلاَتُهُمْ . الموسوعة الفقهية الكويتية (3/ 253(

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وطريقته: أن يأخذ الإمام بثوب المقتدي ولو مسبوقاً، ويجره إلى المحراب، لكن استخلاف المدرك أولى. ويتأخر الإمام محدود باً واضعاً يده على أنفه، موهماً أنه قد رعف قهراً. ويتم الاستخلاف بالإشارة لا بالكلام، ويشير بأصبعه لعدد الركعات الباقية. ويضع يده على ركبته لترك ركوع، وعلى جبهته لترك سجود، وعلى فمه لقراءة. الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (2/ 1269)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

ويشترط لصحة الاستخلاف في الجمعة شرطان: أحدهما ـ أن يستخلف الإمام للجمعة مقتدياً به قبل حدثه، فلا يصح استخلاف من لم يكن مقتدياً بالإمام. ولا يشترط كون المقتدي حضر الخطبة لا الركعة الأولى في الأصح فيهما. والثاني ـ أن يستخلف عن قرب، بألا يمضي زمن قبل الاستخلاف يسع ركناً قصيراً من أركان الصلاة. فإن كان الخليفة قد أدرك الركعة الأولى من الجمعة مع الإمام، تمت الجمعة مطلقاً للخليفة والمأمومين. وإن لم يدرك الركعة الأولى تمت الجمعة للمقتدين دونه في الأصح فيهما. ولا يلزم المقتدين في الجمعة وغيرها استئناف نية القدوة في الأصح. أما في غير الجمعة فلا يشترط شيء لصحة الاستخلاف، بل يجوز أن يستخلف غير مقتد، وأن يستخلف بعد طول الفصل، لكن يحتاج المقتدون لنية الاقتداء بالقلب إن كان الخليفة غير مقتد قبل الاستخلاف، وكانت صلاته مخالفة لصلاة الإمام، كأن كان في الركعة الأولى مثلاً، والإمام في الثانية. كما يحتاجون لنية القدوة إذا طال الفصل بأن مضى زمن يسع ركناً فأكثر. الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (2/ 1275)

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Rezzha Ar Diansyah: 

والثاني: وهو ما إذا وقع الاستخلاف في غير الجمعة، يجوز مطلقا، سواء كان الخليفة مقتديا بالإمام قبل أن تبطل صلاته أم لا، لكنهم يحتاجون لنية الاقتداء به في الثانية إن خالف الإمام في ترتيب صلاته، بأن استخلف في الثانية أو في الأخيرة، فإن لم يخالفه في ذلك، بأن استخلف في الأولى أو في ثالثة الرباعية، فلا يحتاجون لنية الاقتداء، أما في الأولى، وهي ما إذا كان مقتديا به قبل أن تبطل صلاته، فلا يحتاجون لنية الاقتداء مطلقا، لأنه تلزمه مراعاة نظم صلاة الإمام باقتدائه به. ثم إن كان عالما بنظم صلاة الإمام فذاك، وإلا فيراقب من خلفه. إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (2/ 112)

 

Dasar pengambilan (6) oleh al-Ustadz Zafi AL Dimass: 

(فإذا) خرج الإمام من الجمعة، أو غيرها) من الصلوات (بحدث) سهوا، أو عمدا (أو غيره) كتعاطي مبطل  أو رعاف (جاز) له وللمأمومين قبل إتيانهم بركن (الاستخلاف في الأظهر) ؛ لأن الصلاة بإمامين بالتعاقب جائزة كما أن أبا بكر كان إماما فدخل النبي - صلى الله عليه وسلم - فاقتدى به أبو بكر والناس، وقد استخلف عمر حين طعن رواه البيهقي، وإذا جاز هذا فيمن لم تبطل صلاته ففي من بطلت بالأولى لضرورته إلى الخروج منها واحتياجهم إلى إمام، واستخلافهم أولى من استخلافه لأن الحظ في ذلك لهم، ولو تقدم واحد بنفسه جاز ومقدمهم أولى منه إلا أن يكون راتبا، فظاهر أنه أولى من مقدمهم ومن مقدم الإمام، ولو قدم الإمام واحدا وتقدم آخر كان مقدم الإمام أولى . نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (2/ 347)

 

