Zidnaa Ilmaa @ 15 Maret 2016 pukul 18:06

Assalamu'alaikum. bagaimana shalatnya cewek yang dagunya masih kelihatan, soalnya ni masih umum di masyarakat ? 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

“Bagaimanakah hukum shalatnya perempuan yang dagunya terlihat?” 

Syaikh Isma’il Zain di dalam kitabnya (Qurrah al ‘Ain) mengungkapkan bahwa sebagian saudara telah disodori sebuah pertanyaan sebagai berikut: 

Soal: Para ilmuan telah menetapkan bahwa sesungguhnya aurat perempuan merdeka di dalam shalat adalah seluruh tubuhnya, selain wajah dan dua telapak tangan. Dan suatu hal yang maklum bahwa batasan wajah dari sisi memanjang adalah diantara tempat tumbuhnya rambut hingga kedua janggut. Sedang dari sisi melebar adalah dari telinga (kanan) hingga telinga (kiri). Dan banyak terjadi tentang terbukanya anggota tubuh pada bagian bawah dagu perempuan ketika melaksanakan shalat dan thawaf. Apakah hal yang semacam itu ditolelir atau tidak? Mohon fatwanya, semoga Allah mengasihi kalian semua. 

Jawab: Terbukanya bagian bawah dagu dari anggota tubuh perempuan dalam pelaksanaan shalat dan thawaf adalah membahayakan, maka hal itu dapat membatalkannya, karena bagian bawah dagu termasuk dalam keumuman pernyataan para ilmuan terkait hal yang harus ditutup. Pernyataan para ilmuan “Aurat perempuan merdeka di dalam shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan” mengindikasikan beberapa hal, diantaranya pengecualian, karena hal itu adalah standard umum. Juga pernyataan para ilmuan “Wajib atas perempuan untuk menutupi sebagian wajah dari segala sisi agar sempurna dalam menutupi selain wajah”, menunjukkan bahwa sesungguhnya membuka sebagian wajah dapat membahayakan dan dianggap membatalkan shalat dan thawaf. Ini adalah menurut ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i. Sedang menurut selain mereka, seperti ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi dan Maliki menyatakan bahwa sesungguhnya membuka anggota tubuh pada bagian bawah dagu tidak dianggap sebagai hal yang membatalkan shalat sebagaimana yang diketahui dari redaksi-redaksi kitab mereka. Maka dari itu, jika hal tersebut terjadi dikalangan orang awam yang tidak mengerti dengan tata cara dari kalangan madzhab Syafi’i, maka shalat mereka sah, karena orang awam tidak memiliki madzhab juga bagi kalangan orang yang bermadzhab Syafi’i ketika ingin mengikuti madzhab lain, maka shalat mereka juga sah, karena para pakar dari kalangan 4 madzhab, semuanya atas dasar petunjuk, semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan. Maka dari itu pula, dapat diketahui bahwa permasalahan ini adalah dalam lingkup hilaf dikalangan pakar dari 4 madzhab dan bukan hal yang disepakati. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam segala hal. 

Imam Abu al Hasan al Mawardi di dalam kitabnya (al Hawi al Kabir) mengutip pernyataan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa bagi perempuan yang merdeka, maka ia harus menutupi (seluruh anggota tubuh) di dalam shalatnya hingga tidak ada yang tampak selain wajah dan kedua telapak tangannya. Jika ada yang tampak (selain wajah dan telapak tangan), maka ia harus mengulang shalatnya. al Mawardi menyatakan bahwa ini adalah sebagaimana ungkapan beliau “Menutup aurat di dalam shalat adalah wajib”. Al Mawardi juga mengutip pernyataan Imam Malik yang menyatakan “Menutup aurat adalah sebuah kesunahan di dalam shalat, bukan sebuah keharusan. Barang siapa melaksanakan shalat dengan membuka aurat, sedang waktu masih tersisa, maka ia harus mengulang, dan jika telah lewat, maka tidak harus mengulang”. Segala bidang yang telah diputuskan oleh Imam Malik bahwa wajib mengulang jika waktu masih tersisa, maka yang beliau kehendaki adalah sunah, bukan wajib. 

Dari pemaparan tersebut diatas, secara eksplisit dapat diketahui bahawa hukum shalatnya perempuan yang dagunya terlihat adalah hilaf sebagaimana berikut: 

• Ilmuan dari kalangan madzhabSyafi’i menyatakan bahwa hukum shalatnya tidak sah dan ia harus mengulang, karena menutup dagu adalah wajib.

• Ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi dan Maliki menyatakan bahwa hukum shalatnya sah. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Syamsul Mu'allim: 

ﻓﻘﺪ ﻗﺪﻡ ﺇﻟﻲ ﺑﻌﺾ ﺍلإﺧﻮﺍﻥ ﺳﺆﺍلا ﻫﺬﺍ ﻧﺼﻪ : ﻗﺪ ﻗﺮﺭﻭﺍ ﺃﻥ ﻋﻮﺭﺓ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﻓﻲ الصلاة ﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻧﻬﺎ ﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻭﻣﻌﻠﻮﻡ ﺃﻥ ﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻃﻮلا ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻣﻨﺎﺑﺖ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺘﻬﻰ ﺍﻟﻠﺤﻴﻴﻦ ﻭﻋﺮﺿﺎ ﻣﻦ ﺍلأﺫﻥ ﺇﻟﻰ ﺍلأﺫﻥ ﻭﻗﺪ ﻭﻗﻊ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﺍﻧﻜﺸﺎﻑ ﻣﺎ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺬﻗﻦ ﻣﻦ ﺑﺪﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺣﺎﻝ صلاتها ﻭﻃﻮﺍﻓﻬﺎ ﻓﻬﻞ ﺗﻌﺬﺭ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﻣﻦ ﺃﺳﻔﻞ ﺃﻡ ﻳﻀﺮ ﺫﻟﻚ ﺃﻓﺘﻮﻧﺎ ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻭﺍﻗﻌﺔ ﺣﺎﻝ .

ﻓﺄﻗﻮﻝ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ : انكشاف ما تحت الذقن من المرأة في حال الصلاة والطواف يضرّ فيكون مبطلا للصلاة وللطواف وذلك لأنه داخل في عموم كلامهم فيما يجب ستره فقولهم عورة الحرة فى الصلاة جميع بدنها الا الوجه والكفين يفيد ذلك لأمور منها الإستثناء فانه معيار العموم ومنها قولهم يجب عليها ان تستر جزءا من الوجه من جميمع الجوانب ليتحقق به كمال الستر لما عداه فظهر بذلك أن كشف ذلك يضر ويعتبر مبطلا للصلاة ومثلها الطواف هذا مذهب سادتنا الشفعية وأما عند غيرهم كالسادة الحنفية والسادة المالكية فإن ما تحت الذقن ونحوه لا يعدّ كشفه من العورة مبطلا للصلاة كما يعلم ذلك من عبارات كتب مذاهبهم وحينئذ لو وقع ذلك من العاميات اللاتي لم يعرفن كيفية التقيد بمذهب الشافعية فإن صلاتهن صحيحة لأن العامي لا مذهب له وحتى من العارفات بمذهب الشافعي إذا أردن تقليد غير الشافعي ممن يرى ذلك فإن صلاتهن تكون صحيحة لإن أهل المذاهب الأربعة كلهم على هدى فجزاهم الله عنا خير الجزاء ﻭﺑﺬﻟﻚ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﻗﻊ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻨﻬﺎ ﻫﻲ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ خلاف ﺑﻴﻦ ﺍﺋﻤﺔ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﻭﻟﻴﺴﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﻊ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺟﻌﻞ ﻓﻲ ﺍلأﻣﻮﺭ ﺳﻌﺔ . ﻗﺮﺓ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺑﻔﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﺰﻳﻦ-(ﺹ 59(

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi: 

مَسْأَلَةٌ : قَالَ الشَّافِعِيُّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " وَعَلَى الْمَرْأَةِ إِنْ كَانَتْ حُرَّةً أَنْ تَسْتَتِرَ فِي صَلَاتِهَا حَتَّى لَا يَظْهَرَ مِنْهَا شَيْءٌ إِلَّا وَجْهُهَا وَكَفَّاهَا ، فَإِنْ ظَهَرَ مِنْهَا شَيْءٌ سِوَى ذَلِكَ أَعَادَتِ الصَّلَاةَ " قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَهَذَا كَمَا قَالَ سَتْرُ الْعَوْرَةِ فِي الصَّلَاةِ وَاجِبٌ فِي الصَّلَاةِ وَقَالَ مَالِكٌ : سَتْرُ الْعَوْرَةِ مُسْتَحَبٌّ فِي الصَّلَاةِ ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ فَمَنْ صَلَّى مَكْشُوفَ الْعَوْرَةِ وَكَانَ الْوَقْتُ بَاقِيًا أَعَادَ وَإِنْ كَانَ فَائِتًا لَمْ يُعِدْ ، وَكُلُّ مَوْضِعٍ يَقُولُ مَالِكٌ أَنَّهُ يُعِيدُ فِيهِ مَعَ بَقَاءِ الْوَقْتِ يُرِيدُ بِهِ اسْتِحْبَابًا لَا وَاجِبًا  . الحاوى الكبير ـ الماوردى - (ج 2 / ص 384)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife: 

السؤال : هل المنطقة ما بين الذقن والرقبة عورة ويجب إخفاؤها في الصلاة ؟

الفتوى الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد: فإن ما بين الرقبة والذقن عورة كجميع بدن المرأة يجب ستره في الصلاة إلا الوجه والكفين، وإذا انكشف شيء من أطرافها في الصلاة تستحب لها الإعادة في الوقت. والله أعلم. فتاوى الشبكة الإسلامية - (ج 5 / ص 3771( 

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Farid Muzakki: 

قوله ( فعلى الثاني ) أي أن العامي لا مذهب له مطلقا أي قلد من يرى الصحة أم لا أقول في هذا التفريع خفاء إذ مقتضى ما قبله عدم الاحتياج إلى المحلل على الثاني مطلقا فليتأمل قوله ( والأول ) أي على أن له مذهب قوله ( بما التزمه ) أي بفعله النكاح المذكور مطلقا على الثاني ومع تقليده فيه بمن يراه على الأول  قوله ( ومعنى أنه لا مذهب له الخ ) دفع لما يقال أن معناه كما قال المحلي في شرح جمع الجوامع أنه لا يلزمه التزام مذهب معين فله أن يأخذ فيما يقع له بهذا المذهب تارة وبغيره أخرى وهكذا اه . حواشي الشرواني - (ج 7 / ص 240) 

 

Daftar Pustaka:

1. Qurrah al ‘Ain. 59

2. Al Hawi al Kabir. II/ 384

3. Fatawa al Syabkah al Islamiyah. V/ 3771

4. Hawasyi al Syarwani. VII/ 240

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: 

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I

 

Link Diskusi: Disini