Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2380243
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2163
7386
16724
2293792
65702
80405
2380243
Your IP: 54.224.99.70
Server Time: 2018-04-26 15:27:39

ٍعيشا Ardy Gio Nata

29 November 2016 pukul 1:10

Assalamu'alaikum.

Jika ada seorang bpk membwa anaknya yg msih kecil untuk ikut sholat isya secara berjamaah di masjid ....dan baru mendapat 2 rokaat ... tiba " si anak ini mengatakan ...""bapak aku mau kencing""...

pertanyaannya adalah wajibkah bagi si bpk itu untuk menghentikan sholatnya atau bgmana yg terbaik ..??

Minta pencerahannya ustad/ustadzah. Trimakasih

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُللهِوَالصَّلاَةُوَالسَّلاَمُعَلَىرَسُوْلِاللهِوَعَلَىآلِهِوَصَحْبِهِوَمَنْوَالاَهُ

“Bolehkah memutus shalat pada saat anak ingin pipis sebagaimana dalam deskripsi masalah?”

Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa tidak boleh (haram) memutus ibadah wajib setelah dalam pelaksanaannya tanpa ada faktor yang memperbolehkan berdasar kesepakatan para ilmuan, karena kental dengan unsur senda gurau. Dan terdapat pelarangan (Nabi) dari merusak ibadah. Allah berfirman “…..Dan jangan kalian batalkan ibadah kalian” (QS. Muhammad: 33). Sedang memutus karena ada faktor yang memperbolehkan adalah disyari’atkan, maka shalat dibatalkan demi membunuh ular dan yang lain karena adanya perintah untuk membunuhnya, juga karena adanya kehawatiran hilangnya harta benda yang bernilai atau yang lain, atau demi menolong orang yang taraniaya, mengingatkan orang yang lupa, orang yang sedang tidur yang dihampiri ular dan tidak mungkin mengingatkannya dengan membaca tasbih.

Prof. DR. Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili di dalam kitabnya (al-Fiqh al Islam Wa Adillatuhu) juga menjelaskan bahwa shalat (walaupun shalat fardlu) diputus karena adanya permintaan tolong orang yang teraniaya walaupun permintaan tolong tersebut tidak terfokus kepadanya (mushalli), sebagaimana ia melihat orang yang akan tercebur ke dalam air atau akan diterkam hewan atau akan dianiaya, sedang ia mampu memberikan pertolongan. Menurut ilmuan dari kalangan madzhab Hanafi tidak wajib memutus shalat karena adanya panggilan ayah atau ibu selain permintaan tolong, karena tidak boleh memutus shalat kecuali dalam kondisi darurat. Dan shalat juga diputus ketika adanya praduga atas kekhawatiran jatuhnya orang buta atau anak kecil ke dalam sumur atau yang lain (dan seterusnya), juga karena mengantisipasi dua hal yang menjijikkan (kotoran dan air seni) walaupun dapat menyebabkan lewatnya pelaksanaan shalat berjamaah.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa pada saat anak kecil tersebut hendak pipis di dalam Masjid, maka bapaknya boleh bahkan diperintahkan untuk membatalkan shalat karena jika tidak segera ditangani, dapat menajiskan Masjid serta mengganggu orang yang sedang shalat. واللهاعلم

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan:

قَطْعُالْعِبَادَةِ :

2 - قَطْعُالْعِبَادَةِالْوَاجِبَةِبَعْدَالشُّرُوعِفِيهَابِلاَمُسَوِّغٍشَرْعِيٍّغَيْرُجَائِزٍبِاتِّفَاقِالْفُقَهَاءِ،لأَِنَّقَطْعَهَابِلاَمُسَوِّغٍشَرْعِيٍّعَبَثٌيَتَنَافَىمَعَحُرْمَةِالْعِبَادَةِ،وَوَرَدَالنَّهْيُعَنْإِفْسَادِالْعِبَادَةِ،قَال

تَعَالَى : { وَلاَتُبْطِلُواأَعْمَالَكُمْ } (1) ،أَمَّاقَطْعُهَابِمُسَوِّغٍشَرْعِيٍّفَمَشْرُوعٌ،فَتُقْطَعُالصَّلاَةُلِقَتْلحَيَّةٍوَنَحْوِهَالِلأَْمْرِبِقَتْلِهَا،وَخَوْفِضَيَاعِمَالٍلَهُقِيمَةٌلَهُأَوْلِغَيْرِهِ،وَلإِِغَاثَةِمَلْهُوفٍ،وَتَنْبِيهِغَافِلٍأَوْنَائِمٍقَصَدَتْإِلَيْهِنَحْوَحَيَّةٍ،وَلاَيُمْكِنُتَنْبِيهُهُبِتَسْبِيحٍ

الموسوعةالفقهيةالكويتية - (ج 34 / ص 51)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

تقطعالصلاةولوفرضاًباستغاثةشخصملهوف،ولولميستغثبالمصليبعينه،كمالوشاهدإنساناًوقعفيالماء،أوصالعليهحيوان،أواعتدىعليهظالم،وهوقادرعلىإغاثته.

ولايجبعندالحنفيةقطعالصلاةبنداءأحدالأبوينمنغيراستغاثة؛لأنقطعالصلاةلايجوزإلالضرورة.

2ً - وتقطعالصلاةأيضاًإذاغلبعلىظنالمصليخوفترديأعمى،أوصغيرأوغيرهمافيبئرونحوه.....الىانقال

6ً - مدافعةالأخبثين (البولوالغائط) وإنفاتتهالجماعة. الفقهالإسلاميوأدلته - (ج 2 / ص 220)

Daftar Pustaka:

1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XLIII / 51

2. Al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuh. II/ 220

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik