Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2521010
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1328
1538
9081
2437012
55014
71119
2521010
Your IP: 54.80.198.173
Server Time: 2018-06-21 19:43:23

Abdullah Kafa@ 2 September 2016 pukul 18:17

Assalamu alaikum para yai. Ada pertaxa.an titipan nih.

Apa perbeda.an kurban dengan aqiqah. Mohon penjelesanaxa trimakasih.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Apakah perbedaan kurban dan aqiqah?”

Prof. DR. Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili di dalam kitabnya (al-Fiqhu al-Islam Wa Adillatuhu) menjelaskan bahwa kurban secara etimologi adalah sebuah nama untuk hewan yang dikurbankan atau untuk hewan yang disembelih pada hari-hari Idul Adha, maka kurban adalah hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha. Sedang secara terminologi, kurban adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat pendekatan (terhadap Allah) pada waktu tertentu. Atau hewan ternak yang disembelih sebagai upaya pendekatan terhadap Allah pada hari-hari penyembelihan. Kurban disyari’atkan pada tahun ke 2 Hijriyah sebagaimana zakat dan shalat dua hari raya dan dilegitimasi oleh al-Qur’an, Hadits dan konsensus Ulama’ (dan seterusnya). Hikmah yang terkandung dari pensyari’atan kurban adalah sebagai aplikasi rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang berlimpah, umur yang panjang dari tahun ke tahun serta melebur perbuatan buruk sebab melakukan hal-hal yang bertentangan atau minimnya melakukan perintah atau demi kelapangan semua keluarga orang yang berkurban dan lain sebagainya. Maka di dalam kurban tidak cukup dengan hanya memberikan nilai nominal, berbeda dengan zakat fitrah yang bertujuan menopang kebutuhan fakir miskin.

Al-Zuhaili juga menjelaskan bahwa Aqiqah adalah sesembelihan untuk anak yang terlahir pada hari ke 7 (pasca kelahiran). Arti asal secara etimologi adalah rambut bayi yang dilahirkan. Kemudian orang Arab menamakan sesembelihan pada saat mencukur rambut anak yang baru dilahirkan sebagai Aqiqah (dan seterusnya). Hikmah yang terkandung adalah sebagai aplikasi rasa syukur atas karunia anak yang terlahir serta upaya meningkatkan sikap dermawan, murah hati serta menarik simpati para keluarga, kerabat, sahabat dengan mengumpulkan mereka untuk sebuah jamuan, maka merasuklah rasa cinta, kasih dan sayang.

Imam Sulaiman bin Amr bin Mashur al-‘Ajili al-Ashari yang populer dengan sebutan “al-Jamal” di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Jamal) juga menjelaskan bahwa Aqiqah adalah sebagaimana kurban dalam semua hukum, meliputi jenis (hewan), usia, keselamatan (dari cacat), niat, hal yang lebih utama, mensedekahkan, hasil sunah dengan 1 kambing walaupun bagi anak laki-laki dan hal-hal lain yang akan diterangkan dalam bab Aqiqah. Namun dalam Aqiqah tidak wajib bersedekah dengan daging mentah darinya sebagaimana keterangan yang akan diketehui mendatang.

Pemateri juga mengisyaratkan bahwa sesungguhnya Aqiqah berbeda dengan kurban dalam beberapa hal, diantaranya diketahui dari pernyataan pengarang “disunahkan bagi anak laki-laki 2 kambing” juga pernyataan pengarang “dan memasaknya” juga pernyataan “tidak memecah tulangnya”. Imam Abdurrahman bin Abu Bakar; Jalaluddin al-Suyuthi di dalam kitabnya (al-Asybah Wa Al-Nadzair) juga mengungkapkan tentang perbedaan antara Aqiqah dan kurban. Beliau menyatakan bahwa keduanya berbeda, sesungguhnya hewan kurban tediri dari onta, sapi dan kambing, sedang hewan Aqiqah hanya kambing.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui beberapa perbedaan antara Aqiqah dan kurban sebagaimana berikut: • Aqiqah tidak wajib memberikan daging secara mentah, sedangkan kurban wajib • Aqiqah sunnah untuk tidak memecah tulang hewan, sedangkan kurban tidak • Aqiqah untuk anak yang dilahirkan. Sedangkan kurban untuk diri sendiri. Dan Aqiqah untuk anak laki-laki sunah 2 kambing, sedangkan kurban cukup 1 kambing • Aqiqah hanya boleh berupa kambing, sedangkan kurban lebih umum, bisa berupa onta, sapi, kerbau, kambing dan lain-lain (ini diluar pendapat yang mengatakan aqiqah/kurban boleh dengan ayam). Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

