Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2833261
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1427
1646
4526
2763940
19790
68407
2833261
Your IP: 54.144.100.123
Server Time: 2018-11-13 20:40:24

Chus Iftitah Rahayu @ 31 Maret 2016 pukul 7:13

Assalamualaikum asaatidz wal asaatiidzah grin emotikon . Ada seorang kyai diberi jamaahnya selembar sarung dan si pemberi berkata "Ini kyai buat sholat " ( kalo orang awam ini biasa disebut basa basi /abang abang lambe) .tp sang kyai menolak dan berkata iya kalo sy buat sholat . lha kalo sy buat ngaji atau yg lain sy kan khianat .

Apakah perkataan pemberi sprt itu mengikat dan harus dituruti ? Terkadang kita diberi dan sipemberi berkata ini buat transport ini buat beli gula Ini buat anaknya gimana yi solusinya ?? Sukron

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum mengenakan pemberian semisal sarung untuk keperluan selain shalat berkaitan dengan pernyataan pemberi bahwa sarung tersebut untuk shalat?”

Imam Ahmad Salamah al Qalyubi di dalam kitabnya (Hasyiyata al Qalyubi Wa ‘Amirah) menjelaskan bahwa ketika halal bagi seseorang untuk mengambil dan memberikan sesuatu untuk sebuah tujuan tertentu, maka tidak diperbolehkan baginya mengalokasikan untuk selain yang telah ditentukan. Jika seseorang memberinya dirham untuk membeli roti, maka tidak diperkenankan baginya untuk membeli semisal lauk pauk atau memberi roti untuk di makan, maka tidak diperbolehkan menjualnya juga mensedekahkannya. Yang demikian itu jika tidak ada indikasi bahwa penyebutan sifat (penentuan) semacam itu hanya sekedar untuk memperelok (bahasa), seperti untuk membeli secangkir kopi, maka diperbolehkan untuk mengalokasikannya sesuai kehendaknya (orang yang menerima pemberian).

Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Baa’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al Mustarsyidin) juga menegaskan dalam sebuah cabang hukum bahwa jika seseorang memberi dirham kepada orang lain untuk membeli semisal surban, dan tidak ada indikasi bahwa maksud dari sikap/pernyataan pemberi hanyalah untuk memberikan keleluasaan sebagaimana yang berlaku, maka penerima wajib membeli sesuatu yang telah disebutkan, karena kepemilikan semacam itu adalah kepemilikan yang terikat yang ditentukan oleh pemberi. Hal senada juga diuraikan oleh Imam Sulaiman bin Amr bin Manshur al Ashari di dalam kitabnya (Hasyiyah al Jamal).

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum mengenakan pemberian semisal sarung untuk selain shalat terkait pernyataan pemberi bahwa sarung tersebut untuk shalat adalah diperinci sebagai berikut:

• Jika tidak ada indikasi bahwa pernyataan pemberi yang semacam itu hanyalah sebuah penghias kata dalam memberi, maka penerima tidak diperbolehkan untuk mengalokasikan atau memanfaatkan pemberian untuk selain yang telah ditentukan.

• Jika terdapat indikasi semacam itu (seperti ungkapan pemberi “Ini uang saku sekedar untuk membeli bensin atau rokok”) sebagaimana yang berlaku, maka penerima boleh mengalokasikan sesuai kehendaknya. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

[حاشية قليوبي] تنبيه: متى حل له الأخذ وأعطاه لأجل صفة معينة لم يجز له صرف ما أخذه في غيرها، فلو أعطاه درهما ليأخذ به رغيفا لم يجز له صرفه في إدام مثلا أو أعطاه رغيفا ليأكله لم يجز بيعه، ولا التصدق به، وهكذا إلا إن ظهرت قرينة بأن ذكر الصفة لنحو تجمل كقوله لتشرب به قهوة مثلا فيجوز صرفه فيما شاء. حاشيتا قليوبي وعميرة (3/ 205)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

فرع : أعطى آخر دراهم ليشتري بها عمامة مثلاً ، ولم تدل قرينة حاله على أن قصده مجرد التبسط المعتاد لزمه شراء ما ذكر وإن ملكه لأنه ملك مقيد يصرفه فيما عينه المعطي. بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 367(

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

)حاشية الجمل): (تَنْبِيهٌ) مَتَى حَلَّ لَهُ الْأَخْذُ وَأَعْطَاهُ لِأَجْلِ صِفَةٍ مُعَيَّنَةٍ لَمْ يَجُزْ لَهُ صَرْفُ مَا أَخَذَهُ فِي غَيْرِهَا فَلَوْ أَعْطَاهُ دِرْهَمًا لِيَأْخُذَ بِهِ رَغِيفًا لَمْ يَجُزْ لَهُ صَرْفُهُ فِي إدَامٍ مَثَلًا أَوْ أَعْطَاهُ رَغِيفًا لِيَأْكُلَهُ لَمْ يَجُزْ لَهُ بَيْعُهُ وَلَا التَّصَدُّقُ بِهِ وَهَكَذَا إلَّا إنْ ظَهَرَتْ قَرِينَةٌ بِأَنْ ذَكَرَ الصِّفَةَ لِنَحْوِ تَجَمُّلٍ كَقَوْلِهِ لِتَشْرَبَ بِهِ قَهْوَةً مَثَلًا فَيَجُوزُ صَرْفُهُ فِيمَا شَاءَ . حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (4/ 111(

Daftar Pustaka: 1. Hasyiyata al Qalyubi Wa ‘Amirah. III/ 205 2. Bughyah al Mustarsyidin. I/ 367 3. Hasyiyah al Jamal. IV/ 111

=========

MUSYAWIRIN: Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie Sakera

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I