Get Adobe Flash player

Cari

adsense

Statistik

2781571
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1459
1630
4553
2712337
36507
45614
2781571
Your IP: 54.158.208.189
Server Time: 2018-10-16 19:50:13

Zam Zami Aditia @ 14 November 2015 pukul 16:08 

Assalamualaikum wrb  . Muhon maaf ustad ustadah yang saya hormati saya mau tnya  Bolehkah seorang ktrunan biasa menikahi seorang syarifah.?  Trm kasih 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Bolehkah pria keturunan biasa menikahi wanita dari kalangan syarifah? 

Di dalam sebuah literatur Fiqh yang diterbitkan oleh kementrian urusan waqaf dan agama Kuwait (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa diantara hal yang menjadi pertimbangan dalam kesepadanan (kufuah) menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali adalah keturunan (nasab). Kalangan Hambali meredaksikannya dengan kalimat “al mansib”. Hal itu berdasar kepada pernyataan sayyidina Umar yang menyatakan "Sungguh aku akan mencegah farji wanita-wanita yang memiliki kasta keturunan, kecuali dari orang-orang yang sepadan." Di dalam sebuah riwayat diungkapkan “Apa yang dimaksud dengan kesepadanan?”, beliau menjawab “Dalam hal keturunan”, dan karena kalangan arab memegang teguh kesepadanan dalam keturunan, mereka juga membanggakan diri dengan keluhuran nasab dan keturunan, memandang rendah dari menikahi budak, bahkan beranggapan bahwa hal itu merupakan aib dan cacat, dan karena kalangan arab memiliki kelebihan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedang yang menjadi pertimbangan dalam kontek “kasta keturunan” adalah bapak, karena mereka berbangga diri dengan para bapak, bukan para ibu. Orang yang memiliki garis keturunan mulia tidak sepadan dengan orang yang tidak memilikinya. Maka laki-laki yang bapaknya dari kalangan selain arab (bukan sayyid/habib) walaupun ibunya dari kasta arab (syarifah) tidak sepadan dengan wanita dari kasta arab walaupun ibunya dari kalangan selain arab, karena sesungguhnya Allah telah memilih kalangan arab dan membedakannya dari yang lain dengan keistimewaan yang melimpah, sebagaimana yang telah dilegitimasikan oleh beberapa hadits. Imam Malik dan Imam Sufyan al Tsauri lebih memilih untuk tidak menjadikan keturunan sebagai pertimbangan dalam kesepadanan. Diucapkan kepada Imam Malik “Sesungguhnya sebagian kalangan membedakan antara arab dan hamba, maka mereka memandang hal itu sebagai satu hal yang sangat penting.” Imam Malik menjawab “Penduduk Islam secara keseluruhan adalah sepadan antara sebagian dengan sebagian yang lain, hal ini berdasar kepada firman Allah di dalam al Qur’an “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS. al Hujuraat: 13). Imam Sufyan al Tsauri juga memberikan statement dengan menyatakan bahwa kesepadanan tidak dipertimbangkan dalam keturuanan, karena sesungguhnya manusia adalah sama berdasar sebuah hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Tidak ada keistimewaan bagi orang arab atas selain arab, juga tidak bagi selain arab atas orang arab, juga tidak bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, juga tidak bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan taqwa”, dan hal itu diperkuat dengan firman Allah “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. 

