Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2056653
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
624
1553
10641
1976011
33227
73193
2056653
Your IP: 54.167.44.32
Server Time: 2017-12-15 08:09:47

Hashen Achmeéd@ 19 September 2016 pukul 13:04

Assalamu’alaukum. Mau nanya ustad. Aq punya nenek yg lanjut usia.. yang akalx udah mengurang.. kadang ia tidak salat. Katax sudah salat. Pertanyaanx. Apakah nenekq ini sama dengan anak kecil yg lepas dari taklif, Klo tidak apakah ia brdosa lantaran meninggalkan salat.. Mohon bimbinganx ustad..! Jga ibaratx...

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُللهِوَالصَّلاَةُوَالسَّلاَمُعَلَىرَسُوْلِاللهِوَعَلَىآلِهِوَصَحْبِهِوَمَنْوَالاَهُ

“Apakah orang tua yang telah pikun sama dengan anak kecil yang lepas dari tuntutan hukum?” Imam Abdurrahman bin Abu Bakar al-Suyuthi di dalam kitabnya (al-Asybah Wa al-Nadhair) mengutip pernyataan Imam Abu Ishaq yang menyatakan bahwa akal adalah sifat yang mampu membedakan antara baik dan buruk. Beliau juga mengungkapkan bahwa sebagian ilmuan menyatakan bahwa (akal) adalah yang mampu menghilangkan kegilaan, epilepsy dan tidur. Imam al-Ghazali menyatakan bahwa kegilaan menghilangkan akal, sedang epilepsy dan tidur menutupinya. Imam al-Subki berkata “Epilepsy tidak dituturkan di dalam hadits karena searti dengan tidur, namun menyebutkan “pikun” dalam sebagia riwayat walaupun searti dengan epilepsy, karena hal itu adalah redaksi untuk terkontaminasinya akal dengan lanjut usia namun tidak dikategorikan gila, karena gila melahirkan sakit yang melemahkan semangat yang dapat diobati, sedang “pikun” tidak demikian. Maka dari itu (pikun) tidak disebutkan di dalam Hadits hingga berakal, karena lumrahnya tidak akan lepas dari pikun hingga meninggal dunia”. Imam al-Subki mengungkapkan bahwa “pikun” adalah sebuah kategori diantara epilepsy dan gila, namun lebih condong pada epilepsy. Ketahuilah bahwa 3 hal (tidur, gila, epilepsy) berserikat dalam hukum, dan terkadang tidur berbeda dengan gila dan epilepsy, namun terkadang sama, bahkan terkadang sama dengan gila. Pertama, ketiganya terdapat dalam Hadits. Kedua, dianjurkan mandi saat sembuh dari kegialaan dan epilepsy. Ketiga, mengqadla’ shalat wajib bagi orang yang tidur ketika menghabiskan waktu namun tidak bagi orang gila dan epilepsy. 

Imam Muhammad bin Salim di dalam kitabnya (Is’adu al-Rafiq) juga menjelaskan bahwa ketika tiba-tiba datang penghalang (shalat) seperti haidl, gila atau epilepsy pada awal waktu pelaksanaannya, yakni waktu yang cukup dipergunakan melaksanakan rukun-rukun shalat dengan dinisbatkan pada orang yang dimungkinkan mendahulukan bersuci atas waktu shalat sebagaimana orang yang selamat (dari penghalang) yang tidak bertayamum. Dan setelah berlalunya waktu yang cukup (untuk melaksanakan shalat) dengan dinisbatkan pada orang yang tidak mungkin mendahulukan bersuci sebelum masuk waktu seperti orang beser dan orang yang bertayamum, maka setelah hilangnya penghalang, harus mengqadla’ shalat tersebut, karena menjumpai waktu yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan shalat. Maka penghalang tidak menggugurkan kewajiban shalat. Atau hilangnya penghalang (shalat) seperti mencapai usia baligh atau sembuh (dari gila dan epilepsy), atau suci, atau baru masuk Islam, sedang masih ada waktu yang cukup dipergunakan untuk melaksanakan takbiratul ihram, maka harus melaksanakan shalat (tersebut) dan wajib mengqadla’ jika tidak mungkin melaksanakan pada waktunya dengan ketentuan selamat dari penghalang selama perkiraan melaksanakan shalat yang paling ringan seperti 2 raka’at bagi musafir, dan kadar bersuci serta syarat-syarat yang lain bagi selain anak kecil dan orang kafir, karena keduanya dimungkinkan untuk mendahulukan menghilangkan penghalangnya menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami (حج). Demikian juga wajib melaksanakan shalat sebelumnya namun tidak mutlak, melainkan jika kedua shalat bisa jama’ seperti Dhuhur dan Ashar. Maka ia harus mengqadla’ dengan syarat masih selamat (dari penghalang) dalam kurun waktu tersebut dan kurun waktu melaksanakan kewajiban.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa orang pikun tidak sepenuhnya sama dengan (hukum) anak kecil, melainkan posisinya antara epilepsy (ayan) dan gila tetapi lebih dekat dengan epilepsy, sehingga dengan keadaan yang semacam itu, ketika dalam keadaan pikun ia tidak berkewajiban melaksanakan shalat, karena sudah tidak tamyiz dan ia tidak wajib meng-qadla` shalat selama pikunnya menghabiskan waktu dan timbulnya di awal waktu yang tidak muat untuk digunakan shalat. Atau saat sadar normal kembali ia tidak menjumpai waktu yang muat untuk sekedar melaksanakan takbiratul ihram. Namun pada saat sadar kembali ia wajib melaksanakan shalat, dan jika ditinggalkan, maka wajib diqadla`. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi​:

