Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2887268
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
986
1998
11627
2809480
25531
48266
2887268
Your IP: 3.80.177.176
Server Time: 2018-12-16 13:37:30

Abdul Malik 19 September 2016 pukul 21:51

Assalamualaikum. Titipan dari Ust Choirul Anwar 15 September pukul 1:52

Ada pertanyaan dr kampung saya : Ada seorg kiai dpt QURBAN 2 sapi,Sapi yg 1 di jual ke pasar,uangxa dia ambil sndiri dpake buat biaya nikah putrixa,sapi yg satu lagi di sembelih tp dpake buat makanan para tamu d acr pernikahan putrixa,Saat dtegor dia berdalih ikut IMAM NANAFI dlm kitab KIFAYATUL AKHYAR,ap benar ad ulama' yg mmprbolehkan cara sperti ini? Tafaddhal Para Kiai Untuk Di Jawab. Jazakumullahu FII Ilmikum

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum menjual hewan kurban dan menjadikannya sebagai biaya pernikahan?”

Imam Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Syirazi; Abu Ishaq di dalam kitabnya (al-Muhaddzab) menjelaskan bahwa wakil tidak memiliki wewenang dalam pendistribusian kecuali berdasar izin orang yang mewakilkan, baik (izin) melalui ucapan atau convensi, karena pendistribusiannya adalah berdasar izin.

Syaikh Sulaiman al-Jamal di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Jamal) juga mengingatkan bahwa wakil adalah orang yang terpercaya, karena ia merupakan kepanjangan tangan orang yang mewakilkan dalam kekuasaan dan pendistribusian, maka kekuasaanya laksana orang yang mewakilkan.

Imam Taqiyuddin al-Hishni di dalam kitabnya (Kifayah al-Akhyar) juga menjelaskan bahwa tempat (bagian) hewan kurban yang bermanfa’at tidak boleh dijual bahkan kulitnya, dan tidak boleh menjadikannya sebagai upah tukang jagal walaupun berstatus (kurban) sunah. Orang yang berkurban (atau wakil) harus mensedekahkannya.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa penerima hewan kurban (wakil) tidak diperbolehkan (haram) menjual hewan kurban yang diterima untuk kemudian menjadikannya sebagai biaya pernikahan, karena hal itu menciderai kepercayaan yang di amanahkan, dan karena wewenang wakil berdasar izin orang yang mewakilkan. Dan jika ia berdalih telah mengantongi izin dari orang yang mewakilkan untuk menjualnya, maka hewan yang diserah terimakan bernilai sedekah dan tidak termasuk hewan kurban, karena hewan kurban terikat dengan waktu dalam penyembelihan dan pendistribusiannya. (Lihat Doc. MTTM:

http://taklimtanahmerah.com/…/1268-doc-1216-perbedaan-kurba…).

Dan jika ia berdalih mengikuti jejak pendapat Imam Hanafi sebagaimana yang diuraikan di dalam kitab “Kifayah al-Akhyar”, maka seharusnya ia mensedekahkan nilai nominal hasil penjualan tersebut dan tidak menjadikannya sebagai biaya pernikahan anaknya.

“Bagaimanakah hukum menjadikan daging hewan kurban sebagai hidangan acara semisal pernikahan?” Imam Sulaiman bin Amr bin Mashur al-‘Ajili al-Ashari yang populer dengan sebutan “al-Jamal” di dalam kitabnya (Hasyiyah al-Jamal) juga menjelaskan bahwa Aqiqah adalah sebagaimana kurban dalam semua hukum, meliputi jenis (hewan), usia, keselamatan (dari cacat), niat, hal yang lebih utama, mensedekahkan, hasil sunah dengan 1 kambing walaupun bagi anak laki-laki dan hal-hal lain yang akan diterangkan dalam bab Aqiqah. Namun dalam Aqiqah tidak wajib bersedekah dengan daging mentah darinya sebagaimana keterangan yang akan diketehui mendatang.

Imam Sa’id bin Muhammad Baa’alawi Baa’asyin al-Hadrami al-Syafi’i di dalam kitabnya (Busyra al-Karim) juga menjelaskan bahwa dalam kurban sunah wajib mensedekahkan sebagian dagingnya. Beliau juga mengutip pernyataan Syaikh Ali bin Asy-Syibromilsy (عش) yang menyatakan bahwa daging (yang dibagikan) harus mencapai 2564 gram. Maka haram memakan seluruhnya, karean yang dimaksud (dengan kurban) adalah berbagi dan berbelas kasih dengan orang-orang miskin dan tidak cukup dengan hanya menyembelih (dan seterusnya). Dan harus diberikan dalam keadaan mentah, bukan daging yang telah dimasak.atau dendeng kepada orang Muslim merdeka atau budak (mukatab atau muba’ad) yang fakir atau miskin walaupun hanya 1 orang. Dan tidak cukup dengan menjadikannya makanan siap saji lalu memanggil orang miskin atau mengirimkannya, karena haknya adalah memiliki bukan mengkonsumsinya.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum menjadikan daging hewan kurban sebagai hidangan sebuah acara oleh wakil adalah diperinci sebagai berikut:

• Jika seluruh daging kurban tersebut memang dibagikan secara matang kepada orang-orang miskin sebagai hidangan dalam sebuah acara, maka hal itu tidak dapat dibenarkan dan tidak sah sebagai kurban.