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati di dalam kitabnya (I’anah al Thalibin) juga mengkategorikan bahwa kufuah adalah kesepadanan suami dengan istri dalam kesempurnaan atau kerendahan (kasta) selain keselamatan dari aib pernikahan. al-Dimyati juga menuturkan bahwa kesepadanan menjadi pertimbangan dalam pernikahan, namun bukan untuk keafsahan pernikahan (pada lazimnya), maka tidak menutup kemungkinan “kesepadanan” menjadi sebuah pertimbangan untuk keafsahan pernikahan, sebagaimana penikahan secara paksa. al-Dimyati juga mengutip redaksi yang terdapat di dalam kitab “al Tuhfah” yang menyatakan bahwa “kesepadanan” dipertimbangkan dalam pernikahan, (namun) tidak untuk keafsahannya secara mutlak, namun sekiranya tidak ada kerelaan dari pihak wanita sendiri dalam pengebirian dan lemah dzakar, dan hanya beserta wali terdekatnya dalam selain keduanya. Hal senada juga dituangkan di dalam kitab “al Nihayah”. Pernyataan pengarang “namun sekiranya tidak ada kerelaan” merupakan perbandingan untuk kalimat “namun tidak untuk keafsahannya secara mutlak”, maka seakan-akan diucapkan “(kesepadanan) bukan merupakan pertimbangan untuk keafsahan secara mutlak, dan yang menjadi pertimbangan adalah sekiranya tidak ada kerelaan.” (Dikutip dari Imam Ali bin Ali al Syibramulisi, ع ش ). al-Dimyati menjelaskan bahwa pada intinya kesepadanan dipertimbangkan sebagai syarat untuk keafsahan jika tidak ada kerelaan, namun jika dengan kerelaannya, maka kesepadanan tidak menjadi syarat. Dan seterusnya. al-Dimyati menyatakan bahwa ketentuan semacam itu karena Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam pernah menikahkan putrinya dengan pria yang tidak sepadan, beliau juga memerintahkan terhadap Fatimah binti Qais (keturunan Quraisy) untuk menikahi Usamah (seorang budak). Ia pun menikahinya. al-Dimyati menegaskan “Jika kesepadanan merupakan syarat untuk keafsahan pernikahan secara mutlak, maka hal itu (pernikahan Fatimah dengan Usamah) tidak sah”. 

Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al Mustarsyidin) memiliki pandangan yang berbeda dengan pakar Fiqh yang lain. Beliau menyatakan bahwa seorang wanita arab yang memiliki kasta keturunan yang tinggi (syarifah) telah dilamar pria yang tidak memiliki kasta keturunan yang tinggi (bukan sayyid/habib), maka saya tidak menetapkan kebolehan untuk menikah walaupun ia (syarifah) dan walinya rela dan menyetujuinya, karena kasta keturunan yang mulia ini tidak dapat dibandingi. Dan bagi setiap keturunan (Fatimah) al Zahra’ terdapat hak wali terdekat dan wali yang jauh dan persetujuan mereka semua. Ba’alawi juga mengungkapkan bahwa pernah terjadi di Mekah seorang pria arab biasa menikahi seorang syarifah, maka para pemimpin disana yang dibantu oleh para Ulama’ menentang dan menyerang hingga memisahkannya. Hal yang sama juga terjadi di Negara lain. Maka para cendekiawan mengarang dan menulis buku tentang ketidak bolehannya bahkan melepaskan kecemburuan dengan kasta keturunan ini untuk menganggap ringan dan meremehkannya. Ba’alawi juga mengungkapkan bahwa jika para pakar Fiqh menyatakan sah dengan kerelaannya juga walinya, maka Ulama’ terdahulu kami memiliki usaha untuk melemahkan para pakar Fiqh dari menemukan rahasia dibalik hal itu. Selamatkanlah dirimu, maka engkau akan selamat. Jangan menentang, niscaya engkau akan merugi dan menyesal. Ba’alawi juga mengutip pernytaaan seorang Ulama’ (ي) yang mengisyaratkan agar mengikuti jejak Ulama’ terdahulu, karena mereka adalah suri teladan bagi kita dan seterusnya. Kecuali dapat menimbulkan kerusakan dengan tidak menikahkan, maka hal itu diperbolehkan karena darurat, sebagaimana (kebolehan) mengkonsumsi bangkai dalam kondisi darurat. Dan yang saya maksud dengan “kerusakan” adalah kekhawatiran berzina atau melakukan tindakan keji dan tidak ditemukan (dari kalangan sayyid/habib) yang dapat menjaganya, atau tidak ada pria dari kalangan yang sepadan yang menyukainya. (Kebolehan semacam itu) adalah untuk meminimalisir dua keburukan dan kerusakan, bahkan hal itu adalah tindakan yang harus dilakukan oleh semisal hakim tanpa kesepadanan, sebagaimana uraian yang terdapat di dalam kitab “al Tuhfah”. 