قالالشيخأبوإسحاقالعقلصفةيميزبهاالحسنوالقبيحقالبعضهمويزيلهالجنونوالإغماءوالنوموقالالغزاليالجنونيزيلهوالإغماءيغمرهوالنوميسترهقالالسبكيوإنمالميذكرالمغمىعليهفيالحديثلأنهفيمعنىالنائموذكرالخرففيبعضالرواياتوإنكانفيمعنىالمجنونلأنهعبارةعناختلاطالعقلبالكبرولايسمىجنونالأنالجنونيعرضمنأمراضسوداويةويقبلالعلاجوالخرفخلافذلكولهذالميقلفيالحديثحتىيعقللأنالغالبأنهلايبرأمنهإلىالموتقالويظهرأنالخرفرتبةبينالإغماءوالجنونوهيإلىالإغماءأقربانتهىواعلمأنالثلاثةقديشتركونفيأحكاموقدينفردالنائمعنالمجنونوالمغمىعليهتارةويلحقبالنائموتارةيلحقبالمجنونوبيانذلكبفروعالأولالحدثيشتركفيهالثلاثةالثانياستحبابالغسلعندالإفاقةللمجنونومثلهالمغمىعليهالثالثقضاءالصلاةإذااستغرقذلكالوقتيجبعلىالنائمدونالمجنونوالمغمىعليهكالمجنون. الأشباهوالنظائر - (ج 1 / ص 212)

