Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833270
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1436
1646
4535
2763940
19799
68407
2833270
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 20:47:53

Eisya @ 3 Februari 2016 pukul 7:01 

Assalamualekum:

1-saat bepergian,lebih utama manakah antara menjamak takhir dan takdim?

2-apa benar bahwa shalat jamak takhir boleh saja di kerjakan setelah sampai kembali di rumah? Syukron 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Pada saat bepergian, lebih utama jama’ takhir atau jama’ taqdim?” 

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi al-Bantani di dalam kitabnya (Tausyikh ‘Ala Ibnu Qasim) menjelaskan bahwa jika yang tersisa adalah waktu shalat yang pertama, bukan shalat yang kedua, sedang ia menghendaki untuk menjama’ shalat, dan tidak memperhatikan kontroversi Imam Abu Hanifah, maka menjama’ takhir adalah lebih utama. Jika tidak demikian, maka jama’ taqdim lebih utama karena mengikuti Nabi dan karena lebih fleksibel. Dan jika yang tersisa adalah waktu keduanya (shalat pertama dan kedua), jama’ taqdim adalah lebih utama, karena terdapat unsur bersegera untuk terbebas dari tanggungan, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar, Imam al Khatib, dan Imam al Mahalli. Dengan demikian dapat diketahui bahwa antara menjama’ shalat dengan jama’ taqdim atau jama’ takhir pada saat bepergian (dengan ketentuannya) adalah bersifat kondisional sebagaimana pemaparan tersebut di atas. 

“Apakah benar jama’ takhir boleh dilakukan setelah sampai di Rumah?” 

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa ketika orang yang bepergian memasuki desa dimana ia tinggal, maka hilanglah hukum yang berkaitan dengan musafir, dan kewajibannya berubah dengan format orang yang mukim, baik ia masuk ke desanya untuk tinggal, atau sekedar lewat, atau memenuhi kebutuhan, atau diterpa angin, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi untuk berperang, kemudian kembali ke Madinah dan beliau tidak mengupdate niat untuk tinggal, karena tempat tinggal adalah untuk tempat kediaman, maka tidak perlu ditentukan dengan niat. Dan memasuki desa dimana ia tinggal yang menghabiskan hukum sebagai musafir adalah kembalinya ke tempat dimana ia (diperbolehkan) memulai meringkas shalat, maka ketika ia telah dekat dengan desanya, lalu melaksanakan shalat, maka ia masih berstatus sebagai musafir (dengan segala dispensasinya) sebelum memasukinya. Diceritakan bahwa sesungguhnya sayyidina Ali radliyallahu ‘anhu ketika sampai (dekat) di Kufah dari Bashrah, beliau melaksanakan shalat selayaknya shalat seorang musafir, sedang beliau telah melihat rumah-rumah di Kufah. Juga diceritakan bahwa sesungguhnya Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu pernah berkata terhadap seorang musafir “Shalatlah dua raka’at selagi engkau belum memasuki (desa) tempat tinggalmu”, dan ketika telah memasuki desanya, maka harus menyempurnakan shalat. Dengan demikian tidak dibenarkan jika seseorang mengumpulkan dua shalat dengan jama’ taqdim ataupun jama’ takhir setelah sampai di Rumah. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

فإن كان سائرا وقت الأولى دون الثانية وأراد الجمع وعدم مراعاة خلاف أبي حنيفة فجمع التأخير أفضل، وإلا فجمع التقديم أفضل للإتباع، ولأن ذلك أرفق. وإن كان سائرا أو نازلا وقتهما فالتقديم أولى، لأن فيه المسارعة لبراءة الذمة كما قاله ابن حجر والخطيب والمحلي. إهـ توشيح على ابن قاسم ص 78 دار الفكر

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

إِذَا دَخَل الْمُسَافِرُ وَطَنَهُ زَال حُكْمُ السَّفَرِ ، وَتَغَيَّرَ فَرْضُهُ بِصَيْرُورَتِهِ مُقِيمًا ، وَسَوَاءٌ دَخَل وَطَنَهُ لِلإِْقَامَةِ ، أَوْ لِلاِجْتِيَازِ ، أَوْ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ ، أَوْ أَلْجَأَتْهُ الرِّيحُ إِلَى دُخُولِهِ ؛ لأَِنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ مُسَافِرًا إِلَى الْغَزَوَاتِ ، ثُمَّ يَعُودُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَلاَ يُجَدِّدُ نِيَّةَ الإِْقَامَةِ ؛ لأَِنَّ وَطَنَهُ مُتَعَيِّنٌ لِلإِْقَامَةِ فَلاَ حَاجَةَ إِلَى التَّعْيِينِ بِالنِّيَّةِ

. وَدُخُول الْوَطَنِ الَّذِي يَنْتَهِي بِهِ حُكْمُ السَّفَرِ هُوَ أَنْ يَعُودَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ الْقَصْرَ ، فَإِذَا قَرُبَ مِنْ بَلَدِهِ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَهُوَ مُسَافِرٌ مَا لَمْ يَدْخُل ، وَقَدْ رُوِيَ : أَنَّ عَلِيًّا - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - حِينَ قَدِمَ الْكُوفَةَ مِنَ الْبَصْرَةِ صَلَّى صَلاَةَ السَّفَرِ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى أَبْيَاتِ الْكُوفَةِ . وَرُوِيَ - أَيْضًا - أَنَّ ابْنَ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَال لِمُسَافِرٍ : صَل رَكْعَتَيْنِ مَا لَمْ تَدْخُل مَنْزِلَكَ . وَإِذَا دَخَل وَطَنَهُ فِي الْوَقْتِ وَجَبَ الإِْتْمَامُ . الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 27 / ص 286)

 

Daftar Pustaka:

1. Tausyikh ‘Ala Ibnu Qasim. 78

2. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. XXVII/ 286

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Ibnu Malik SP.d I