• Jika kurban tersebut berstatus sunah dan sebagian dagingnya dibagikan kepada orang miskin sedang sebagian yang lain dipergunakan sebagai santapan dalam sebuah acara serta mendapat izin dari orang yang mewakilkan, maka hal itu tidak dilarang dan sah sebagai kurban. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

ولا يملك الوكيل من التصرف إلا ما يقتضيه إذن الموكل من جهة النطق أو من جهة العرف لان تصرفه بالإذن فلا يملك إلا ما يقتضيه الإذن والإذن يعرف بالنطق وبالعرف. المهذب - (ج 1 / ص 350)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

قوله والوكيل أمين أي لأنه نائب عن الموكل في اليد والتصرف فكانت يده كيده ولأن الوكالة عقد إرفاق ومعونة والضمان مناف لذلك ا ه سم. حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري - (ج 6 / ص 704)

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

واعلم أن موضع الأضحية الانتفاع فلا يجوز بيعها بل ولا بيع جلدها ولا يجوز جعله أجرة للجزار وإن كانت تطوعا بل يتصدق به المضحي أو يتخذ منه ما ينتفع به من خف أو نعل أو دلو أو غيره ولا يؤجره والقرن كالجلد وعند أبي حنيفة رحمه الله أنه يجوز بيعه ويتصدق بثمنه وأن يشتري بعينه ما ينتفع به في البيت لنا القياس على اللحم وعن صاحب التقريب حكاية قول غريب أنه يجوز بيع الجلد ويصرف ثمنه مصرف الأضحية والله أعلم. كفاية الأخيار - (ج 1 / ص 533)

 

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

وحكى أصحابنا عن أبي حنيفة أنه يجوز بيع الاضحية قبل ذبحها وبيع ما شاء منها بعد ذبحها ويتصدق بثمنه قالوا وان باع جلدها بآلة البيت جاز الانتفاع بها * دليلنا حديث علي رضى الله عنه والله أعلم . المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 420)

 

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

(وَهِيَ) أَيْ الْعَقِيقَةُ (كَضَحِيَّةٍ) فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهَا مِنْ جِنْسِهَا وَسِنِّهَا وَسَلَامَتِهَا وَنِيَّتِهَا وَالْأَفْضَلِ مِنْهَا وَالْأَكْلِ وَالتَّصَدُّقِ وَحُصُولِ السُّنَّةِ بِشَاةٍ وَلَوْ عَنْ ذَكَرٍ وَغَيْرِهَا مِمَّا يَتَأَتَّى فِي الْعَقِيقَةِ لَكِنْ لَا يَجِبُ التَّصَدُّقُ بِلَحْمٍ مِنْهَا نِيئًا كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا يَأْتِي فَتَعْبِيرِي بِذَلِكَ أَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ وَسِنُّهَا وَسَلَامَتُهَا وَالْأَكْلُ وَالتَّصَدُّقُ كَالْأُضْحِيَّةِ.. حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (5/ 264)

 

Dasar pengambilan (6) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

(ويجب) في أضحية التطوّع (التصدق بشيء من لحمها) يقع عليه الاسم. قال (ع ش): (ولا بد من كون له وقع كرطل) فيحرم أكل جميعه؛ إذ المقصود إرفاق المساكين، ولا يحصل بمجرد الذبح، ..........الى ان قال. ويجب أن يعطيه (نيئاً) طرياً لا مطبوخاً ولا قديداً لمسلم حر أو مبعض في نوبته، أو مكاتب -والمعطي غير سيده- فقير أو مسكين ولو واحداً، ولا يكفي جعله طعاماً ودعاء المسكين أو إرساله إليه؛ لأن حقه في تملكه لا في أكله، ولا مما لا يسمى لحماً كجلد وكبد. شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ص: 700)

 

Daftar Pustaka:

1. Al-Muhaddzab. I/ 350

2. Hasyiyah al-Jamal. VI/ 704

3. Kifayah al-Akhyar. I/ 533

4. Al-Mamu’ Syarh al-Muhaddzab. VIII/ 420

5. Hasyiyah al-Jamal. V/ 264 6. Busyra al-Karim. 700

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik S.P. d I