Mae Muna @ 8 Maret 2016 pukul 17:40 

اسلم علسكم--- Kenapa klu sholat eid di jaherkan ..klo sholat kusufus syamsi kok sunnah di samarkan ...smuax itu kan sama2 sholat di waktu siyang... 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

“Kenapa bacaan shalat gerhana Matahari dilirihkan, sedang shalat ‘Ied dikeraskan padahal keduanya adalah shalat diwaktu siang?” 

Imam Ali bin Muhammad; Abu al Hasan; Nuruddin di dalam kitabnya (Mirqat al Mafatih Syarh Misykat al Mashabih) menyebutkan sebuah hadits dari Sayyidah ‘Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan dalam shalat khusuf. Diungkapkan bahwa “khusuf” adalah gerhana rembulan, karena waktu pelaksanaannya pada malam hari. Hal ini dikemukakan oleh Imam Ibnu Malak yang bergegas ketika diumumkan tentang adanya gerhana rembulan, bahkan beliau memastikan atas hal tersebut (membaca keras), karena mengacu pada sebuah hadits yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terdengar suaranya dalam pelaksanaan shalat gerhana matahari, namun hal tersebut ditentang oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban yang menyatakan bahwa beliau mengeraskan bacaan dalam pelaksanaan shalat gerhana matahari. Ibnu al ‘Arabi memberikan statement bahwa mungkin hal tersbut mengindikasikan kebolehannya. Abu al Hasan menyatakan “Saya sangsi dengan keafsahan hadits ini yang menunjukkan atas ketetapan beberapa tuntutan, yang benar adalah jika keduanya saling bertolak belakang, maka mengeraskan bacaan adalah dalam pelaksanaan shalat gerhana rembulan (khusuf), karena dilaksanakan pada malam hari, dan melirihkannya dalam pelaksanaan shalat gerhana matahari (kusuf), karena dilaksanakan pada siang hari”. 

Masih tentang bacaan dalam shalat gerhana, di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa bacaan dalam shalat gerhana rembulan dikeraskan, karena dilaksanakan pada malam hari dan mengacu pada hadits sayyidah ‘Aisyah yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan dalam shalat gerhana rembulan, dan tidak mengeraskannya dalam shalat gerhana matahari karena mengacu pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang menyatakan “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat kusuf, dan kami tidak mendengar suara beliau”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah, ilmuan dari kalangan madzhan Malik, dan madzhab Syafi’i. Imam Ahmad dan Imam Abu Yusuf menyatakan bahwa bacaan dikeraskan dalam pelaksanaan shalat kusuf, dan itu diriwayatkan dari Imam Malik. 

Dalam kesempatan yang lain, Imam Abu al Hasan juga menyebutkan sebuah hadits dari Ja’far bin Muhammad dengan kualitas hadits mursal yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat Abu Bakar, juga Umar melaksanakan takbir dalam dua hari raya dan istisqa’ tujuh dan lima, dan melaksanakan shalat sebelum khutbah dengan mengeraskan bacaan. (HR. al Syafi’i). Abu al Hasan menjelaskan bahwa mereka semua mengeraskan bacaan dalam pelaksanaan keduanya (shalat ‘ied dan istisqa’), ini merupakan sebuah kesepakan bahkan sebuah konsensus (ijma’) para ilmuan terkemuka. Ibnu Qadamah menyatakan “Saya tidak pernah mengetahui adanya pro dan kontra dalam kesunahan mengeraskan bacaan shalat dua hari raya, hanya saja diriwayatkan dari sahabat Ali radliyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa ketika beliau membaca dalam dua shalat hari raya, orang-orang yang disekitarnya mendengar namun tidak keras. Imam Ibnu Mundzir menyatakan bahwa mayoritas ilmuan menyakini mengeraskan bacaan. Dan di dalam hadits-haditsnya orang yang menceritakan tentang bacaan Nabi menunjukkan bahwa beliau mengeraskan bacaan, dan karena shalat ‘ied adalah shalat hari raya yang menyerupai shalat jum’at. 

Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abi al Abbas; Ahmad bin Hamzah; Syahabuddin al Ramli di dalam kitabnya (Nihayah al Muhtaj Ila Syarh al Minhaj) mengungkapkan tetang hikmah mengeraskan bacaan pada waktunya (malam), karena malam adalah waktu yang sunyi yang baik untuk tidak tidur serta mengobrol, maka pada saat itu dianjurkan untuk mengeraskan bacaan untuk menampakkan kelezatan munajatnya seorang hamba kepada tuhannya, dan spesial untuk dua shalat yang pertama (maghrib dan isya’), karena kesigapan orang yang melaksanakannya. Sedang siang adalah waktu untuk beraktifitas dan berinteraksi dengan orang lain, maka dituntut untuk melirihkan bacaan, sedang waktu subuh dikategorikan sebagai shalat malam, karena pada umumnya bukan waktu beraktifitas sebagaimana hari jum’at. 