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa kesepadanan dalam kasta keturunan bukan merupakan syarat untuk keafsahan penikahan, sehingga diperbolehkan bagi pria dari kasta keturunan biasa menikahi wanita dari kalangan syarifah. Namun jika mengacu kepada pendapat yang dikemukakan oleh Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi, maka pernikahan semacam itu tidak boleh terjadi kecuali dalam kondisi darurat. Wallahu a’lam bis shawab. 

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadzah Ainun Mahya: 

مِنَ الْخِصَال الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْكَفَاءَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ النَّسَبُ، وَعَبَّرَ عَنْهُ الْحَنَابِلَةُ بِالْمَنْصِبِ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْل عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: لأََمْنَعَنَّ فُرُوجَ ذَوَاتِ الأَْحْسَابِ إِلاَّ مِنَ الأَْكْفَاءِ، وَفِي رِوَايَةٍ قُلْتُ: وَمَا الأَْكْفَاءُ؟ قَال: فِي الأَْحْسَابِ (1) ؛ وَلأَِنَّ الْعَرَبَ يَعْتَمِدُونَ الْكَفَاءَةَ فِي النَّسَبِ وَيَتَفَاخَرُونَ بِرِفْعَةِ النَّسَبِ، وَيَأْنَفُونَ مِنْ نِكَاحِ الْمَوَالِي، وَيَرَوْنَ ذَلِكَ نَقْصًا وَعَارًا؛ وَلأَِنَّ الْعَرَبَ فَضَلَتِ الأُْمَمَ بِرَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَالاِعْتِبَارُ فِي النَّسَبِ بِالآْبَاءِ؛ لأَِنَّ الْعَرَبَ تَفْتَخِرُ بِهِ فِيهِمْ دُونَ الأُْمَّهَاتِ، فَمَنِ انْتَسَبَتْ لِمَنْ تَشْرُفُ بِهِ لَمْ يُكَافِئْهَا مَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ، فَالْعَجَمِيُّ أَبًا وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ عَرَبِيَّةً لَيْسَ كُفْءَ عَرَبِيَّةٍ وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهَا عَجَمِيَّةً؛ لأَِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اصْطَفَى الْعَرَبَ عَلَى غَيْرِهِمْ، وَمَيَّزَهُمْ عَنْهُمْ بِفَضَائِل جَمَّةٍ، كَمَا صَحَّتْ بِهِ الأَْحَادِيثُ (2) . وَذَهَبَ مَالِكٌ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِلَى عَدَمِ اعْتِبَارِ النَّسَبِ فِي الْكَفَاءَةِ، قِيل لِمَالِكٍ: إِنَّ بَعْضَ هَؤُلاَءِ الْقَوْمِ فَرَّقُوا بَيْنَ عَرَبِيَّةٍ وَمَوْلًى، فَأَعْظَمَ ذَلِكَ إِعْظَامًا شَدِيدًا وَقَال: أَهْل الإِْسْلاَمِ كُلُّهُمْ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَكْفَاءٌ، لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى فِي التَّنْزِيل: {إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِل لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ} ، (1) وَكَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يَقُول: لاَ تُعْتَبَرُ الْكَفَاءَةُ فِي النَّسَبِ؛ لأَِنَّ النَّاسَ سَوَاسِيَةٌ بِالْحَدِيثِ (2) ، قَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ فَضْل لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ لأَِحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى (3) ، وَقَدْ تَأَيَّدَ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ} . الموسوعة الفقهية الكويتية (34/ 272) 

 

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan: 

وضابطها مساواة الزوج للزوجة في كمال أو خسة ما عدا السلامة من عيوب النكاح ( قوله وهي ) أي الكفاءة  وقوله معتبرة في النكاح لا لصحته أي غالبا فلا ينافي أنها قد تعتبر للصحة كما في التزويج بالإجبار وعبارة التحفة وهي معتبرة في النكاح لا لصحته مطلقا بل حيث لا رضا من المرأة وحدها في جب ولا عنة ومع وليها الأقرب فقط فيما عداهما  اه  ومثله في النهاية وقوله بل حيث لا رضا مقابل قوله لا لصحته مطلقا فكأنه قيل لا تعتبر للصحة على الإطلاق وإنما تعتبر حيث لا رضا  اه  ع ش ) والحاصل ) الكفاءة تعتبر شرط للصحة عند عدم الرضا وإلا فليست شرطا لها .............الى ان قال. وذلك لأنه صلى الله عليه وسلم زوج بناته من غير كفء ولا مكافىء لهن وأمر فاطمة بنت قيس نكاح أسامة فنكحته وهو مولى وهي قرشية ولو كانت شرطا للصحة مطلقا لما صح ذلك  . إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (3/ 377) 