الأضحية لغة: اسم لما يضحى به، أو لما يذبح أيام عيد الأضحى، فالأضحية ما يذبح في يوم الأضحى. وفقهاً: هي ذبح حيوان مخصوص بنية القربة في وقت مخصوص (1) . أو هي ما يذبح من النَّعَم تقرباً إلى الله تعالى في أيام النحر (2) . وقد شرعت في السنة الثانية من الهجرة كالزكاة وصلاة العيدين، وثبتت مشروعيتها بالكتاب والسنة والإجماع (3) ………..الى ان قال37]. والحكمة من تشريعها: هو شكر الله على نعمه المتعددة، وعلى بقاء الإنسان من عام لعام، ولتكفير السيئات عنه: إما بارتكاب المخالفة، أو نقص المأمورات، وللتوسعة على أسرة المضحي وغيرهم، فلا يجزئ فيها دفع القيمة، بخلاف صدقة الفطر التي يقصد منها سد حاجة الفقير --------- والعقيقة: الذبيحة التي تذبح عن المولود، يوم أسبوعه. والأصل في معناها اللغوي: أنها الشعر الذي على المولود، ثم أسمت العرب الذبيحة عند حلق شعر المولود عقيقة، على عادتهم في تسمية الشيء باسم سببه، أو ما يجاوره........الى ان قال وحكمتها : شكر نعمة الله تعالى برزق الولد، وتنمية فضيلة الجود والسخاء وتطييب قلوب الأهل والأقارب والأصدقاء بجمعهم على الطعام، فتشيع المحبة والمودة والألفة.. الفقه الإسلامي وأدلته - (ج 4 / ص -284-244)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

(وَهِيَ) أَيْ الْعَقِيقَةُ (كَضَحِيَّةٍ) فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهَا مِنْ جِنْسِهَا وَسِنِّهَا وَسَلَامَتِهَا وَنِيَّتِهَا وَالْأَفْضَلِ مِنْهَا وَالْأَكْلِ وَالتَّصَدُّقِ وَحُصُولِ السُّنَّةِ بِشَاةٍ وَلَوْ عَنْ ذَكَرٍ وَغَيْرِهَا مِمَّا يَتَأَتَّى فِي الْعَقِيقَةِ لَكِنْ لَا يَجِبُ التَّصَدُّقُ بِلَحْمٍ مِنْهَا نِيئًا كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا يَأْتِي فَتَعْبِيرِي بِذَلِكَ أَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ وَسِنُّهَا وَسَلَامَتُهَا وَالْأَكْلُ وَالتَّصَدُّقُ كَالْأُضْحِيَّةِ. حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (5/ 264) ------- وأشار الشارح بهذا الاستدراك إلى أنها أي العقيقة تخالف الأضحية في أحكام منها هذا ومنها ما ذكره بقوله وسن لذكر شاتان وبقوله وطبخها وبقوله وأن لا يكسر عظمها ا ه من شرح م ر ومنها ما ذكره بقوله وإذا أهدي للغني منها شيء إلخ وفي سم فرع نذر أن يعق فبحث الزركشي كالأذرعي أنه يجب التصدق بلحمها نيئا لا مطبوخا ونظر فيه في شرح الروض ومشى الطبلاوي على قضية النظر من أنه يجزئ أن يتصدق بلحمها مطبوخا والله أعلم. حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري - (ج 10 / ص 420)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

[مَا افْتَرَقَ فِيهِ الْأُضْحِيَّةُ وَالْعَقِيقَةُ]ُ افْتَرَقَا فِي أَنَّ الْأُضْحِيَّةَ تَكُونُ مِنْ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالْعَقِيقَةُ لَا تَكُونُ إلَّا مِنْ الْغَنَمِ.. الأشباه والنظائر للسيوطي (ص: 527)

 

Daftar Pustaka:

1. Al-Fiqhu al-Islam Wa Adillatuhu. IV/ 244

2. Hasyiyah al-Jamal. V/ 264

3. Al-Asybah Wa Al-Nadzair. 527

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SPd I