Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2636423
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
351
1468
7522
2564294
28046
70732
2636423
Your IP: 54.224.220.72
Server Time: 2018-08-17 03:19:39

Adien Dzeko 10 Juli 2016 Assalamu'alaikum wr wb.

Numpang tanya ustadz/dzah.. Sahkah shalatnya orang BISU.. (dr Takbir sampai Salam memakai bacaan versinya sendiri) Mator sakalangkong atas jawabannya.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum shalat orang bisu dengan bacaan sejak takbir hingga salam menggunakan versinya sendiri?”

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab) menjelaskan bahwa sahabat-sahabat kami berkata “Dan wajib atas orang bisu untuk menggerakkan lisan yang bermaksud membaca dengan kadar menggerakkanya orang yang mengucapkan, karena bacaannya meliputi ucapan dan menggerakkan lisan, maka gugurlah sesuatu yang ia tidak mampu”.

Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami di dalam kitabnya (Tuhfah al-Muhtaj) juga menjelaskan bahwa wajib bagi orang bisu untuk memperbagus gerakan lisannya atas tempat keluarnya huruf sebagaimana yang telah dibahas oleh Imam al-Adzra’i dan orang-orang yang mengikutinya. Maka gerakan lisan, kedua bibir dan anak lidah adalah sesuai kemampuannya, karena suatu hal yang mudah tidak gugur dengan hal yang sulit. Jika ia tidak mampu dari hal tersebut, maka ia berniat dalam hatinya. Adapun orang yang tidak mampu memperbagus hal tersebut, maka ia tidak harus menggerakkan lisannya, karena itu sia-sia.

Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari di dalam kitabnya (Fathu al-Wahab) juga menegaskan bahwa orang bisu wajib menggerakkan lisan, kedua bibir dan anak lidahnya pada saat melaksanakan takbiratul ihram semampunya, demikian juga dzikir-dzikir wajib yang lain, yakni tasyahud dan yang lain. Imam Ibnu Rif’ah menyatakan bahwa jika ia tidak mampu, maka ia harus berniat di dalam hati sebagaimana orang sakit. Dengan demikian, jika yang dimaksud oleh penanya dengan kalimat “menggunakan versinya sendiri” adalah menggerakkan lisan serta memperbagus gerakan lisannya, maka shalatnya sah. “Bagaimanakah cara menyampaikan ilmu syari’at kepada orang tuli / apakah orang tuli tetap tertuntut kewajiban sementara ia tidak dapat mendengar sebuah seruan?” Imam Sulaiman bin Muhammad bin Amr al-Bujairami al-Syafi’i di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Bujairami) berkata “Dan diungkapkan bahwa orang yang tidak sampai kepadanya sebuah seruan tidak dikategorikan kafir juga tidak lingkup (hukum) kafir, melainkan termasuk dalam hukum muslim, karena ia tumbuh jauh dari Ulama’, ia adalah keluarga secara global. Pembahasan ini juga berlaku bagi orang bisu asli. Jika tidak asli (tidak sejak lahir) sebelum ia tamyis, maka sebagaimana asli, dan jika setelah tamyiz walaupun sebelum baligh dan ia mengerti hukum-hukum, maka wajib”.

Dengan demikian, jika yang dimaksud oleh penanya adalah tentang tuntutan kewajiban bagi orang tuli, maka ia tidak tertuntut sebuah kewajiban jika ia mengalami tuli sejak lahir atau sebelum tamyiz. Namun jika ia mengalami tuli setelah tamyiz walaupun sebelum baligh, maka ia tertuntut kewajiban. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

(السابعة) قال اصحابنا علي الاخرس ان يحرك لسانه بقصد القراءة بقدر ما يحركه الناطق لان القراءة تتضمن نطقا وتحريك اللسان فقسط ما عجز عنه . المجموع شرح المهذب - (ج 3 / ص 394)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

وَعَلَى أَخْرَسَ يُحْسِنُ تَحْرِيكَ لِسَانِهِ عَلَى مَخَارِجِ الْحُرُوفِ كَمَا بَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ وَمَنْ تَبِعَهُ فَتَحْرِيكُ لِسَانِهِ وَشَفَتَيْهِ وَلَهَاتِهِ قَدْرَ إمْكَانِهِ لِأَنَّ الْمَيْسُورَ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ نَوَاهُ بِقَلْبِهِ نَظِيرَ مَا يَأْتِي فِيمَنْ عَجَزَ عَنْ كُلِّ الْأَرْكَانِ أَمَّا مَنْ لَا يُحْسِنُ ذَلِكَ فَلَا يَلْزَمُهُ تَحْرِيكُهُ لِأَنَّهُ عَبَثٌ ، وَفَارَقَ الْأَوَّلَ بِأَنَّهُ كَنَاطِقٍ انْقَطَعَ صَوْتُهُ فَإِنَّهُ يَتَكَلَّمُ بِالْقُوَّةِ وَإِنْ لَمْ يُسْمَعْ صَوْتُهُ بِخِلَافِ هَذَا فَإِنَّهُ كَعَاجِزٍ عَنْ الْفَاتِحَةِ وَبَدَلِهَا فَيَقِفُ بِقَدْرِهَا وَلَا يَلْزَمُهُ تَحْرِيكٌ . تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 5 / ص 304)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

وَيَلْزَمُ الْأَخْرَسَ تَحْرِيكُ لِسَانِهِ وَشَفَتَيْهِ وَلَهَاتِهِ بِالتَّكْبِيرِ قَدْرَ إمْكَانِهِ وَهَكَذَا حُكْمُ سَائِرِ أَذْكَارِهِ الْوَاجِبَةِ مِنْ تَشَهُّدٍ وَغَيْرِهِ قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ نَوَاهُ بِقَلْبِهِ كَمَا فِي الْمَرِيضِ. فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب (1/ 46)

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

وَقَدْ يُقَالُ مَنْ لَمْ تَبْلُغْهُ الدَّعْوَةُ لَيْسَ كَافِرًا وَلَا فِي حُكْمِهِ بَلْ فِي حُكْمِ مُسْلِمٍ نَشَأَ بَعِيدًا عَنْ الْعُلَمَاءِ، فَهُوَ أَهْلٌ فِي الْجُمْلَةِ كَمَا فِي ع ش عَلَى م ر. وَالْكَلَامُ فِي الْأَخْرَسِ الْأَصْلِيِّ. أَمَّا الطَّارِئُ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ التَّمْيِيزِ فَكَالْأَصْلِيِّ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ التَّمْيِيزِ وَلَوْ قَبْلَ الْبُلُوغِ وَعَرَفَ الْحُكْمَ تَعَلَّقَ بِهِ الْوُجُوبُ اهـ اج.. حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (1/ 408)

Daftar Pustaka: 1. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. III/ 394 2. Tuhfah al-Muhtaj. V/ 304 3. Fathu al-Wahab. I/ 46 4. Hasyiyah al-Bujairami. I/ 408

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I