Pemaparan tersebut di atas, menginsyaratkan beberapa alasan tentang “Kenapa bacaan shalat gerhana Matahari dilirihkan, sedang dalam shalat ‘Ied dikeraskan padahal keduanya adalah shalat diwaktu siang?” sebagai berikut:

I. Mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. II. Mengeraskan bacaan dalam shalat ‘Ied adalah sebuah konsensus Ulama’ (ijma’), sedang dalam shalat gerhana matahari terjadi pro dan kontra. III. Shalat ‘Ied adalah shalat hari raya sebagaimana shalat jum’at yang notabene bukan waktu untuk beraktifitas dan berinteraksi dengan sesama manusia dan hal ini berbeda dengan waktu shalat gerhana matahari (kusuf). Wallahu a’alam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وعنها أي عن عائشة قالت جهر النبي في صلاة الخسوف بقراءته قيل المراد خسوف القمر لأنه يكون بالليل فيجهر بالقراءة فيها ذكره ابن الملك وهو المتبادر عند اطلاق الخسوف بل يتعين حمله عليه لما سيأتي أنه صلى في كسوف لا تسمع له صوتا واعترض برواية ابن حبان أنه جهر في كسوف الشمس وأجاب ابن العربي بأنه يحتمل لبيان الجواز قلت يتوقف صحة هذا الحديث على ثبوت تعدد القضية فالصواب في الجواب أنهما إذا تعارضا يرجح الجهر في خسوف القمر لأنها ليلية ويسر في كسوف الشمس لأنها نهارية متفق عليه . مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - (ج 5 / ص 191)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

الْجَهْرُ بِالْقِرَاءَةِ وَالإِْسْرَارُ بِهَا : يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ فِي خُسُوفِ الْقَمَرِ ؛ لأَِنَّهَا صَلاَةٌ لَيْلِيَّةٌ وَلِخَبَرِ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - قَالَتْ : إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلاَةِ الْخُسُوفِ (1)  وَلاَ يَجْهَرُ فِي صَلاَةِ كُسُوفِ الشَّمْسِ ؛ لِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَال : إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلاَةَ الْكُسُوفِ ، فَلَمْ نَسْمَعْ لَهُ صَوْتًا (2) . وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ . وَقَال أَحْمَدُ ، وَأَبُو يُوسُفَ : يَجْهَرُ بِهَا ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ مَالِكٍ الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 27 / ص 257)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وَعَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ مُرْسَلًا: «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، كَبَّرُوا فِي الْعِيدَيْنِ وَالِاسْتِسْقَاءِ سَبْعًا وَخَمْسًا، وَصَلَّوْا قَبْلَ الْخُطْبَةِ، وَجَهَرُوا بِالْقِرَاءَةِ» . رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ. ) وجهروا بالقراءة) أي فيهما، وهو اتفاق، بل حكي فيه الإجماع. قال ابن قدامة: لا نعلم خلافاً بين أهل العلم في أنه يسن الجهر بالقراءة في صلاة العيدين إلا أنه روي عن علي – رضي الله عنه – أنه كان إذا قرأ في العيدين أسمع من يليه ولم يجهر ذلك الجهر. وقال ابن المنذر: أكثر أهل العلم يرون الجهر بالقراءة، وفي أخبار من أخبر بقراءة النبي - صلى الله عليه وسلم - دليل على أنه كان يجهر، ولأنها صلاة عيد فأشبهت الجمعة – انتهى. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح

(Sumber: Disini)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

وبقي حكمة الجهر في محل الجهر ما هي، ولعلها أنه لما كان الليل محل الخلوة ويطيب فيه السمر شرع الجهر فيه إظهارا للذة مناجاة العبد لربه، وخص بالأوليين لنشاط المصلي فيهما والنهار لما كان محل الشواغل والاختلاط بالناس طلب فيه الإسرار لعدم صلاحيته للتفرغ للمناجاة. وألحق الصبح بالصلاة الليلية لأن وقته ليس محلا للشواغل عادة كيوم الجمعة . نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (1/ 494)

 

 

Daftar Pustaka:

1. Mirqat al Mafatih Syarh Misykat al Mashabih. I/ 304

2. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. XXVIII/ 257

3. Mirqat al Mafatih Syarh Misykat al Mashabih.

4. Nihayah al Muhtaj. I/ 494

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I

 

Link Diskusi: Disini