Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2518027
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1678
2473
6098
2437012
52031
71119
2518027
Your IP: 54.144.16.135
Server Time: 2018-06-19 22:00:01

Yesline Ochiell 24 November 2016 pukul 7:28

assalamua'laikum. ya ikhwan q btuh jwbn yg cpt plus ibaroh.a ya

. Apa hkm.a mmbangunkan orang tdur untk melaksanakan sholat? syukron antadzir jawabakum.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum membangunkan orang tidur untuk melaksanakan shalat?”

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi di dalam kitabnya (Hasyiyah I’anah al-Thalibin) berkata “(Peringatan), disunahkan membangunkan orang yang sedang tidur untuk melaksanakan shalat jika diketahui ia tidak gegabah dengan tidurnya atau tidak diketahui kondisinya. Dan jika diketahui ia gegabah dengan tidurnya seperti diketahui ia tidur setelah masuk waktu pelakasanaan shalat sedang ia tidak yakin terbangun dalam waktu itu (pelaksanaan shalat), maka wajib (membangunkannya)”.

Imam Abdurrahman bin Abu Bakar al-Suyuthi di dalam kitabnya (al-Asybah Wa al-Nadhair) juga menegaskan bahwa membangunkan orang yang sedang tidur, sedang ia belum melaksanakan shalat, maka yang pertama adalah orang yang tidur setelah wajib (melaksanakan shalat), maka hukum membangunkannya adalah wajib dan hal ini dalam kategori “mencegah kemungkaran”. Sedang orang yang tidur sebelum masuk waktu tidak (dalam kategori ini) karena tidak terkait dengan keharusan melaksanakan kewajiban (mukallaf), namun yang lebih utama adalah membangunkannya agar ia mendapati shalat pada waktunya.

Imam Muhammad al-Khatib al-Syarbini di dalam kitabnya (Mughni al-Muhtaj) juga menambahkan dengan mengutip pernyataan Imam Nawawi di dalam kitab “al-Majmu’” yang menyatakan bahwa disunahkan membangunkan orang yang sedang tidur untuk melaksanakan shalat, terlebih jika waktu telah sempit. Di dalam “Sunan Abi Dawud” disebutkan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk melaksanakan shalat, maka beliau tidak melewati orang yang sedang tidur kecuali membangunkannya. Demikian juga ketika melihat ia (orang tidur) menjadi Imam shalat atau tidur pada barisan pertama, atau di tempat Imam di Masjid mihrab), (atau diatap yang datar, sedang ia tidak menggunakan pengaman karena adanya pelarangan tentang hal itu. Atau ia tidur sedang sebagian (tubuhnya) dibawah terik Matahari sedang sebagian yang lain ditempat yang teduh, atau tidur setelah terbit fajar, atau sebelum terbit Matahari, atau sebelum shalat Isya’ atau setelah shalat Ashar, atau tidur sendiri ditempat yang kosong, atau perempuan yang tidur terlentang, atau laki-laki yang tidur menelungkup, karena ia tidur (pada waktu dan pose) yang dimurkai Allah.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa membangunkan orang tidur untuk melaksanakan shalat adalah diperinci sebagai berikut:

·         Jika ia tidak gegabah (sembrono) dengan tidurnya (tidur sebelum masuk waktu shalat) atau tidak diketahui kondisinya (gegabah atau tidak), maka hukum membangunkannya adalah sunah.

·         Jika diketahui ia gegabah dengan tidurnya, maka hukum membangunkannya adalah wajib. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

)تنبيه) يسن إيقاظ النائم للصلاة إن علم أنه غير متعد بنومه أو جهل حاله، فإن علم تعديه بنومه كأن علم أنه نام في الوقت مع علمه أنه لا يستيقظ في الوقت، وجب.. حاشية إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 142)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وأما إيقاظ النائم الذي لم يصل فالأول وهو الذي نام بعد الوجوب يجب إيقاظه من باب النهي عن المنكر وأما الذي نام قبل الوقت فلا لأن التكليف لم يتعلق به لكن إذا لم يخش عليه ضرر فالأولى أيقاظه لينال الصلاة في الوقت انتهى ملخصا. الأشباه والنظائر - (ج 1 / ص 216)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

قال في المجموع ويسن إيقاظ النائم للصلاة ولا سيما إذا ضاق وقتها ففي سنن أبي داود أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج يوما إلى الصلاة فلم يمر بنائم إلا أيقظه وكذا إذا رآه أمام المصلين أو كان نائما في الصف الأول أو محراب المسجد أو كان نائما على سطح لا حجاز له لورود النهي عنه أو كان نائما بعضه في الشمس وبعضه في الظل أو كان نائما بعد طلوع الفجر وقبل طلوع الشمس أو كان نائما قبل صلاة العشاء أو بعد صلاة العصر أو نام خاليا وحده أو كانت المرأة نائمة مستلقية ووجهها إلى السماء أو نام الرجل منبطحا فإنها ضجعة يبغضها الله ويستحب أن يوقظ غيره لصلاة الليل وللتسحر والنائم بعرفات وقت الوقوف لأنه وقت طلب وتضرع مغني المحتاج - (ج 1 / ص 128)

 

Daftar Pustaka:

1.      Hasyiyah I’anah al-Thalibin. I/ 124

2.      Al-Asybah Wa al-Nadhair. I/ 216

3.      Mughni al-Muhtaj I/ 128

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Abdulloh Salam

8.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik S.Pd.I

Link Diskusi: <a href="/https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1809939035886315/">Disini</a>