Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2636349
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
277
1468
7448
2564294
27972
70732
2636349
Your IP: 54.224.220.72
Server Time: 2018-08-17 03:17:10

Renovasi Rumah Bangunan@ 7 September 2016 pukul 5:39

Assalamualykum. Numpang tanya apa boleh dalam qurban hewan .panitia atau pemilik kurban menjual kulit kurban atau menjual sebagian dagingnya dan apa boleh mengupah tukang jagal itu dengn daging kurbn.dn ap sj yg tdk d blh kn dlm kurbn.mjn pnjlsn ny.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bolehkah orang yang berkurban atau wakilnya menjual sebagian daging atau kulit hewan kurban dan bolehkah menjadikannya sebagai upah tukang jagal?”

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab) mengungkapkan bahwa penjelasan Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menjual sesuatu dari hadiah dan kurban, baik berstatus nadzar atau sunah, baik daging, lemak, kulit, tanduk, bulu dan lain sebagainya. Dan tidak boleh menjadikan kulit juga yang lain sebagai upah tukang jagal. Orang yang berkurban atau pemberi hadiah harus mensedakahkannya atau ia (boleh) mengambil bagian yang dapat dimanfa’atkan seperti kulit untuk dijadikan wadah air, timba, tapak kaki (muzah) dan lain sebagainya. Imam al-Haramain menceritakan bahwa penulis kitab “al-Taqrib” menceritakan sebuah pendapat yang langka yang menyatakan kebolehan menjual kulit dan mensedekahkannya berupa nilai nominal serta didistribusikan ditempat pendistribusian kurban. Pendapat yang shahih yang populer yang dipaparkan oleh Imam Syafi’i dan diperkuat oleh mayoritas Ulama’ menyatakan bahwa penjualan semacam ini tidak diperbolehkan sebagaimana tidak diperbolehkan menjual untuk dirinya sendiri dan menjual daging serta lemak. Sahabat kami berkata “tidak ada perbedaan tentang batalnya penjualan antara menjual sesuatu yang bermanfa’at dirumah dan yang lain”. Dan sunah mensedekahkan keranjang serta tali pengikatnya, namun hal itu tidaklah wajib. Hal ini dipaparkan oleh Imam al-Bandaniji dan yang lain.

Imam Taqiyuddin al-Hishni di dalam kitabnya (Kifayah al-Akhyar) juga menjelaskan bahwa tempat (bagian) hewan kurban yang bermanfa’at tidak boleh dijual bahkan kulitnya, dan tidak boleh menjadikannya sebagai upah tukang jagal walaupun berstatus (kurban) sunah. Orang yang berkurban harus mensedekahkan dan ia boleh mengambil bagian yang bermanfa’at yakni tapak kaki, sepatu, timba atau yang lain dan tidak boleh menjadikannya sebagai upah. Sedang tanduk adalah sebagaimana kulit. Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa diperbolehkan menjual dan mensedekahkan nilai nominalnya lalu dipergunakan untuk membeli sesuatu yang bermanfa’at di rumah. Hal ini dianalogikan dengan daging.

Syaikh Sulaiman al-Jamal di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Jamal) juga mengingatkan bahwa wakil adalah orang yang terpercaya, karena ia merupakan kepanjangan tangan orang yang mewakilkan dalam kekuasaan dan pendistribusian, maka kekuasaanya laksana orang yang mewakilkan.

Imam Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Syirazi; Abu Ishaq di dalam kitabnya (al-Muhaddzab) juga mengingatkan bahwa wakil tidak memiliki wewenang dalam pendistribusian kecuali berdasar izin orang yang mewakilkan, baik (izin) melalui ucapan atau convensi, karena pendistribusiannya adalah berdasar izin.