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

فَإِنْطَرَأَمَانِعٌمِنْمَوَانِعِهَاكَحَيْضٍأَوْجُنُوْنٍأَوْإِغْمَاءٍوَكَانَطُرُوُّهُبَعْدَمَامَضَىمِنْأَوَّلِوَقْتِهَامَاأَيْزَمَنٌيَسَعُهَاأَيْيَسَعُأَرْكَانَهَافَقَطْبِالنِّسْبَةِلِمَنْيُمْكِنُهُتَقْدِيْمُالطُّهْرِعَلَىالْوَقْتِكَسَلِمٍغَيْرَمُتَيَمِّمٍوَبَعْدَأَنْيَمْضِيَمِنْهُمَايَسَعُهَاوَطُهْرَهَابِالنِّسْبَةِلِمَنْلاَيُمْكِنُهُتَقْدِيْمُهُلِنَحْوِسَلِسٍبِكَسْرِاللَّامِوَفَتْحِهَاكَمُتَيَمِّمٍلَزِمَهُبَعْدَزَوَالِالْمَانِعِقَضَاؤُهَاأَيْقَضَاءُصَلاَةِذَلِكَالْوَقْتِِلإِدْرَاكِهِمِنْوَقْتِهَامَايُمْكِنُهُفِعْلُهَافِيْهِفَلاَيَسْقُطُبِمَاطَرَأَأَوْزَوَالُالْمَانِعِكَأَنْبَلَغَأَوْأَفَاقَأَوْطَهُرَتْأَوْأَسْلَمَوَالْحَالُأَنَّهُقَدْبَقِيَجُزْءٌمِنَالْوَقْتِوَلَوْكَانَقَدْرُذَلِكَالْجُزْءِقَدْرَزَمَنِتَكْبِيْرَةٍلِلتَّحَرُّمِلَزِمَتْهُصَلاَةُذَلِكَالْوَقْتِفَيَجِبُعَلَيْهِقَضَاؤُهَاإِنْلَمْيُمْكِنْهُأَدَاؤُهَافِيالْوَقْتِبِشَرْطِبَقَاءِالسَّلاَمَةِمِنَالْمَوَانِعِقَدْرَالصَّلاَةِبِأَخَفِّمُمْكِنٍكَرَكْعَتَيْنِلِمُسَافِرٍوَإِنْأَرَادَاْلإِتْمَامَتَغْلِيْبًالِْلإِيْجَابِكَاقتِدَاءِقَاصِرٍبِمُتِمٍّوَقَدْرَالطَّهَارَةِوَكَذَابَاقِيالشُّرُوْطِفِيْغَيْرِالصَّبِيّْوَالْكَافِرِِلإِمْكَانِهِمَاتَقْدِيْمُهَاعَلَىزَوَالِمَانِعِهِمَاعِنْدَحجوَكَذَايَلْزَمُهُمَاأَيِالصَّلاَةُالَّتِيْقَبْلَهَاوَفِيْنُسْخَةٍبِخَطِّالْمُصَنِّفِوَمَاقَبْلَهَاوَفِيْأُخْرَىبِخَطِّهِأَيْضًاأَوْمَعَمَاقَبْلَهَالَكِنْلاَمُطْلَقًابَلْإِنْجُمِعَتْمَعَهَاكَالظُّهْرِمَعَالْعَصْرِِلاتِّحَادِوَقْتِهَافِيالْعُذْرِفَفِيالضَّرُوْرَةِأَوْلَىفَيَجِبُعَلَيْهِقَضَاؤُهَابِشَرْطِبَقَاءِالسَّلاَمَةِبَعْدَزَوَالِالْمَانِعِقَدْرَهَاكَذَلِكَوَقَدْرَمُؤَدَّاةٍوَجَبَتْ . إهـ. إسعادالرفيقوبغيةالصديقج١ص٧٢الهداية - سورابايا

 

Daftar Pustaka:

1. Al-Asybah Wa al-Nadhair. I/ 212

2. Is’adu al-Rafiq. I/ 72

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik​. SP. d I

Hashen Achmeéd 15 September 2016 pukul 13:54 Assalamualaiku.. mau nanya ustad.. Bahwasanya siwak itu yang lebih utama kayu araq.. namun ketika kita bangun tidur bersiwak memakai sikat dan pasta gigi itu lebih bersih dan harum. Apakah memakai siwak dg sikat dan pasta gigi itu lebih utama..? Dg alasan secara dhohir lebih bersih ...! Mohon penjelasanx ustadz juga ibaratx.. trimakasih...!

~~~~~~~~~

Read more: DOC_1227....

Abdul Majid Kemarin 2016 pukul 6:37 ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ apa saja perbedaan dan ma'na2 dari ﺍﻟﺤﻠﻒ ﻭﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﻘﺴﻢ ~~~~~~~~~ JAWABAN: Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ “Apakah perbedaan antara الحلف، اليمين dan القسم?” Di dalam sebuah literatur Fiqh kontemporer (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa sinonim اليمين (sumpah). Imam al-Kamal menyatakan bahwa ada 6 kalimat (isim) yang memiliki pola arti pengukuhan semacam ini, yaitu: “al-halif”, “al-qasam”, “al-ahdu”, “al-mitsaq”, “al-ila’” dan “al-yamin”. 5 kalimat tersebut merupakan sinonim kalimat “al-yamin” yang berarti sumpah, dan masih ada kalimat searti. Penulis kitab “al-badai’” menjelaskan bahwa jika seseorang berkata “Aku bersaksi” atau “Aku berniat atau bersungguh-sungguh akan melakukan hal ini”, maka itu adalah sumpah (dan seterusnya). Dari itu dapat dipahami bahwa sesungguhnya al-“syahadah” dan “al-azmu” adalah sinonim kalimat “al-yamin”. Dapat dipahami juga bahwa “al-dzimmah” adalah sebagaimana “al-ahdi” dan “al-mitsaq”, maka barang siapa berkata “Jaminan Allah wajib atas diriku, aku akan melakukannya”, maka itu adalah sumpah.

Read more: DOC_1231....