 

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Zafi AL Dimass: 

(مسألة) : شريفة علوية خطبها غير شريف فلا أرى جواز النكاح وإن رضيت ورضي وليها ، لأن هذا النسب الشريف الصحيح لا يسامى ولا يرام ، ولكل من بني الزهراء فيه حق قريبهم وبعيدهم ، وأتى بجمعهم ورضاهم ، وقد وقع أنه تزوّج بمكة المشرفة عربي بشريفة ، فقام عليه جميع السادة هناك وساعدهم العلماء على ذلك وهتكوه حتى إنهم أرادوا الفتك به حتى فارقها ، ووقع مثل ذلك في بلد أخرى ، وقام الأشراف وصنفوا في عدم جواز ذلك حتى نزعوها منه غيرة على هذا النسب أن يستخفّ به ويمتهن ، وإن قال الفقهاء إنه يصح برضاها ورضا وليها فلسلفنا رضوان الله عليهم اختيارات يعجز الفقيه عن إدراك أسرارها ، فسلَّم تسلم وتغنم ، ولا تعترض فتخسر وتندم. وفي ي المتقدم ما يومىء إلى ما أشرنا إليه من اتباع السلف ، إذ هم الأسوة لنا والقدوة ،................الى ان قال ، اللهم إلا إن تحققت المفسدة بعدم التزويج فيباح ذلك للضرورة ، كأكل الميتة للمضطر ، وأعني بالمفسدة خوف الزنا ، أو اقتحام الفجرة أو التهمة ولم يوجد هناك من يحصنها ، أو لم يرغب من أبناء جنسها ارتكاباً لأهون الشرين وأخف المفسدتين ، بل قد يجب ذلك من نحو الحاكم بغير الكفء كما في التحفة. بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 439( 

 

Daftar Pustaka:

1. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. XXXIV/ 272

2. I’anah al Thalibin. I/ 160

3. Bughyah al Mustarsyidin. I/ 439

 

=========

 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

 

EDITOR:

Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1676325665914320/)

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1676325665914320/)

Imam Qulyubi @ 3 November 2015 pukul 16:08 

Assalamu alaikum

Seorang suami menceraikan istrinya (tolaq roj'i) kemudian dalam masa iddah si suami merujuk istrinya dengan cara menjima'nya. 

pertanyaan : Bagaimanakah hukum ruju'nya , Sah apa Tidak ? terimaksih 

~~~~~~~~~ 

Read more: DOC_946....

Ali Yasin Al-manduri @ 8 Oktober 2015 pukul 23:45 

Assalamu alaikum wr wb 

ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺭﻕ ﻓﻠﻴﻨﻈﺮ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺃﻳﻦ ﻳﻀﻊ ﻛﺮﻳﻤﺘﻪ 

saya menemukan redaksi hadist ini dalam sebuah kitab sepintas memberi pemahaman bahwa nikah adalah perbudakan tolong jelaskan maksud dan penjelasan hadist di atas 

~~~~~~~~~ 

JAWABAN: 

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. 

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ 

Mohon penjelasan tentang hadits Nabi “Pernikahan adalah Perbudakan”? 