Syaikh Ibrahim al-Baijuri di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Baijury) juga menambahkan bahwa keharaman menjadikan sebagai upah tukang jagal karena searti dengan menjual. Jika ia diberi namun tidak sebagai upah melainkan sedekah, maka hal itu tidaklah haram. Ia boleh menghadiahkannya dan menjadikannya wadah air atau tapak kaki dan lain sebagainya seperti menjadikan sebagai tudung tutup kepala, ia juga boleh meminjamkannya, namun mensedekahkannya lebih utama. Hal ini dalam kontek kurban sunah. Sedang kurban yang berstatus wajib harus disedekahkan berserta kulitnya, sebagaimana uraian di dalam kitab “al-Majmu”’. Adapun tanduk adalah sebagaimana kulit dalam hal yang telah dipaparkan. Dari pemaparan tersebut di atas dan mengacu pada pendapat ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i, dapat diketahui bahwa tidak diperbolehkan menjual bagian dari hewan kurban termasuk kulitnya, juga tidak boleh menjadikannya sebagai upah tukang jagal, namun jika tidak sebagai upah melainkan sebagai sedekah, maka hal itu tidak dilarang. Ketentuan semacam ini juga berlaku bagi wakil, karena wakil adalah kepanjangan tangan orang yang mewakilkan. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

واتفقت نصوص الشافعي والاصحاب على انه لا يجوز بيع شئ من الهدي والاضحية نذرا كان أو تطوعا سواء في ذلك اللحم والشحم والجلد والقرن والصوف وغيره ولا يجوز جعل الجلد وغيره اجرة للجزار بل يتصدق به المضحي والمهدي أو يتخذ منه ما ينتفع بعينه كسقاء أو دلو أو خف وغير ذلك * وحكى امام الحرمين ان صاحب التقريب حكى قولا غريبا انه يجوز بيع الجلد والتصدق بثمنه ويصرف مصرف الاضحية فيجب التشريك فيه كالانتفاع باللحم * والصحيح المشهور الذي تظاهرت عليه نصوص الشافعي وقطع به الجمهور انه لا يجوز هذا البيع كما لا يجوز بيعه لاخذ ثمنه لنفسه وكما لا يجوز بيع اللحم والشحم * قال اصحابنا ولا فرق في بطلان البيع بين بيعه بشئ ينتفع به في البيت وغيره والله أعلم * ويستحب أن يتصدق بجلالها ونعالها التى قلدتها ولا يلزمه ذلك صرح به البندنيجي وغيره والله أعلم . المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 419)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

واعلم أن موضع الأضحية الانتفاع فلا يجوز بيعها بل ولا بيع جلدها ولا يجوز جعله أجرة للجزار وإن كانت تطوعا بل يتصدق به المضحي أو يتخذ منه ما ينتفع به من خف أو نعل أو دلو أو غيره ولا يؤجره والقرن كالجلد وعند أبي حنيفة رحمه الله أنه يجوز بيعه ويتصدق بثمنه وأن يشتري بعينه ما ينتفع به في البيت لنا القياس على اللحم وعن صاحب التقريب حكاية قول غريب أنه يجوز بيع الجلد ويصرف ثمنه مصرف الأضحية والله أعلم. كفاية الأخيار - (ج 1 / ص 533)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

قوله والوكيل أمين أي لأنه نائب عن الموكل في اليد والتصرف فكانت يده كيده ولأن الوكالة عقد إرفاق ومعونة والضمان مناف لذلك ا ه سم. حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري - (ج 6 / ص 704)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

ولا يملك الوكيل من التصرف إلا ما يقتضيه إذن الموكل من جهة النطق أو من جهة العرف لان تصرفه بالإذن فلا يملك إلا ما يقتضيه الإذن والإذن يعرف بالنطق وبالعرف. المهذب - (ج 1 / ص 350)

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

(قوله ويحرم ايضا جعله اجرة للجزار) اى لانه في معنى البيع فان اعطاه له لا على انه اجرة بل صدقة لم يحرم وله اهداؤه وجعله سقاء او خفا او نحو ذلك كجعله فروة وله اعارته والتصدق به افضل وهذا في اضحية التطوع اه. واما الواجبة فيجب التصدق بجلدها كما في المجموع والقرن مثل الجلد فيما ذكر. . حاشية الشيخ ابراهيم البيجوري-2-566-567

 

Daftar Pustaka:

1. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. VIII/ 419

2. Kifayah al-Akhyar. I/ 533

3. Hasyiyah al-Jamal. VI/ 704

4. Al-Muhaddzab. I/ 350

5. Hasyiyah al-Baijury. II/ 566-567

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP d I