Dasar pengambilan (7) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وَقَوْلُهُ (دُونَ الْإِمَامِ) أَشَارَ بِهِ إلَى أَنَّ نِيَّةَ الْإِمَامِ الْإِمَامَةَ لَا تُشْتَرَطُ فِي غَيْرِ الْجُمُعَةِ بَلْ تُسْتَحَبُّ لِيَحُوزَ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ لَمْ تَحْصُلْ لَهُ إذْ لَيْسَ لِلْمَرْءِ مِنْ عَمَلِهِ إلَّا مَا نَوَى، وَتَصِحُّ نِيَّتُهُ لَهَا مَعَ تَحَرُّمِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ إمَامًا فِي الْحَالِ لِأَنَّهُ سَيَصِيرُ إمَامًا وِفَاقًا لِلْجُوَيْنِيِّ وَخِلَافًا لِلْعِمْرَانِيِّ فِي عَدَمِ الصِّحَّةِ حِينَئِذٍ، وَإِذَا نَوَى فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ حَازَ الْفَضِيلَةَ مِنْ حِينِ النِّيَّةِ، وَلَا تَنْعَطِفُ نِيَّتُهُ عَلَى مَا قَبْلَهَا بِخِلَافِ مَا لَوْ نَوَى الصَّوْمَ فِي النَّفْلِ قَبْلَ الزَّوَالِ فَإِنَّهَا تَنْعَطِفُ عَلَى مَا قَبْلَهَا لِأَنَّ النَّهَارَ لَا يَتَبَعَّضُ صَوْمًا وَغَيْرَهُ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَتَبَعَّضُ جَمَاعَةً وَغَيْرَهَا .حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (2/ 132)

 

Dasar pengambilan (8) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وعلى الخليفة أن يراعي نظم صلاة الإمام وجوباً في الواجب وندباً في المندوب. وعلى المسبوق أيضاً أن يراعي نظم صلاة الإمام، فإذا صلى ركعة تشهد، وأشار إليهم ليفارقوه أو ينتظروا. وإذا لم يستخلف أحد في غير الجمعة نوى المقتدون المفارقة، وأتموا صلاتهم فرادى، وصحت. أما الجمعة فلهم نية المفارقة إذا أدركوا الركعة الأولى جماعة، وأتموا فرادى في الثانية إذا بقي العدد أربعين إلى آخر الصلاة. الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (2/ 1276)

 

Dasar pengambilan (9) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan: 

[الاستخلاف]: ومتى قطعَ الإمامُ صلاتَهُ بحدَثٍ أوْ غيرهِ فلهُ استخلافُ من يتمُّهَا، بشرطِ صلاحيتهِ لإمامةِ هذهِ الصلاةِ، فإنْ فعلوا ركناً قبلَ الاستخلافِ امتنعَ الاستخلافُ، فإنْ كانَ الخليفةُ مأموماً جازَ استخلافُهُ مطلقاً، ويراعي المسبوقُ نظمَ الإمامِ..................الى ان قال وإنْ كان الخليفةُ غيرَ مأمومٍ جازَ في الأولى وفي الثالثةِ مِنَ الرباعيةِ، لا في الثانيةِ والرابعةِ، ولا تجبُ نيةُ الاقتداء بالخليفةِ، بلْ لهمْ أنْ يُتمُّوا فرادى، ولوْ قدَّمَ الإمامُ واحداً والقومُ آخرَ فمقدمُهُمْ أولى. عمدة السالك وعدة الناسك (ص: 70(

 

Dasar pengambilan (10) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

فَإِنْ صَلَّى خَلْفَ الْمُحْدِثِ بِجَنَابَةٍ أَوْ بَوْلٍ وَغَيْرِهِ وَالْمَأْمُومُ عَالِمٌ بِحَدَثِ الْإِمَامِ أَثِمَ بِذَلِكَ وَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا بِحَدَثِ الْإِمَامِ فَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ الْجُمُعَةِ انْعَقَدَتْ صَلَاتُهُ فَإِنْ عَلِمَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ حَدَثَ الْإِمَامِ لَزِمَهُ مفارقته وأتم صلاته منفردا بانيا على ما صَلَّى مَعَهُ فَإِنْ اسْتَمَرَّ عَلَى الْمُتَابَعَةِ لَحْظَةً أَوْ لَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ بِالِاتِّفَاقِ لِأَنَّهُ صَلَّى بَعْضَ صَلَاتِهِ خَلْفَ مُحْدِثٍ مَعَ عِلْمِهِ بِحَدَثِهِ . المجموع شرح المهذب (4/ 256) 

 

Daftar Pustaka:

1. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. III/ 255

2. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. III/ 253

3. Al Fiqh al Islam Wa Adillatuhu. II/ 1269

4. Al Fiqh al Islam Wa Adillatuhu. II/ 1275

5. I’anah al Thalibin. II/ 112

6. Nihayah al Muhtaj Ila Syarh al Minhaj. II/ 347

7. Hasyiyah al Bujairami ‘Ala al Khatib. II/ 132

8. Al Fiqh al Islam Wa Adillatuhu. II/ 1276

9. ‘Umdah al Salik Wa ‘Iddah al Nasik. 70

10. Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. IV/ 256

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Chaniago

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik Hfidzahullah

 

EDITOR:

Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi I:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1679647685582118/)