Hujjah Al-Islam; Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad; Imam Besar; Abu Hamid al-Ghazali yang populer dengan sebutan imam al Ghazali di dalam kitabnya (Ihya’ Ulum al Din) merekomendasikan bahwa wajib bagi seorang wali untuk menjaga budi pekerti laki-laki yang menjadi suami (anaknya), lihatlah kemuliaanya, maka jangan menikahkannya dengan laki-laki yang buruk naluri dan perangainya, atau lemah keagamaannya, atau malas dari pelaksanaan ibadah, atau tidak sepadan dalam keturunannya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda “Pernikahan adalah ibarat perbudakan, maka hendaknya salah satu dari kalian melihat dimana akan meletakkan dan memposisikan kemuliannya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr al Tauqani di dalam kitab “Ma’asyirah al Ahlin” dengan derajat “mauquf” atas ‘Aisyah dan Asma’ putri sahabat Abu Bakar. al Baihaqi mengklaim dan meriwayatkan hadits tersebut dengan derajat “marfu’”, namun derajat “mauquf” adalah lebih autentik (ashah). al-Ghazali juga mengingatkan bahwa bersikap selektif bagi perempuan yang akan menikah adalah yang terpenting, karena ia adalah laksana budak dalam pernikahan dan tidak ada opsi baginya. Sedang suami memiliki kewenangan atas perceraian dalam segala situasi dan kondisi. Dan ketika seorang wali menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki dzalim, atau pelaku dosa, atau pelaku bid’ah, atau peminum minuman keras, maka ia telah berbuat dosa atas agamanya serta melahirkan murka Allah karena telah memutuskan hak bersilaturrahmi dan tidak bersikap selektif dalam memilih. Hal senada juga diuraikan oleh Sayyid Sabiq di dalam kitabnya (Fiqhu al Sunnah), beliau juga menampilkan sebuah hadits Nabi yang menyatakan “Barang siapa menikahkan (anak) perempuannya yang mulia dengan (laki-laki) pelaku dosa, maka ia telah memutuskan kekerabatannya.” HR. Ibnu Hibban dengan sanad yang sahih) 

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hadits Nabi “Pernikahan adalah perbudakan” adalah sebuah rekomendasi dan peringatan agar berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih calon pasangan hidup. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan: 

ويجب على الولي أيضا أن يراعي خصال الزوج ولينظر لكريمته فلا يزوجها ممن ساء خلقه أو خلقه أو ضعف دينه أو قصر عن القيام بحقها أو كان لا يكافئها في نسبها قال صلى الله عليه و سلم النكاح رق فلينظر أحدكم أين يضع كريمته // حديث النكاح رق فلينظر أحدكم أين يضع كريمته رواه أبو عمر التوقاني في معاشرة الأهلين موقوفا على عائشة وأسماء ابنتي أبي بكر قال البيهقي وروى ذلك مرفوعا والموقوف أصح //  والاحتياط في حقها أهم لأنها رقيقة بالنكاح لا مخلص لها والزوج قادر على الطلاق بكل حال ومهما زوج ابنته ظالما أو فاسقا أو مبتدعا أو شارب خمر فقد جنى على دينه وتعرض لسخط الله لما قطع من حق الرحم وسوء الاختيار . إحياء علوم الدين - (ج 2 / ص 41)

  

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Malik: 

اختيار الزوج : وعلى الولي أن يختار لكريمته، فلا يزوجها إلا لمن له دين وخلق وشرف وحسن سمت، فان عاشرها عاشرها بمعروف، وإن سرحها سرحها بإحسان. قال الامام الغزالي في الاحياء: والاحتياط في حقها أهم، لانها رقيقة بالنكاح لا مخلص لها، والزوج قادر على الطلاق بكل حال. ومهما زوج ابنته ظالما أو فاسقا أو مبتدعا أو شارب خمر، فقد جنى على دينه وتعرض لسخط الله لما قطع من الرحم وسوء الاختيار. قال رجل للحسن بن علي: إن لي بنتا، فمن ترى أن أزوجها له؟ قال: زوجها لمن يتقي الله، فان أحبها أكرمها، وإن أبغضها لم يظلمها. وقالت عائشة: النكاح رق، فلينظر أحدكم أين يضع كريمته. وقال صلى الله عليه وسلم: 0 من زوج كريمته من فاسق فقد قطع رحمها). رواه ابن حبان في الضعفاء من حديث أنس، ورواه في الثقات من قول الشعبي باسناد صحيح. فقه السنة - (ج 2 / ص 24) 

 

Referensi:

1. Ihya’ Ulum al Din. II/ 41

2. Fiqhu al Sunnah. II/ 24 

========= 

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

 

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Ro Fie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

 

PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik Hafidzahullah

 

EDITOR:

Al-Ustadzah Naumy Syarif Hafidzahallah

 

(Link Diskusi:https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1667638936782993/)